EtIndonesia. Konflik Rusia-Ukraina kembali memasuki babak baru setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara tiba-tiba mengumumkan perubahan besar dalam sikapnya terhadap penyelesaian perang yang telah berlangsung lebih dari dua tahun itu. Dalam pernyataannya pada 28 Juli, Trump memangkas drastis tenggat waktu yang sebelumnya diberikan kepada Rusia—dari 50 hari menjadi hanya 10 hingga 12 hari—untuk mencapai kesepakatan damai dengan Ukraina.
Pengumuman ini disampaikan Trump menjelang pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, di tengah memanasnya situasi geopolitik dan eskalasi serangan siber terhadap maskapai penerbangan Rusia, yang menyebabkan 54 penerbangan terpaksa dibatalkan. Serangan siber ini menambah ketegangan, memperburuk krisis yang sudah berlangsung di wilayah Eropa Timur.
Trump Desak Kesepakatan Damai, Tekanan Diperbesar
Dalam konferensi pers sebelum pertemuan dengan Starmer, Trump menyatakan dengan nada kecewa: “Saya sangat kecewa dengan Putin. Tenggat waktu 50 hari yang saya berikan sebelumnya kini saya pangkas menjadi hanya 10 sampai 12 hari. Tidak ada alasan untuk menunggu lebih lama, karena hingga saat ini tidak ada kemajuan berarti.”
Ketika salah satu jurnalis menanyakan kembali terkait batas waktu baru tersebut, Trump menjawab tegas: “10 sampai 12 hari. Titik.”
Sikap ini memperlihatkan ketidaksabaran Trump terhadap proses negosiasi yang dinilai berjalan lamban dan tidak menghasilkan solusi konkret untuk mengakhiri perang.
Respons Keras dari Rusia: Medvedev Ingatkan Trump Soal Ancaman Perang
Tak lama setelah pernyataan Trump, respons keras datang dari Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev. Dalam sebuah pernyataan publik, Medvedev menuduh Trump sedang memainkan permainan berbahaya dengan Rusia dan memperingatkan potensi risiko yang lebih besar jika ultimatum semacam ini terus diberikan.
“50 hari atau 10 hari, dia (Trump) harus ingat dua hal: Pertama, Rusia bukan Israel, bahkan bukan Iran. Kedua, setiap ultimatum baru adalah sebuah ancaman yang dapat menjadi langkah menuju perang besar. Ini bukan sekadar perang antara Rusia dan Ukraina, tapi bisa meluas menjadi perang di negaranya sendiri. Jangan ulangi kesalahan Biden,” ujar Medvedev, merujuk pada kebijakan luar negeri Presiden AS sebelumnya yang kerap dinilai memicu eskalasi konflik global.
Sanksi Tarif Sekunder dan Ancaman terhadap Mitra Dagang Rusia
Ultimatum ini bukanlah yang pertama dikeluarkan Trump terkait konflik Rusia-Ukraina. Pada 14 Juli lalu, dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, Trump sempat menyatakan bahwa jika Rusia gagal mencapai kesepakatan damai dalam waktu 50 hari, Amerika Serikat akan memberlakukan sanksi tarif sekunder hingga hampir 100 persen terhadap produk-produk Rusia.
Mark Rutte menambahkan bahwa negara-negara besar seperti Tiongkok, India, dan Brasil—yang selama ini masih mempertahankan hubungan dagang aktif dengan Rusia—akan terkena dampak berat dari sanksi tersebut.
“Sanksi ini tidak hanya akan menyasar Rusia, tetapi juga akan menekan negara-negara yang masih berbisnis dengan Moskow,” kata Rutte dalam konferensi persnya.
Trump Siap Kirim Rudal dan Peralatan Terbaik ke NATO untuk Ukraina
Selain mengancam dengan sanksi ekonomi, Trump juga mengungkapkan kesiapannya untuk memperkuat dukungan militer kepada Ukraina. Dia menyatakan Amerika Serikat siap mengirimkan peralatan militer dan rudal terbaru kepada NATO, yang kemudian dapat didistribusikan sesuai kebutuhan pasukan Ukraina di lapangan.
Langkah ini dinilai sebagai sinyal bahwa AS di bawah pengaruh Trump ingin mempercepat penyelesaian konflik dengan memperbesar tekanan ke Moskow, sekaligus memberikan jaminan dukungan penuh kepada negara-negara sekutu Barat yang selama ini menopang Ukraina.
Situasi Rusia-Ukraina Semakin Memanas, Dunia dalam Ketegangan
Langkah Trump yang mempersingkat tenggat ultimatum ini dinilai sejumlah pengamat sebagai upaya untuk “memaksa” Kremlin segera mengambil keputusan besar: mengakhiri perang lewat negosiasi damai atau berhadapan dengan konsekuensi ekonomi dan militer yang lebih berat dari Barat.
Situasi kian genting seiring meningkatnya insiden serangan siber ke infrastruktur vital Rusia dan kemungkinan adanya eskalasi balasan dari Moskow. Dunia kini menunggu apakah ultimatum Trump mampu mengguncang status quo atau justru memicu babak baru dalam konflik yang sudah memakan banyak korban jiwa ini.


