Insiden air ledeng berbau kotoran di Distrik Yuhang, Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Tiongkok memicu kepanikan warga hingga memborong air mineral. Namun, penjelasan dari pemerintah justru membuat publik semakin tidak percaya.
Baru-baru ini, warganet dari berbagai provinsi di Tiongkok melaporkan bahwa air ledeng di daerah mereka mengalami perubahan kualitas: berbau, keruh, berubah warna, dan busuk. Masalah keamanan air minum ini menimbulkan kekhawatiran serius.
EtIndonesia. Sejak 16 Juli, warga Distrik Yuhang, Hangzhou, menemukan air ledeng di rumah mereka berbau busuk dan berwarna kekuningan, serta mengandung kotoran asing. Betapa busuknya bau tersebut? Ada yang mengatakan seperti bau tangki septik, selokan, bahkan seperti bangkai tikus atau siput mati. Netizen pun menyindir Hangzhou sebagai “Kota Kotor”.
Pada 19 Juli, pemerintah Hangzhou mengumumkan bahwa bau tersebut disebabkan oleh senyawa sulfur yang dihasilkan oleh alga, dan berkali-kali menyatakan bahwa kualitas air “memenuhi standar”. Namun, masyarakat tetap tidak percaya.
Beberapa warga bahkan mandi di luar kawasan tempat tinggal mereka selama beberapa hari berturut-turut. Mesin penjual air minum di beberapa kompleks perumahan pun kehabisan stok.
Pada 22 Juli, jurnalis investigasi ternama Tiongkok, Deng Fei, membagikan surat dari seorang warga Hangzhou di media sosial:
“Kakak Fei, adakah cara untuk terus menyuarakan tuntutan kami sebagai warga? Laporan dari pusat pengendalian penyakit tentang air limbah itu sama sekali tidak bisa dipercaya. Kami terus mengalirkan air setiap hari, tapi semakin hari justru makin kotor… Harus bagaimana? Ini hasil air seharian penuh di rumah saya—semakin dialirkan, semakin kotor.”
Baru-baru ini, warga dari berbagai daerah seperti Chongqing, Hubei, Jiangxi, Anhui, Guizhou, Guangxi, dan Guangdong melaporkan di media sosial bahwa air ledeng di tempat mereka telah berubah kualitas—menjadi seperti tinta, kuning, cokelat, berbau minyak, dan mengandung kotoran asing.
Pada 17 Juli, beberapa netizen melaporkan bahwa air ledeng di beberapa wilayah di Kabupaten Yifeng, Jiangxi, berwarna kuning. Salah satu warga mengatakan sejak awal Juli hingga sekarang, air ledeng kadang-kadang berwarna seperti kopi. Ada juga yang mengatakan air di Yifeng seringkali warnanya seperti teh susu dan tidak ada yang peduli.
Netizen “烦恼远离我” dari Yifeng mengatakan: “Air ledeng kadang tiba-tiba berubah jadi kuning, seperti bir. Sering terjadi. Tolong, apakah air seperti ini masih layak digunakan? Tidak adakah yang mau mengurus ini?”
Warga Yifeng lainnya, “筱茹”, menulis: “Inilah kondisi air minum di Kabupaten Yifeng yang katanya kota percontohan provinsi! Mirip sekali dengan teh merah!”
Pada 20 Juli, air ledeng di Kabupaten Min, Kota Dingxi, Provinsi Gansu, berwarna cokelat seperti kopi. Seorang blogger menyindir:
“Kalian di sana masih lumayan. Di Yuhang airnya kayak disiram kotoran, kalian cuma disiram lumpur. Terima kasih, ya!”
Pada 21 Juli, warga dari Kota Xian, Kabupaten Yindian, Kota Suizhou, Provinsi Hubei, juga memposting video yang menunjukkan air ledeng berwarna keruh dan berbau busuk. Netizen bernama “Zhang Zong” mengatakan:
“Ini air minum warga Yindian. Air di parit pun masih lebih bersih dari ini.”
Pada 18 Juli, akun “绿色好心情” dari Hubei berkata: “Saya menampung air satu baskom, sudah dilapisi dua lapis kain kasa, tapi air yang keluar tetap kotor. Sampai kapan para pemimpin di pemerintah Yindian akan berpura-pura tuli? Kadang, air dari pemanas air baunya sangat busuk, apalagi setelah hujan, sampai-sampai buat cuci muka pun risih.”
Pada 3 Juli, netizen dari Guangzhou bernama “saliya高定女装” menulis: “Dari 29 Juni sampai 3 Juli, kualitas air di Guangzhou sangat bermasalah. Kenapa tidak ada berita yang melaporkan? Kenapa pemerintah belum juga menyelesaikannya?”
Pada 25 Juni, akun “Star sea” dari Kabupaten Dianjiang, Chongqing, berkata: “Pertama kalinya saya lihat air ledeng berwarna coklat seperti kopi. Kami pakai setiap hari, tapi sering airnya tiba-tiba sangat kotor. Kadang ada endapan, kadang airnya kuning, terakhir bahkan berbau seperti cairan disinfektan.” (Hui/asr)
Laporan oleh Li Enzhen /Li Quan


