Tiga Kisah Nyata yang Menguras Air Mata

EtIndonesia. Aku pernah menyaksikan sebuah kematian yang luar biasa tragis dan menggetarkan. Sejak saat itu, aku tak sanggup lagi menyakiti kehidupan sekecil apa pun…

1. Lompatan Tragis Kambing Gunung

Itu terjadi saat kami sedang memburu sekelompok kambing gunung yang dikenal sebagai banling—hewan menyerupai kambing peliharaan, lincah, jinak, dan sangat disukai para pemburu. Hari itu, kami berhasil menggiring lebih dari 60 ekor banling hingga terpojok di tebing kematian di Pegunungan Bulang. Rencananya, kami akan memaksa mereka melompat ke jurang agar tewas tanpa perlu menghabiskan peluru.

Setelah sekitar 30 menit saling menatap diam, seekor pejantan tua tiba-tiba mengembik keras. Seketika, kawanan banling itu terpecah dua: kelompok muda dan kelompok tua. Aku heran, kenapa mereka harus memisah berdasarkan usia?

Pejantan tua itu lalu maju, dengan bulu leher menjuntai hingga dada, wajahnya penuh kerut, dan tanduknya patah sebagian. Dia mengembik pelan ke arah kawanan muda, dan seekor banling remaja pun melangkah maju.

Dua generasi—satu tua, satu muda—berdiri di tepi tebing. Mereka mundur beberapa langkah, lalu… berlari sekuat tenaga. Banling muda melompat lebih dulu, diikuti sang tua tak lama kemudian.

Saat tubuh banling muda mulai melengkung menukik ke bawah, aku sadar, mustahil mereka bisa sampai ke seberang. Tapi tiba-tiba… sesuatu yang menakjubkan terjadi: banling tua yang melompat belakangan itu muncul tepat di bawah kaki si muda pada titik tertinggi lompatan.

Seperti dua pesawat ruang angkasa saling bertaut di udara, si muda menginjak kuat punggung si tua—seolah dari trampolin—dan kembali melonjak naik, memperpanjang lompatannya. Si tua, yang sudah memberikan semua kekuatannya, langsung jatuh bebas—seperti roket pendorong yang habis bahan bakar. Dia pun terjun ke jurang, hancur tak bersisa.

Namun,  banling muda berhasil mendarat di seberang tebing, mengembik bahagia, dan menghilang di balik batu.

Percobaan sukses! Setelah itu, pasangan-pasangan tua lainnya pun mengulangi lompatan tragis ini. Mereka mengorbankan nyawa demi memberikan pijakan terakhir bagi generasi penerus.

Aku tertegun.

Di saat menghadapi kepunahan, kawanan banling ini justru memilih untuk mengorbankan setengahnya demi menyelamatkan yang lain.

Dan para banling tua itu—dengan tenang, tanpa ragu—menyerahkan nyawanya demi masa depan. Sejak hari itu, aku bersumpah tak akan pernah membunuh makhluk hidup lagi.

2. Sapi Tua Mencari Air

Semalam, saat aku menonton program berita di TV Hunan, ada sebuah peristiwa yang membuatku tak kuasa menahan air mata.

Di suatu wilayah padang pasir di Provinsi Qinghai, kekeringan sangat parah. Setiap orang hanya mendapatkan jatah air sebanyak 1,5 liter per hari—air yang harus digunakan untuk minum, memasak, mencuci, bahkan menyiram ternak.

Suatu hari, seekor sapi tua yang biasanya jinak dan patuh lepas dari ikatannya, lalu berjalan menyusuri jalur yang biasa dilewati truk militer pengangkut air. Dia menunggu, dengan penuh harap.

Ketika truk air lewat, sapi itu langsung menghadang. Tentara yang mengemudi tahu aturan ketat: air tidak boleh tumpah, apalagi dibagikan sembarangan. Setiap tetes adalah jatah hidup seseorang.

Namun sapi itu tetap berdiri kokoh, tak tergoyahkan. Waktu terus berlalu, lalu lintas mulai macet. Sopir-sopir marah, ada yang bahkan mencoba mengusir dengan api.

Namun sapi tua itu tetap tak bergeming—seperti gunung, berdiri menantang waktu dan kehausan.

Akhirnya, pemilik sapi datang dan memukulnya keras-keras dengan cambuk. Darah menetes, membasahi tubuhnya, pasir, bahkan matahari senja yang keemasan. Tapi… sapi tua itu tetap tak bergerak.

Tangis meledak. Tentara pengangkut air menangis. Para sopir yang tadi marah pun ikut menangis.

Akhirnya, seorang tentara berkata: “Biarlah aku melanggar aturan hari ini. Aku siap menerima hukuman.”

Dia mengambil baskom kecil, menuangkan air sebanyak 1,5 liter ke dalamnya, dan meletakkannya di hadapan sang sapi.

Namun… sang sapi tua tidak menyentuh air itu. Dia hanya mengangkat kepala, melenguh keras ke langit, seolah memanggil seseorang.

Lalu, dari balik bukit pasir, seekor anak sapi datang berlari. Dia langsung meminum air dalam baskom itu dengan penuh dahaga.

Sapi tua pun menjilati mata anaknya yang masih basah, dan si anak membalas dengan menjilati matanya.

Di mata mereka… ada air mata.

Ketika langit mulai gelap, tanpa aba-aba, ibu dan anak itu berjalan perlahan pulang—meninggalkan keheningan yang menyayat semua orang di sana.

3. Berang-berang Laut Menyusui 

Ini adalah kisah nyata, diceritakan langsung oleh seorang biksu, yang dulunya adalah seorang pemburu laut.

Pada suatu hari, dia berhasil menangkap seekor berang-berang laut betina. Setelah dia menguliti berang-berang itu demi bulunya yang mahal, dia meninggalkannya—masih hidup namun sekarat—di semak-semak.

Ketika kembali sore harinya, dia tak menemukan bangkai berang-berang itu. Dia hanya melihat jejak darah menuju ke sebuah lubang kecil.

Dia pun mengintip ke dalam… dan terperanjat. Ternyata, berang-berang itu masih hidup, dan telah merangkak pulang ke sarangnya—dalam kondisi tak berkulit, kesakitan, dan sekarat.

Dan di dalam sarang, dua anak berang-berang yang baru lahir sedang dengan erat menyusu pada tubuh ibunya yang sudah nyaris mati.

Si pemburu itu gemetar. Dia tak pernah menyangka bahwa hewan pun bisa memiliki cinta ibu sekuat itu—bahkan dalam sekarat, si ibu masih berusaha memberikan air susu terakhirnya untuk anak-anaknya, agar mereka tidak kelaparan.

Saat itulah, pemburu itu menangis tersedu-sedu.

Sejak kejadian itu, dia meninggalkan dunia perburuan, menanggalkan senjatanya, dan menjadi seorang biksu.

Bertahun-tahun kemudian, setiap kali mengenang kembali momen itu, matanya masih berlinang air mata.

Ketiga kisah ini bukan sekadar cerita. Ini adalah jeritan nurani, pengingat bahwa cinta, pengorbanan, dan kasih sayang tidak hanya milik manusia, tapi juga milik seluruh makhluk hidup. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine