EtIndonesia. Dahulu, seorang tukang pos desa bernama Ferdinand Cheval tersandung batu aneh di gunung. Dia mengambil batu itu karena bentuknya unik dan cantik. Warga menyuruhnya membuang batu yang berat itu, tapi Cheval justru bermimpi membangun istana dari batu-batu seperti itu.
Dia mulai mengumpulkan batu setiap hari saat mengantar surat. Lama kelamaan, dia membawa gerobak dan membangun “kastil” yang dibayangkan dari batu-batu indah itu.
Dua puluh tahun kemudian, di tempat terpencil itu berdirilah sebuah istana megah penuh gaya arsitektur yang beragam—dari Islam, Hindu, hingga Kristen. Awalnya dianggap gila, akhirnya dia menjadi legenda setelah media Prancis meliputnya. Bahkan Pablo Picasso datang berkunjung.
Kini, tempat itu dikenal sebagai “Istana Impian Tukang Pos Cheval”, dan di pintu masuk tertulis: “Aku ingin tahu, sejauh mana batu yang punya harapan bisa melangkah.”

Konon, inilah batu pertama yang membuat Cheval tersandung. Ketika sebuah batu memiliki sebuah harapan, dia bukan lagi batu, dan dia tidak lagi diam di dalam tanah. Jika segala sesuatu dalam hidup memiliki harapan, betapa indahnya hidup kita! Pertama-tama, kita sendiri harus memiliki sebuah harapan. Tanpa adanya keinginan, tidak akan ada keajaiban.
Pada tahun 1905, seorang reporter surat kabar Prancis secara tidak sengaja menemukan gugusan kastil ini. Dia terpesona oleh pemandangan dan pola konstruksi kastil-kastil tersebut. Dia menulis sebuah artikel yang memperkenalkan Cheval.
Pesan moral:
Batu yang punya harapan, tak akan tinggal diam di tanah. Jika setiap hal dalam hidup kita memiliki “keinginan”, hidup kita akan jadi luar biasa.
Karena itu— “Tanpa keinginan, tak akan ada keajaiban.”(jhn/yn)


