Menemukan Kelapa Milikmu Sendiri

  
EtIndonesia.
Dia lahir dari keluarga miskin, dan sejak kecil hidupnya selalu dibayangi rasa minder ekstrim. Setelah lulus kuliah, dia berkali-kali gagal dalam mencari pekerjaan. Akhirnya, dia memilih mengurung diri di rumah, tenggelam dalam dunia game online, dan menjalani hari-hari yang nyaris tanpa harapan.

Suatu hari, temannya, Anke, memaksa dia ikut menonton sebuah pertunjukan bakat bertema “kelompok akar rumput”. Yang membuatnya tercengang, para peserta yang tampil berasal dari berbagai usia dan latar belakang pekerjaan. Mereka semua dengan berani naik ke atas panggung, menunjukkan bakat terbaik mereka tanpa rasa malu.

Seorang anak laki-laki berusia delapan tahun memutar adonan pizza hanya dengan ujung jarinya. Sesekali, adonan itu dilempar ke belakang kepala, lalu ditangkap dan diputar kembali dengan lihai. Teknik melempar pizza yang piawai, ditambah dengan senyuman percaya diri yang menawan, langsung mengundang tepuk tangan meriah dari penonton.

Seorang gadis bertubuh mungil dan gemuk menyanyikan lagu tema film Titanic. Meski suara nyanyiannya tak begitu merdu, semangatnya untuk menantang diri sendiri begitu menyentuh hati.

Ada juga seorang pria yang kehilangan kedua kakinya dalam kecelakaan lalu lintas. Di atas panggung, dia menunjukkan keahliannya menjahit. Dalam waktu lima menit, dia berhasil menyulap selembar kain menjadi gaun cantik. Dia telah bangkit dari keputusasaan dan memilih jalan hidup baru: menjadi penjahit.

Saat dia terpaku menonton pertunjukan itu, tiba-tiba Anke—temannya yang kelihatannya juga tak punya bakat apa-apa—naik ke atas panggung dan mulai meniup gelembung sabun. Ketika Anke berhasil meniup lebih dari lima puluh gelembung dalam satu tarikan napas, suasana panggung seketika berubah menjadi dunia impian yang indah.

“Giliranmu naik panggung sekarang,” ujar Anke sambil tersenyum padanya.

“Aku nggak bisa!” katanya tergagap, menggeleng keras.

Namun Anke tidak menyerah. 

“Mulai hari ini, buang kata ‘nggak bisa’ dari kamus hidupmu!” katanya sambil mendorong tubuhnya ke panggung dan berteriak: “Tepuk tangan untuk teman baru kita!”

Dalam kepanikan, dia spontan mengambil sebuah kelapa yang tergeletak di sisi panggung, meletakkannya di atas kepala, lalu memberi isyarat pada Anke. “Ingat permainan masa kecil kita? Ayo, lakukan!”

Anke mengangguk paham, mengambil tongkat kayu dan—BRAK!—memukul kelapa itu sekuat tenaga.

PRANG! Kelapa pecah seketika. Tapi dia tetap berdiri kokoh di tempat, tanpa ekspresi takut.

Penonton langsung berdiri dan bertepuk tangan meriah, terpukau oleh “kepala besi”-nya. Berdiri di tengah panggung, dikelilingi sorakan dan semangat yang lama tak dia rasakan, matanya pun berkaca-kaca.

Sejak saat itu, hidupnya berubah drastis. Dia mulai mencoba pekerjaan yang dulu tak pernah dia lirik: mengantar paket, menjual bunga. Hanya dalam dua tahun, dia berhasil menjadi manajer di sebuah perusahaan properti.

Ketika kedua orangtuanya sedang bangga-bangganya padanya, ia malah mengambil keputusan mengejutkan: berhenti kerja dan kembali ke rumah, jadi “anak rumahan” lagi. Tapi kali ini berbeda—dia tidak lagi tenggelam dalam game, melainkan ingin mengejar mimpi masa kecilnya: menjadi seorang penulis.

Demi mimpi itu, dia mematikan ponsel, menjauh dari semua hiburan. Dia hanya tidur empat jam sehari, dan sisanya digunakan untuk membaca dan menulis. Pada Agustus 2011, setelah setahun penuh bekerja keras, dia akhirnya menyelesaikan novel inspiratif setebal 200 ribu kata yang berjudul: “Mimpi yang Diubah oleh Kelapa”.

Tak lama setelah diterbitkan, bukunya langsung menarik perhatian luas. Gaya penulisan yang sederhana namun penuh kehangatan berhasil menyentuh hati banyak pembaca. Dalam waktu enam bulan, bukunya menduduki posisi puncak daftar buku terlaris, dan dicetak ulang hingga tiga kali, menciptakan sensasi luar biasa.

Penulis muda berbakat ini adalah Jean Nauré asal Prancis. Dalam kata pengantar bukunya, dia menuliskan dengan jujur:

“Pertunjukan bakat itu membuatku sadar bahwa sekalipun kamu merasa tak punya apa-apa, dengan satu buah kelapa pun, kamu masih bisa mendapat tepuk tangan. Sebenarnya, hidup ini tidak pernah benar-benar buntu—setiap orang pasti bisa menemukan ‘kelapa’ miliknya sendiri.” (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda tentang Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

Lima Tanda di Pagi Hari yang Menunjukkan Tubuh Anda dalam Kondisi Baik

Banyak masalah kesehatan kronis tidak menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk menunjukkan keberadaannya. Menit-menit setelah bangun tidur dapat menjadi jendela yang memperlihatkan apa yang dilakukan...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine