Satu Rekaman Telepon, Dua Negara Terbakar—Siapa Sebenarnya Dalang Perang Ini?

EtIndonesia. Konflik bersenjata antara Thailand dan Kamboja yang semula hanyalah bentrokan perbatasan kini telah berubah menjadi perang terbuka berskala penuh. Dalam perkembangan terbaru, Perdana Menteri Sementara Thailand, Phumtham Wechayachai, secara tegas menolak tawaran mediasi dari pemerintah Tiongkok, menandai eskalasi konflik ke level yang lebih serius.

Awalnya konflik hanya meletup di dataran tinggi perbatasan, namun kini api peperangan telah menjalar hingga ke hutan lebat dan garis pesisir. Pasukan darat Thailand dilaporkan telah menerobos masuk ke wilayah Kamboja secara resmi, memperluas area pertempuran yang sebelumnya terkonsentrasi di zona sengketa.

Dari Skandal Telepon ke Krisis Kepemimpinan

Pertanyaan publik pun bermunculan: Mengapa Thailand dipimpin oleh perdana menteri sementara? Di mana perdana menteri resmi?

Jawabannya mengarah pada sebuah skandal besar yang terjadi pada pertengahan Juni lalu. Sebuah rekaman percakapan telepon berdurasi 17 menit antara Perdana Menteri Thailand saat itu, Paetongtarn Shinawatra, dengan mantan PM Kamboja yang kini menjabat sebagai Ketua Senat, Hun Sen, bocor ke publik. Dalam rekaman tersebut, Paetongtarn memanggil Hun Sen dengan sebutan “Paman” secara akrab, bahkan mengkritik militer Thailand dengan nada meremehkan, menyebut tentara perbatasan negaranya seperti “orang gila” yang hanya ingin terlihat garang.

Rekaman ini memicu kemarahan luas di kalangan publik dan militer Thailand. Ia dinilai mencoreng kehormatan nasional dan melecehkan institusi militer. Koalisi pemerintahan pun pecah setelah partai utama, “Bangga dengan Thailand”, menarik dukungan. Pemerintahan kehilangan mayoritas parlemen.

Pada 1 Juli, Mahkamah Konstitusi Thailand menangguhkan jabatan Paetongtarn sambil menunggu proses penyelidikan. Sejak itu, Wakil Perdana Menteri Pertama merangkap Menteri Dalam Negeri, Phuttam, naik sebagai Pelaksana Tugas Perdana Menteri.

Banyak analis menduga, andai Paetongtarn masih menjabat, perang ini tidak akan pecah—mustahil ia mengangkat senjata melawan “Pamannya” di Kamboja. Apalagi, keduanya dikenal sebagai tokoh yang dekat dan tunduk pada Beijing. Bahkan Februari lalu, Paetongtarn menghadiri pembukaan Asian Winter Games di Harbin dan menandatangani sejumlah kesepakatan dengan pemerintah Tiongkok. Dalam dokumentasi resmi, ia tampak begitu hormat terhadap Presiden Xi Jinping.

Namun, dengan jatuhnya Paetongtarn dan naiknya Phuttam, semangat nasionalisme dan tekanan dari militer menggelegak. Bahkan campur tangan langsung dari Xi Jinping untuk mendamaikan dua negara tidak digubris oleh Bangkok. Perang pun resmi dimulai.

Situasi di Medan Tempur: Hari Ketiga Pertempuran

Hingga 26 Juli, setidaknya 12 titik pertempuran tercatat aktif di sepanjang perbatasan kedua negara. Daerah paling sengit terletak di sekitar dua kompleks candi kuno yang memang menjadi sumber konflik perbatasan selama beberapa dekade terakhir.

Pemerintah Thailand melaporkan bahwa lebih dari 130.000 warga sipil telah dievakuasi, sementara di Kamboja, lebih dari 4.000 rumah hancur hanya di satu provinsi.

Pasukan Thailand berhasil merebut Dataran Tinggi Phumakui, wilayah strategis Kamboja di perbatasan. Dari titik ini, Thailand dapat mengawasi wilayah luas Kamboja. Menara komunikasi dan pos logistik milik militer Kamboja direbut, termasuk sistem kereta kabel militer yang dihancurkan oleh pasukan Thailand.

Jet tempur Gripen buatan Swedia milik Thailand terekam warga sipil saat melintas masuk ke wilayah udara Kamboja. Sementara itu, Kamboja dinilai tidak memiliki kekuatan udara memadai untuk melawan. Thailand mengandalkan 11 jet Gripen modern, puluhan F-16, serta F-5 buatan AS.

Kekuatan tank kedua negara juga menggambarkan jurang teknologi. Thailand menggunakan M60A1/A3 buatan AS dari era Perang Dingin, sementara Kamboja mengandalkan T-55AM buatan Eropa Timur, juga dari dekade 1980-an. Bahkan muncul kabar bahwa Thailand kini mengoperasikan kendaraan lapis baja BT-2 buatan Ukraina sebanyak 200 unit.

Aksi Militer, Gaya Tempur, dan Ketegangan yang Meningkat

Artileri dan roket menjadi senjata utama dua hari terakhir. Batalyon Artileri 721 Thailand menembakkan meriam 155mm berbasis teknologi Israel, dan mortir M29 kaliber 81mm buatan Amerika yang pernah digunakan dalam Perang Korea dan Vietnam.

Sebaliknya, militer Kamboja tampak masih menerapkan strategi ala Soviet dan Tiongkok: menembakkan roket tanpa terlalu mempertimbangkan akurasi, dengan tujuan utama menciptakan efek kejut. Peluncur roket PHL-81 buatan Tiongkok bahkan ditembakkan langsung dari jalan raya, menimbulkan bahaya bagi warga sipil di sekitar.

Pemandangan di garis depan seolah membawa penonton ke film-film perang dari tiga zaman sekaligus. Pasukan Thailand dengan senapan M16A4 dan peluncur granat 40mm tampil modern, sementara di sisi Kamboja, seorang tentara bersenjata ringan Tipe 81 buatan Tiongkok terlihat santai tanpa seragam lengkap, bahkan mengenakan sandal crocs—mengundang komentar nyinyir di media sosial.

Kabar terbaru (masih belum dikonfirmasi) menyebutkan bahwa Kepala Staf Angkatan Darat Kamboja, Mayor Jenderal Song Mian, tewas dalam serangan udara Thailand. Bangkok juga meluncurkan Operasi “Wang Chu”, operasi militer gabungan dari darat, laut, dan udara yang menyasar wilayah pesisir Kamboja.

Bahkan muncul peringatan: jika serangan roket Kamboja ke wilayah Thailand terus berlanjut, pemerintah Thailand siap melancarkan serangan udara ke Phnom Penh, ibu kota Kamboja.

Upaya Damai Donald Trump: Jalan Keluar di Tengah Kekacauan?

Di tengah ketegangan yang memuncak dan potensi eskalasi besar-besaran, mantan Presiden AS Donald Trump muncul sebagai sosok penengah. Dalam pernyataan publiknya, ia menyampaikan:

“Saya baru saja berbicara dengan Perdana Menteri Kamboja, dan menyampaikan hasil pembicaraan saya sebelumnya dengan PM sementara Thailand. Keduanya ingin mengakhiri konflik dan kembali ke meja perundingan dagang dengan Amerika Serikat. Tapi menurut saya, sebelum peperangan benar-benar berhenti, belum saatnya bicara soal dagang. Mereka sepakat bertemu dan menandatangani kesepakatan damai secepatnya. Saya merasa terhormat menjadi penghubung antara dua negara yang memiliki sejarah dan budaya yang luar biasa.”

Apakah mediasi Trump akan berhasil meredam konflik, atau justru menjadi bagian dari strategi diplomatik yang lebih besar?

Yang jelas, dunia kini menyoroti Asia Tenggara—tempat di mana api perang menyala di antara dua negara bertetangga, dan masa depan kawasan bergantung pada keputusan yang dibuat dalam beberapa hari ke depan. (***)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine