EtIndonesia. Pada 17 Juli 2025, juru bicara Falun Gong, Zhang Erping, dalam sebuah forum tentang penindasan transnasional oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang digelar di Capitol Hill, Washington DC, Amerika Serikat menyatakan bahwa PKT telah melakukan terorisme transnasional terhadap kelompok Falun Gong di Amerika Serikat. Ia mendesak pemerintah AS untuk mengambil tindakan nyata menghentikan hal tersebut.
“Saya ingin menggunakan istilah ‘terorisme transnasional dan organisasi kriminal’ untuk secara tepat menggambarkan apa yang sedang terjadi (penindasan transnasional PKT terhadap Falun Gong di AS),” katanya.
Ia menegaskan bahwa tantangan yang dihadapi komunitas Falun Gong di Amerika bukan sekadar isu kebebasan sipil, tetapi masalah keamanan nasional dan hak-hak konstitusional yang sah. Menurutnya, banyak perusahaan AS merasa takut untuk menjalankan hak-hak kebebasan mereka karena tekanan dari rezim PKT.
Falun Gong juga dikenal sebagai Falun Dafa, metode latihan jiwa dan raga pada prinsip-prinsip Sejati, Baik, dan Sabar, serta dilengkapi dengan serangkaian latihan meditasi. Sejak diperkenalkan pada awal 1990-an, praktik ini berkembang pesat di Tiongkok, dengan perkiraan 70 juta hingga 100 juta orang telah mempelajarinya pada tahun 1999.
Partai Komunis Tiongkok (PKT) tidak lagi menyambut manfaat kesehatan dari Falun Gong ketika menyadari bahwa praktik tersebut juga merupakan suatu praktik keayakinan yang berakar pada budaya tradisional Tiongkok, menurut Zhang.
Beberapa bulan setelah pernyataan itu diberitakan, pada 20 Juli 1999, PKT melancarkan kampanye besar-besaran untuk melenyapkan Falun Gong—sebuah penganiayaan yang masih berlangsung hingga sekarang.

PKT Memanipulasi Media dan Platform Sosial AS
Zhang menjelaskan bahwa PKT menggunakan media arus utama dan media sosial AS untuk menyebarkan disinformasi dan menyerang Falun Gong serta Shen Yun Performing Arts.
“Pertama-tama, PKT telah memanfaatkan media dan platform kebebasan informasi kita (AS).”
Ia merujuk pada laporan dari Profesor Gary King dari Harvard University, yang menemukan bahwa hanya dalam se tahun, PKT menerbitkan 450 juta berita palsu dan unggahan manipulatif di media sosial. Dan, itu adalah data dari beberapa tahun lalu.
“Sekarang, mereka lebih ekstrem. Mereka menggunakan media arus utama dan platform media sosial untuk menyebarkan propaganda palsu. Mayoritas sasarannya adalah Falun Gong karena ini adalah masalah besar bagi mereka (PKT),” ujarnya.
Sejak Agustus 2024, The New York Times telah menerbitkan 12 artikel yang menyerang Shen Yun dan Falun Gong.
Pada Maret 2025, The Epoch Times melaporkan, berdasarkan data dari alat analisis media sosial BuzzSumo (berbasis di Brighton, Inggris), bahwa artikel pertama NYT yang menyerang Shen Yun (Agustus 2024) telah dibagikan lebih dari 28.000 kali di platform X (dulu Twitter). Artikel tersebut menjadi yang paling banyak dibagikan di platform itu dalam setahun, dan yang kedua dalam dua tahun terakhir.
Namun, hanya 6% dari akun yang membagikannya memiliki lebih dari 50 pengikut, sementara 80% tidak memiliki pengikut sama sekali — sebuah pola penyebaran yang tidak normal dan sangat terindikasi manipulasi terorganisir.
Para ahli menyatakan, operasi dasar dilakukan oleh “pasukan siber 50 cent” (bayaran), dan operasi yang lebih kompleks bisa jadi dilakukan langsung oleh agen intelijen atau militer PKT (PLA).
PKT Kirim Email Teror Menggunakan Identitas Palsu
Zhang juga mengungkap bahwa PKT mengirimkan email ancaman teroris, termasuk ancaman bom, dengan memalsukan nama praktisi Falun Gong atau tokoh publik lainnya.
“Jumlah email yang dikirim sangat banyak. Hanya Shen Yun saja telah menerima lebih dari 160 email berisi ancaman,” ujarnya.
Menurut Falun Dafa Information Center, sejak Maret 2024 hingga Juni 2025, telah terjadi 154 insiden ancaman anonim yang mengatasnamakan atau menargetkan Falun Gong. Target termasuk teater pertunjukan Shen Yun, sekolah pelatihan, para praktisi Falun Gong, serta anggota Kongres AS dan institusi yang mendukung Falun Gong.
Contohnya, pada 14 Juni 2025, sebuah email palsu mengatasnamakan pendiri Falun Gong dan menggunakan alamat email redaksi The Epoch Times, berisi ancaman bahwa seseorang akan menyamar sebagai praktisi Falun Gong untuk melakukan penembakan massal dan pengeboman pada parade militer peringatan 250 tahun Angkatan Darat AS di Washington DC.
PKT Merusak Sistem Hukum AS
Zhang mengatakan bahwa PKT telah mengacaukan sistem hukum AS. “Orang asing yang memiliki hubungan dengan PKT mengajukan gugatan perdata terhadap warga AS di pengadilan Amerika,” imbuhnya.
Contohnya, pada November 2024, seorang mantan penari Shen Yun menggugat Shen Yun Performing Arts dengan bantuan firma hukum ternama AS. Sebelum menggugat, ia dan suaminya melakukan perjalanan ke Beijing dan Shanghai. Setelah itu, sikap mereka berubah total.

Samira Bouaou/The Epoch Times
Zhang menambahkan: “Saya datang ke AS pada tahun 1984, ketika Reagan bersaing dengan Bush untuk kursi presiden. Saat itu, Perang Dingin masih berlangsung antara Barat dan Uni Soviet. Tidak terbayangkan saat itu bahwa warga negara Uni Soviet bisa mengajukan gugatan sipil terhadap entitas atau perusahaan AS di pengadilan AS — tapi sekarang ini benar-benar terjadi.”
PKT Gunakan Warga AS untuk Serang Falun Gong
Contoh lainnya adalah Alex Scilla, warga New York yang pada 2023 menggugat markas Shen Yun (biara Longquan) dengan dalih masalah lingkungan. Ia diketahui telah memantau kegiatan praktisi Falun Gong dan empat kali menggugat Shen Yun. Namun, seorang hakim federal menolak semua gugatan dan melarangnya mengajukan banding karena tidak berdasar.
Sebelum pindah ke New York, Alex Scilla tinggal selama 15 tahun di Tianjin, Tiongkok. Ia mendirikan sebuah organisasi bernama “Komite Promosi Lingkungan dan Pembangunan Berkelanjutan Central New York” yang diduga hanya sebagai kedok untuk mengganggu Shen Yun melalui jalur hukum. Sebulan setelah organisasi itu didirikan, Scilla mendirikan perusahaan baru di Tiongkok.
PKT Merusak Kebebasan Dunia Barat
Zhang menyoroti bahwa meski sempat ditutup, beberapa Institut Konfusius di AS masih beroperasi dengan nama baru. Pada Agustus 2020, Departemen Luar Negeri AS secara resmi mengklasifikasikan Institut Konfusius sebagai misi luar negeri milik PKT.
“Jika Anda melihat dunia akademik kita, masih banyak Institut Konfusius yang didanai oleh Tiongkok dan menyebarkan propaganda PKT. Saya pernah menjadi peneliti tamu di Universitas Stockholm, dan Institut Konfusius Nordik saat itu mencoba membatalkan hak akademis saya. Mereka berusaha menghalangi penelitian saya. Jadi mereka ada di mana-mana, termasuk di Amerika, meski beberapa sudah berganti nama. Tapi mereka masih terus berusaha menghancurkan kebebasan di AS,” ujarnya.
Zhang: Pemerintah AS Harus Bertindak
Zhang mengimbau agar pemerintah AS mengambil langkah nyata menghadapi penindasan transnasional yang dilakukan oleh PKT.
“Kebebasan berbicara, kebebasan berkeyakinan, kebebasan hati nurani kita… semua itu sedang diserang dan dirusak oleh tindakan lintas negara dari PKT. Jadi, kita benar-benar harus bertindak nyata dan konkret,” pungkasnya. (Hui/asr)
Disadur dari Epoch Times /Zhang Yi/Li Hong


