EtIndonesia. Banyak sopir ambulans berpengalaman memiliki segudang kisah dramatis. Dalam momen-momen genting yang mempertaruhkan hidup dan mati, mereka menjadi saksi akan cahaya kemanusiaan—bahkan terkadang mengalami hal-hal yang sulit dijelaskan oleh logika atau ilmu pengetahuan. Salah satu kisah penyelamatan yang sangat menyentuh ini memperlihatkan bahwa “kekuatan cinta bisa melampaui batas ruang dan waktu.”
Kisah ini dibagikan oleh seorang netizen yang pernah menjalani wajib militer sebagai petugas pemadam kebakaran pengganti. Cerita ini berasal dari pengalaman pribadi seorang instruktur pelatihan bernama “Zhao Qu.” Menurut sang netizen, semangat dan dedikasi Instruktur Zhao sangat menginspirasi. Selama pelatihan, dia selalu dengan sabar dan penuh perhatian mengingatkan para peserta tentang hal-hal penting yang harus diperhatikan di lapangan, membangkitkan rasa tanggung jawab dan profesionalisme.
Suatu hari, Zhao Qu menerima panggilan darurat. Sebuah kecelakaan terjadi di jalan rawan yang sering dilewati truk pasir dengan kecepatan tinggi dan memiliki jarak pandang yang buruk. Hampir semua kecelakaan di sana selalu berakhir fatal.
Bersama seorang petugas lainnya, Zhao Qu segera menuju lokasi. Di sana mereka menemukan sebuah sepeda motor yang hancur terguling di pinggir jalan. Seorang wanita berambut panjang tergeletak tengkurap di samping motor tanpa gerakan. Saat diperiksa, mereka menemukan luka parah di kepala—otaknya bahkan sudah tersembur keluar. Zhao Qu pun menetapkan status OHCA (meninggal sebelum tiba di rumah sakit). Namun, tiba-tiba terdengar tangisan keras seorang anak perempuan kecil. Dia tergeletak tak jauh dari lokasi kecelakaan dan menangis histeris.
Setelah memeriksa kondisi si anak, mereka menemukan luka lecet dan beberapa patah tulang, namun untungnya tidak dalam kondisi yang mengancam nyawa. Gadis kecil itu terus menangis, memanggil mamanya sambil berkata: “Mama… sakit… sakit sekali…”
Sesuai prosedur, karena satu ambulans hanya boleh membawa satu pasien, dan prioritas diberikan kepada korban yang masih bisa diselamatkan, maka gadis kecil itu lebih dulu dinaikkan ke tandu dan dimasukkan ke dalam ambulans. Mereka pun memanggil ambulans kedua untuk mengevakuasi sang ibu yang sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
Saat ambulans yang membawa sang anak tiba di rumah sakit, seorang petugas keamanan bergegas membantu membuka pintu belakang ambulans. Bersama tim medis, mereka mendorong tandu masuk ke ruang UGD. Zhao Qu dan petugas lainnya lalu mulai mengisi formulir laporan medis.
Namun, karena si anak tidak membawa kartu asuransi maupun identitas, mereka kesulitan mencatat data diri. Meskipun sadarnya penuh, sang anak terlalu emosional untuk bisa menjawab pertanyaan.
Seorang anak tanpa pendamping orang dewasa masuk ke UGD tentu menimbulkan tanda tanya. Saat Zhao Qu sedang berpikir bagaimana mengatasi masalah ini, petugas keamanan yang tadi membantu mendorong tandu mendekat dan bertanya: “Eh, ada apa ya?”
Zhao Qu menjawab: “Gini, anak kecil tadi tidak ada identitas. Kita tidak tahu harus nulis data apaan…”
Tanpa ragu, petugas keamanan itu langsung bilang: “Lho, kenapa tidak tanya aja sama ibunya?”
Zhao Qu tertegun. Saat ambulans tiba tadi, hanya dia dan rekannya yang turun. Sang ibu sudah dinyatakan meninggal dan belum dibawa ke rumah sakit. Tapi…
Petugas keamanan itu menambahkan: “Tadi saya lihat kok, ibunya juga turun dari ambulans bareng kamu. Dia masuk ke ruang UGD ngikutin tandu anaknya, saya lihat sendiri.”
Sambil berkata begitu, dia menunjuk ke arah pintu ruang UGD.
Zhao Qu dan rekannya saling berpandangan, terdiam. Dalam sekejap, semua adegan di lokasi kejadian dan saat menurunkan tandu kembali terlintas di kepala mereka. Mereka yakin betul—tidak ada satu orang pun selain mereka dan anak itu di ambulans tadi.
Petugas keamanan itu hanya terlihat kebingungan. Tiba-tiba terdengar suara sirene ambulans lain, menandakan adanya pasien dalam kondisi kritis. Sejumlah perawat segera berlarian ke luar.
Petugas keamanan itu buru-buru berkata: “Saya bantu dulu ya, nanti kita obrolin lagi!”
Setelah menyelesaikan administrasi, Zhao Qu dan rekannya mengganti seprai tandu dan bersiap kembali ke markas. Saat baru saja menyalakan mesin mobil, petugas keamanan itu tiba-tiba mengejar dan mengetuk jendela dengan panik.
Zhao Qu menurunkan kaca jendela. Sambil terengah-engah, petugas itu berkata: “Tadi, yang baru dibawa masuk itu… mereka bilang sudah meninggal saat masih di jalan…”
Zhao Qu mengangguk pelan. Dia sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan ini.
“Tapi orang itu… wajah dan bajunya persis sama kayak ibu yang barusan saya lihat turun dari ambulans! Saya masuk ke ruang UGD buat ngecek… tapi dia udah tidak ada!”
Petugas itu tampak ketakutan dan bingung.
Zhao Qu bisa memahami kegelisahan pria itu. Namun, yang dirasakannya bukanlah ketakutan, melainkan rasa haru dan takjub yang hangat di dalam hati.
“Meski dirinya sudah tidak lagi bernyawa, sang ibu tetap mencemaskan kondisi anaknya. Dia bersikeras menemani sang anak hingga ke rumah sakit, memastikan semuanya baik-baik saja. Bukankah itu bentuk cinta yang paling agung dari seorang ibu?”
Zhao Qu lalu menutup kisahnya kepada para peserta pelatihan: “Kalau nanti kalian sudah mulai bertugas di lapangan, ingatlah untuk selalu menjalankan penyelamatan dengan sepenuh hati. Itu bentuk penghormatan kita—bukan hanya pada diri sendiri, tapi juga pada mereka yang kita tolong.”
Sebelum ‘berpulang kepada-Nya’, sang ibu memastikan anaknya aman dan selamat. Mungkin saat itu dia masih sempat berbisik lembut di telinga putrinya: “Nak, kamu harus kuat ya. Mama ada di sini.”
Itulah kasih ibu—kekuatan yang mampu menembus ruang dan waktu. Bahkan ketika napas terakhir telah pergi, cinta seorang ibu tetap mencari cara untuk melindungi anaknya hingga detik terakhir.
Pertanyaannya sekarang: apakah kamu percaya kisah ini benar-benar nyata? Kalau melihat dari komentar para netizen, hampir tak ada yang meragukannya. Karena memang—kasih ibu, sering kali tak bisa dijelaskan… hanya bisa dirasakan.(jhn/yn)


