Pada Rabu (23 Juli), Ukraina dan Rusia menggelar putaran ketiga perundingan di Istanbul, Turki. Ini merupakan dialog langsung pertama antara kedua belah pihak yang bertikai dalam dua bulan terakhir. Mengingat Amerika Serikat kembali meluncurkan bantuan militer untuk Ukraina dan memberikan batas waktu 50 hari kepada Rusia untuk menghentikan serangan—jika tidak akan dikenakan “tarif sekunder” sebesar 100%—perkembangan perundingan terbaru ini pun sangat diperhatikan.
EtIndonesia. Kepolisian Turki pada Rabu (23/7) meningkatkan pengamanan di sekitar Istana Çırağan di Istanbul, tempat perundingan dijadwalkan berlangsung. Para wartawan dan pihak lain yang ingin masuk ke lokasi harus melalui pemeriksaan keamanan.
Delegasi Ukraina bertemu terlebih dahulu dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan sebelum melakukan pertemuan dengan delegasi Rusia.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan sehari sebelumnya bahwa delegasi Ukraina akan dipimpin oleh Menteri Pertahanan Rustem Umerov.
Zelensky menekankan bahwa fokus utama dari perundingan kali ini tetap pada dua hal: gencatan senjata dan pembebasan tawanan perang.
“Tugas kita adalah berjuang untuk mewujudkan gencatan senjata,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Zelenskyy juga menyatakan: “Kita harus terus mendorong pembebasan tawanan yang ditahan oleh pihak Rusia. Proses pertukaran baru telah dimulai. Diharapkan besok kita bisa membawa pulang orang-orang kita.”
Sementara itu, bersamaan dengan persiapan perundingan, militer Rusia pada hari Rabu memulai latihan angkatan laut berskala besar yang dinamai “Badai Juli.” Latihan ini melibatkan lebih dari 150 kapal perang dan 15.000 tentara, dengan wilayah latihan mencakup Samudra Pasifik, Arktik, Laut Baltik, hingga Laut Kaspia.
Karena latihan militer Rusia ini bertepatan dengan dimulainya putaran baru perundingan, hasil negosiasi tersebut pun menjadi sorotan besar dunia. (Hui/asr)
Laporan gabungan oleh reporter NTDTV, An Qi dan Yi Long


