EtIndonesia. Aku bukanlah seseorang yang pandai bergaul, atau dalam istilah umumnya, “nggak terlalu bisa membawa diri”. Ironisnya, aku justru ingin menulis sebuah artikel tentang hubungan antarmanusia. Tapi sejujurnya, aku sangat paham seluk-beluk relasi sosial. Inti dari hubungan antarmanusia, jika diringkas, sebenarnya cuma empat kata: mengundang makan – undangan makan .
Misalnya, saat kamu ingin meminta bantuan seseorang, kamu biasanya harus mengundangnya makan terlebih dulu. Dalam proses makan itu, kalau kamu sudah lihai dalam urusan pergaulan, kamu tak akan langsung menyampaikan permintaanmu. Kamu akan mengarahkan pembicaraan dengan cermat, sampai tamumu secara tidak langsung mendorongmu untuk menceritakan kesulitanmu. Kebetulan, masalah yang menurutmu sulit itu, bagi dia mungkin hanya butuh sedikit usaha. Saat suasana mulai cair setelah beberapa putaran minuman, dia pun bersedia membantu dengan senang hati. Kamu bahkan sampai merasa tak enak sendiri untuk bilang: “Kalau memang sulit, tak usah dipaksakan.”
Dan begitulah, persoalan hidupmu terselesaikan dalam sebuah acara makan bersama. Saat Lebaran, Tahun Baru Imlek, menjenguk keluarga, hajatan, atau pemakaman—semuanya adalah momen di mana hubungan antarmanusia dibina dan diperkuat melalui acara makan bersama.
Klasifikasi dan Asal-Usul Relasi Sosial
Setelah membahas esensinya, mari kita lihat jenis-jenis hubungan antarmanusia serta bagaimana hubungan-hubungan itu terbentuk dan berubah seiring waktu. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Demi bertahan hidup dan berkembang, manusia melakukan pembagian kerja, dan dari situlah terbentuk jaringan sosial yang rumit dan erat.
Hubungan sosial dapat dibagi menjadi beberapa kategori:
· Berdasarkan hubungan darah: disebut hubungan kekerabatan atau keluarga besar.
· Berdasarkan pekerjaan: disebut hubungan antarrekan kerja.
· Berdasarkan organisasi atau sistem: disebut hubungan sesama anggota (misalnya sesama kader/anggota partai).
· Berdasarkan hobi dan minat: disebut hubungan pertemanan.
· Berdasarkan proses pendidikan: disebut hubungan antar teman sekolah atau guru-murid.
Hubungan-hubungan ini seringkali saling bertumpuk tergantung waktu dan tempat. Misalnya, di masyarakat agraris, hubungan antara kamu dan keluargamu bisa saja mencakup semua kategori: sebagai kerabat, sebagai rekan kerja di ladang, bahkan bisa jadi teman belajar atau hubungan guru-murid.
Dan inilah yang menarik: semakin banyak jenis hubungan yang tumpang-tindih, semakin kuat pula keterikatan yang terbentuk. Dasar dari keterikatan ini disebut komunitas kepentingan bersama. Selama kepentingan itu tetap sejalan, hubungan akan harmonis dan solid. Tapi begitu kepentingan mulai berbenturan, hubungan itu bisa runtuh seketika.
Seperti contoh dalam sejarah: Kaisar Tang Taizong membunuh saudara-saudaranya sendiri demi kekuasaan, sementara Kaisar Tang Xuanzong justru hidup akur dengan saudara-saudaranya. Dua pribadi ini sejatinya sama saja—yang membedakan hanyalah posisi dan benturan kepentingan mereka.
Perkembangan Relasi Sosial Sepanjang Sejarah
Mari kita telusuri bagaimana relasi sosial terbentuk dan berkembang di berbagai periode sejarah:
1. Masa Dinasti Zhou: Sistem Feodalisme dan Keluarga
Pada masa agraris awal seperti era Dinasti Zhou, para penguasa menerapkan sistem feodal demi stabilitas negara. Mereka membagi tanah dan kekuasaan berdasarkan garis keturunan dan hubungan keluarga besar. Dalam sistem ini, hubungan antar individu meliputi relasi darah, hubungan penguasa-rakyat, dan bahkan hubungan guru-murid.
Untuk mempererat jaringan kekuasaan ini, para bangsawan rutin melakukan upacara penghormatan kepada kaisar, dan sering kali mengatur pernikahan antar keluarga bangsawan. Namun seiring berjalannya waktu, hubungan ini hanya tersisa dalam bentuk ikatan darah dan kepentingan. Seorang saudara kandung hari ini bisa jadi hanya orang asing bermarga sama bagi keturunan kita nanti. Kekuasaan yang semula dibangun di atas kekerabatan pun mulai goyah dan hancur.
2. Masyarakat Bawah Agraris: Saudara Sekaligus Rekan Kerja
Di kalangan rakyat biasa, kebutuhan untuk membuka dan menggarap lahan menjadikan kelahiran anak laki-laki sebagai kebutuhan mendesak, baik dari sisi biologis maupun ekonomi. Ungkapan seperti “saudara sekandung di rumah, ayah dan anak berperang bersama” adalah cerminan paling jujur.
Dengan meningkatnya jumlah keluarga bermarga sama, mereka mulai menetap dan membentuk desa-desa atau kota kecil yang dinamai sesuai marga mereka. Dalam sistem ini, desa dibangun dengan struktur piramida antara klan besar dan klan kecil. Mereka hidup berdampingan, bekerja sama, dan melindungi satu sama lain dari ancaman luar. Hubungan mereka menjadi sangat erat.
Namun, waktu terus berjalan. Ikatan itu pun kembali disederhanakan menjadi urusan darah dan kepentingan. Klan besar mulai menindas klan kecil, merebut tanah dan kekayaan mereka. Pada akhirnya, kepala klan besar menjadi tuan tanah sekaligus kepala desa, dan semua kerabat satu marga hanyalah buruh tani yang bekerja untuknya. Hubungan kekerabatan berubah menjadi hubungan majikan-buruh yang berdarah. Sejarah 2.000 tahun terakhir penuh dengan air mata dan darah para petani.
Era Modern: Hubungan Sosial yang Melemah
Memasuki masyarakat modern, teknologi dan mekanisasi telah membebaskan manusia dari keterikatan tanah. Hubungan berdasarkan darah dan kerja bersama secara perlahan terurai. Ketika komunitas kepentingan bersama tidak lagi ada, maka hubungan antarmanusia pun menjadi renggang. Kekerabatan yang dulu erat menjadi rapuh. Kebijakan pembatasan jumlah anak memperparah situasi ini, hingga muncul fenomena “putus hubungan keluarga”.
Kita harus menyadari dan menghadapi perubahan ini dengan bijak. Menerimanya bukan berarti menyerah, melainkan menyesuaikan diri dengan zaman yang terus berubah.(jhn/yn)


