EtIndonesia. Seorang teman saya pernah mengeluh begini,: “Anak zaman sekarang makin susah diatur. Kita ajak ngomong, dia cuma jawab ‘oh’. Kita suruh belajar, dia malah melotot. Kita minta tidur cepat, dia malah asyik main HP sampai tengah malam.”
Katanya lagi: “Padahal semua yang saya lakukan demi kebaikannya—saya masakin, kerjain pekerjaan rumah, temenin ngerjain PR—tapi kok dia enggak menghargai, malah kayak anggap saya musuh?”
Keluhan seperti ini bukan hal baru. Banyak orangtua merasa makin banyak mengatur, anak justru makin menjauh.
Padahal justru di situlah letak persoalannya.
Kadang, semakin banyak kita mengatur, anak malah semakin tidak bertanggung jawab.
Keberhasilan terbesar dalam mendidik anak bukan soal seberapa ketat kita mengatur, melainkan tahu kapan harus mundur dan memberi ruang pada dua hal penting ini:
1. Urusan Belajar — Semakin Diawasi, Semakin Kacau
Saya kasih contoh nyata.
Anak sepupu saya, waktu masuk SMP, nilai-nilainya cukup bagus. Matematika dan Bahasa Inggris masuk 10 besar di kelas.
Sepupu saya senang bukan main. Setiap pulang kerja langsung duduk mengawasi anaknya belajar, bisa dua jam nonstop, bahkan napas pun ditahan.
· Ada satu huruf salah, langsung dikoreksi.
· Satu kosa kata belum hafal, langsung dimarahi.
· Bahkan dia pasang kamera di kamar anaknya untuk mengawasi dari jauh.
Awalnya, si anak diam saja. Tapi lama-lama… dia meledak juga.
Setelah masuk masa puber, sikapnya berubah drastis:
Pulang sekolah, malah ke rumah temannya. Dibilang sudah hafal pelajaran, ternyata bohong. Ujian pun tanpa persiapan.
Hasilnya? Nilainya jeblok. Ranking terus turun.
Sepupu saya marah besar, sampai melempar tas anaknya dan berteriak: “Kamu mau bikin mama mati ya?!”
Anaknya pun tak kalah sengit: “Aku enggak mau diatur! Aku malas belajar!”
Belajar itu bukan seperti memasang baut pada mesin. Anak bukan robot.
Semakin kita menekan, anak jadi tercekik. Emosinya menumpuk. Dan begitu dia mulai memberontak, semua kontrol pun hilang.
Belajar adalah urusan anak.
Tugas orangtua bukan terus-terusan mengawasi, tapi menciptakan lingkungan yang stabil, hangat, dan mendukung.
Percayalah, anak itu tahu nilai ujian penting. Mereka tahu siapa yang pintar punya masa depan.
Yang mereka butuhkan bukan tekanan, tapi bimbingan yang tepat.
2. Urusan Berteman — Jangan Terlalu Ikut Campur
Saat anak sudah masuk usia remaja, biarkan mereka memilih sendiri pertemanan mereka.
Saya punya rekan kerja yang terlalu ikut campur dalam urusan anaknya:
· Membongkar isi chat WhatsApp anaknya.
· Menginterogasi siapa saja teman si anak.
· Begitu tahu anaknya dekat dengan teman yang dianggap “nakal”, langsung minta guru memindahkan tempat duduk dan melarang habis-habisan.
Hasilnya?
Anaknya jadi sembunyi-sembunyi. Sering bohong. Akhir pekan selalu cari alasan untuk keluar rumah.
Sampai suatu hari, sang ibu menghadang si anak dan bertanya: “Mau ke mana?”
Jawaban si anak menusuk hati: “Bisakah Ibu tidak usah ikut campur? Ibu itu sakit jiwa, ya?!”
Seketika sang ibu menangis, berkata:“Ibu hanya takut kamu salah jalan…”
Sebenarnya, anak tahu orangtuanya peduli. Tapi dalam benaknya, sikap orangtua itu = tidak percaya dan tidak menghargai privasi.
Semakin diatur, semakin mereka melawan. Semakin dilarang, semakin mereka penasaran.
Padahal berteman juga bagian dari proses tumbuh. Mereka akan belajar banyak: bagaimana bersosialisasi, membedakan teman yang baik dan buruk, menerima dan memperbaiki kesalahan.
Kalau semua ditentukan orangtua, anak tak pernah belajar membuat penilaian sendiri.
Lepaskan sedikit. Maka mereka akan belajar bertanggung jawab. Selama terus dikekang, mereka takkan pernah bisa dewasa.
3. Bukan “Tidak Mengatur”, Tapi “Mengatur dengan Cara yang Berbeda”
Mungkin kamu berpikir: “Kalau enggak saya awasi belajarnya, enggak saya larang bergaul, nanti anak saya malah salah jalan dong?”
Saya paham kekhawatiran itu. Tapi…
Ini bukan soal lepas tangan, tapi soal mengatur dengan cara yang lebih cerdas dan tepat.
Cara ①: Sedikit Bicara, Lebih Banyak Mendengar — Jadi “Cermin” Anak
Kadang, anak bukannya tidak mau bicara, tapi capek dengar ceramah.
Contoh:
Kita tanya: “Nilai ujiannya gimana?”
Anak jawab : “Lumayan.”
Kita langsung menyambar: “Pasti kamu enggak belajar sungguh-sungguh, kan? Mama sudah bilang…”
Dan… anak langsung tutup hati. Tidak akan cerita apa-apa lagi.
Coba pakai teknik “mendengarkan dengan mengulang”.
Misalnya anak bilang: “Ujian tadi kacau, sial banget.”
Jawaban kita: “Kedengarannya kamu kecewa banget, ya. Mungkin karena kamu ngerasa enggak maksimal?”
Dengan kalimat seperti ini, anak merasa : “Wow, aku didengarkan. Aku dimengerti.”
Dan biasanya mereka akan lanjut cerita.
“Padahal aku bisa, cuma tadi panik banget jadi jawab ngawur.”
Nah, di titik ini barulah kita bisa masuk: “Kira-kira kita bisa cari cara supaya tidak panik lagi pas ujian, gimana?”
Komunikasi itu bukan tentang banyak bicara, tapi tentang membangun jembatan ke hati anak.
Cara ②: Buat Aturan Bersama, Ajari Anak Menilai Teman
Daripada langsung melarang: “Jangan main sama anak itu!”
Lebih baik ajak diskusi: “Ayah/Bunda enggak melarang kamu berteman. Tapi, yuk kita pikir bareng, teman seperti apa yang bisa bikin kamu makin baik?”
Ajak anak merenung:
· Apakah temanmu membantu kamu maju atau justru menarik kamu ke bawah?
· Saat kamu salah, dia menegur atau malah menyemangati untuk lanjut salah?
· Saat kamu sedih, dia menghibur atau menertawakan?
Lalu buatlah “aturan berteman” bersama, misalnya:
· Jangan sampai pertemanan mengganggu kewajiban belajar.
· Jangan terlibat dalam hal yang melanggar hukum atau moral.
· Kalau merasa tidak nyaman dengan teman, berani cerita ke orang tua.
Ini bukan kontrol total, tapi batasan yang bijaksana.
Saat anak merasa kamu ada di pihak mereka, jadi pelindung sekaligus pembimbing, mereka akan mulai membuka diri.
Penutup: Mendidik Anak Itu Seperti Melepas Layang-layang
Ditarik terlalu kencang, layang-layang tak bisa terbang. Dilepas seluruhnya, dia bisa hilang arah.
Mendidik anak itu soal tahu kapan mengencangkan dan kapan mengendurkan tali.
Berilah mereka kepercayaan. Bangun aturan bersama. Dan yang terpenting, selalu hadir untuk mereka—tanpa menguasai mereka.(jhn/yn)


