Situasi di Wilayah Selatan Masih Bergejolak, Suriah dan Arab Saudi Teken 47 Kesepakatan Kerja Sama

EtIndonesia. Pada  Kamis (24/7/2025), setelah Hamas menanggapi proposal gencatan senjata selama 60 hari di Gaza, delegasi perunding Israel telah kembali ke negaranya. Meskipun situasi di wilayah selatan Suriah masih bergejolak, Arab Saudi dan Suriah berhasil menandatangani 47 perjanjian kerja sama dengan total nilai investasi lebih dari 6 miliar dolar AS, membuka babak baru bagi pembangunan kembali Suriah pasca perang.

Pada hari yang sama, operasi militer Israel di Gaza masih berlangsung. Asap tebal terlihat membumbung di wilayah utara Gaza.

Di pagi hari, setelah Hamas memberikan tanggapan terhadap “proposal gencatan senjata 60 hari”, para perwakilan Israel segera kembali ke Israel.

Setelah itu, kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengeluarkan pernyataan singkat yang menyampaikan rasa terima kasih kepada Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, serta mediator dari Qatar dan Mesir, namun tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Pada  Kamis, di ibu kota Suriah, Damaskus, berlangsung Forum Investasi Suriah-Arab Saudi. Dalam forum tersebut, Arab Saudi menyatakan akan menanamkan investasi senilai sekitar 3 miliar dolar AS di Suriah, sebagai bagian dari total nilai perjanjian lebih dari 6 miliar dolar.

Menteri Investasi Arab Saudi, Khalid Al-Falih, menyampaikan: “Dalam forum ini, kami akan menandatangani 47 perjanjian dan nota kesepahaman, dengan total nilai diperkirakan mencapai 24 miliar riyal Saudi.”

Kesepakatan tersebut mencakup berbagai sektor, termasuk properti, telekomunikasi, dan keuangan. Hal ini menandai langkah penting bagi Suriah dalam proses rekonstruksi pasca perang.

Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, di Washington. Sebelumnya, dengan mediasi Amerika Serikat dan Yordania, Israel dan Suriah telah menyepakati gencatan senjata, namun situasi di selatan Suriah tetap tidak stabil.

Presiden sementara Suriah, Ahmed Al-Sharaa, mendesak klan Badui  agar mematuhi perjanjian gencatan senjata dan mengakhiri konflik.

Pada  Kamis, beberapa bus terlihat melewati pos pemeriksaan menuju kota Sweida untuk mengevakuasi warga sipil.

Sebuah rumah sakit di Sweida melaporkan bahwa sejak pecahnya konflik, mereka telah menerima lebih dari 500 jenazah korban tewas.

Sehari sebelumnya, televisi nasional Iran melaporkan bahwa sebuah helikopter militer Angkatan Laut Iran terlibat konfrontasi dengan kapal perang Amerika Serikat di Teluk Oman.

Menurut laporan tersebut,  Iran mengirimkan helikopter untuk menghadang kapal perusak USS Fitzgerald milik Angkatan Laut AS yang mendekati wilayah perairan Iran. Akhirnya, kapal perang AS mundur ke arah selatan.

Saat ini, belum jelas seberapa dekat kapal perang AS tersebut dengan wilayah perairan Iran saat kejadian berlangsung. (Hui/asr)

oleh Zhao Fenghua, NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Rahasia Tersembunyi di Balik Rasa Syukur yang Jarang Dimanfaatkan Orang

Sebagian besar dari kita menjalani hari-hari dengan merasa iri terhadap kehidupan orang lain, pekerjaan orang lain, rumah orang lain, mobil orang lain, tanpa berhenti...

Saran Seorang Pramugari: Jangan Pernah Memakai Dua Jenis Pakaian Ini Saat Naik Pesawat

EtIndonesia.com  Saat bepergian dengan pesawat, banyak orang senang mengenakan pakaian yang ringan dan nyaman. Namun, seorang pramugari yang memiliki pengalaman bertahun-tahun baru-baru ini mengunggah...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine