Tahanan Perang Rusia dan Ukraina Senang Kembali ke Rumah, Tetapi Masih Belum Ada Kesepakatan Perundingan Damai Putaran Ketiga

EtIndonesia. Perang Rusia-Ukraina minggu ini memasuki putaran ketiga perundingan damai, namun kedua belah pihak hanya mencapai kesepakatan dalam hal pertukaran tawanan perang. Meskipun disebut sebagai perundingan damai, pertempuran antara kedua negara tetap berkobar minggu ini. 

Bahkan, taman kanak-kanak dan supermarket di Ukraina ikut menjadi korban serangan. Ukraina juga melancarkan serangan malam ke bandara Rusia yang menyebabkan kekacauan lalu lintas. 

Uni Eropa menilai Presiden Rusia Vladimir Putin masih ingin melanjutkan perang, dan menyatakan akan terus mendukung Ukraina. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menekan Rusia melalui ancaman tarif tinggi. Apakah upaya ini berhasil? Mari simak bersama.

“Kami perlu mengadakan lebih banyak perundingan aktif dengan Rusia untuk mengakhiri perang. Ini sangat rumit,” kata Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. 

Dan “rumit” yang dikatakan Zelensky memang benar-benar rumit.

Pada 14 Juli, Presiden Trump secara tegas menuntut agar Rusia mencapai kesepakatan damai dengan Ukraina dalam 50 hari, jika tidak akan dikenakan tarif sekunder setinggi 100%. Namun, putaran ketiga perundingan damai Rusia-Ukraina yang digelar pada 23 Juli masih belum menghasilkan kesepakatan gencatan senjata.

Kepala delegasi Rusia, Vladimir Medinskiy, menyatakan: “Kami sepakat bahwa dalam waktu dekat kedua belah pihak akan menukar sedikitnya 1.200 tawanan perang.”

Zelenskyy mengusulkan agar pertemuan tingkat tinggi antara AS, Uni Eropa, Rusia, dan Ukraina digelar sebelum akhir Agustus, namun tampaknya sulit terwujud. Rusia menyatakan bahwa kedua kepala negara hanya akan bertemu jika kesepakatan telah siap ditandatangani. Putin dikabarkan siap mendorong penyelesaian damai atas “masalah Ukraina”, tetapi Moskow tidak berniat mengubah tujuan “yang sudah ditetapkan”.

Seorang warga Kyiv, Katerina, mengatakan: “(Saat serangan terjadi) asap tebal di mana-mana, debu berterbangan, kami semua sangat ketakutan.”

Selama perundingan damai berlangsung, Rusia melancarkan serangan besar-besaran dengan 426 drone dan 24 rudal yang menghantam berbagai kota di Ukraina, termasuk Kyiv. Apartemen luluh lantak, taman kanak-kanak hancur total, mobil terbakar hebat, dan warga panik mengungsi.

Ukraina membalas dengan mengirimkan lebih dari seratus drone untuk menyerang Moskow di malam hari, menyebabkan kekacauan lalu lintas dan gangguan penerbangan di sekitar bandara.

Uni Eropa menilai bahwa Putin tidak tertarik dengan perdamaian.

“Jika situasi terus seperti sekarang, Putin tidak akan setuju untuk berdamai. Karena dia mungkin merasa bahwa dalam kondisi ini, dia (Rusia) akan menjadi pihak yang menang,” kata Komisaris Uni Eropa untuk Pertahanan dan Ruang Angkasa, Andrius Kubilius.

Sementara itu, ancaman Trump soal batas waktu 50 hari dan tarif sekunder 100% terhadap Rusia masih perlu waktu untuk melihat seberapa besar dampaknya.

Rachel Rizzo, peneliti senior di Atlantic Council, menjelaskan: “Begitu isu tarif masuk dalam pembahasan, ini bukan lagi semata-mata soal perang Rusia-Ukraina. Ini sudah masuk ke ranah geopolitik, melibatkan negara-negara besar seperti Tiongkok, India, dan Uni Eropa, sehingga cakupannya menjadi lebih luas dan tekanan terhadap Rusia jauh lebih besar.”

Pada 23 Juli, Ketua Komisi Urusan Luar Negeri Parlemen Ukraina, Oleksandr Merezhko, bertemu dengan anggota parlemen Inggris dan mantan pemimpin Partai Konservatif, Iain Duncan Smith. Mereka sepakat bahwa Partai Komunis Tiongkok sedang menopang ekonomi Moskow, dan oleh karena itu sanksi terhadap Tiongkok perlu diperkuat.

Pada 26 Juli, AS secara langsung menyebut Tiongkok di Dewan Keamanan PBB (UNSC), dan menuntut agar negara itu berhenti membantu Rusia.

Menurut laporan Fox News, Komisaris Uni Eropa Andrius Kubilius memperingatkan bahwa tahun 2027 kemungkinan akan menjadi tahun paling berbahaya di dunia, ketika Rusia dan PKT bisa saja melancarkan serangan bersama.

Dalam situasi yang sangat kompleks ini, Ukraina mengalami masalah teknis yang cukup serius minggu ini—sistem komunikasi “Starlink” sempat terputus selama 2,5 jam, sehingga rencana operasi militer terpaksa ditunda. Seorang komandan tinggi Ukraina mengatakan bahwa terlalu bergantung pada satu sistem komunikasi sangat berisiko, dan negara harus mengembangkan sistem komunikasi alternatif yang lebih beragam.

Selain konflik Rusia-Ukraina yang tidak menunjukkan kemajuan, berbagai konflik global terus bermunculan. Hamas secara sepihak membatalkan perjanjian damai dengan Israel. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan akan mengakui negara Palestina, yang memicu kontroversi besar. Aksi protes massal pecah, Israel mengecam keputusan tersebut, dan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pun mengutuknya, menyebutnya sebagai “tamparan terhadap para korban”. Jerman menyatakan tidak akan mengikuti langkah Prancis.

Di Asia Tenggara, Thailand dan Kamboja pada 24 Juli pecah konflik bersenjata terbesar dalam 13 tahun terakhir, dengan jumlah korban tewas mencapai 33 orang dan lebih dari 130.000 warga telah mulai mengungsi. (Hui/asr)

oleh jurnalis NTD Weekly, Lin Chao dan Yu Wei

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine