Yang Menentukan Masa Depan Anak Bukanlah Sekolah Terbaik, Melainkan Pola Pikir Orangtua dan Kebijaksanaan dalam Pendidikan Keluarga

EtIndonesia. Banyak orangtua rela mengeluarkan biaya besar demi memasukkan anak ke taman kanak-kanak atau sekolah terbaik, dengan harapan memberi masa depan yang lebih baik.

Memang benar bahwa sekolah yang lebih baik menyediakan lingkungan tumbuh kembang yang lebih unggul. Namun, itu bukanlah faktor penentu utama masa depan anak, bahkan pengaruhnya jauh lebih kecil dari yang kita bayangkan.

Di Jiangsu, ada seorang siswa yang menjadi juara ujian masuk perguruan tinggi (gaokao). Sejak kecil, orangtuanya sangat menekankan pengembangan kemampuan belajar. Nilai akademiknya di SD dan SMP selalu menonjol. Saat masuk SMA, mereka dihadapkan pada pilihan nyata: dia bisa dengan mudah masuk ke sekolah unggulan, namun jaraknya jauh dari rumah, dan sekolah tersebut tidak menyediakan asrama. Artinya, setiap hari dia harus menempuh perjalanan lebih dari dua jam. Sementara itu, di dekat rumahnya ada SMA biasa yang hanya berjarak beberapa menit jalan kaki. Meski orangtuanya menginginkan dia masuk sekolah unggulan, sang anak memilih SMA biasa di dekat rumah. Tiga tahun kemudian, sekolah tersebut tidak menghalangi langkahnya menjadi juara gaokao.

Kisah ini membuktikan bahwa inti dari membina kualitas diri anak bukanlah semata-mata tergantung pada sekolah. Kebanyakan orangtua justru belum berhasil membentuk kemampuan belajar anak, sehingga anak menjadi sangat bergantung pada guru dan sekolah.

Laporan terkenal dari Coleman menyatakan bahwa lebih dari 90% kualitas diri anak ditentukan oleh orangtua. Artinya, pendidikan keluarga yang menentukan masa depan dan sejauh mana anak bisa melangkah dalam hidup, bukan sekolah. Sistem pendidikan kita saat ini lebih menekankan pada pendidikan standar dan penguasaan pengetahuan. Sementara kualitas inti lainnya harus dibentuk secara sadar melalui interaksi harian dalam keluarga.

Sebagai contoh, kemampuan membaca dan memahami teks seharusnya sudah mulai dibentuk sejak usia dini. Namun banyak orangtua berpikir bahwa hal itu baru perlu diajarkan setelah anak masuk sekolah, sehingga melewatkan masa sensitif yang paling baik untuk pengembangan kemampuan tersebut.

Contoh lainnya adalah konsentrasi. Ini juga harus mulai dilatih sejak anak masih kecil. Sayangnya, banyak orangtua belum menyadari seriusnya masalah ini. Akibatnya, setelah anak masuk sekolah, 90% siswa SD mengalami gangguan konsentrasi. Misalnya, tidak bisa fokus saat pelajaran; mencoret-coret buku; tidak bisa menjawab pertanyaan; mengganggu teman lain; tidak menyelesaikan tugas di kelas; sering kehilangan alat tulis; atau dalam ujian tidak tertarik pada soal-soal hitungan yang membutuhkan ketelitian, enggan memeriksa jawaban, dan tulisan yang berantakan.

Ada anak-anak yang memiliki semangat belajar tinggi—ingin belajar piano, sepatu roda, atau catur—namun tidak bisa bertahan lama. Mereka selalu punya alasan: guru tidak adil, merasa tidak mampu, atau kurang motivasi. Bahkan ada yang menunjukkan gejala depresi ringan. Dalam kehidupan sehari-hari: kamar berantakan meskipun sudah berkali-kali diingatkan; tidak bisa makan dengan baik karena main sambil makan; mandi terlalu lama; tidak bisa mengerjakan PR sendiri; menunda pekerjaan; dan enggan membantu pekerjaan rumah. Anak yang tidak memiliki konsentrasi, akan kesulitan berhasil dalam hal apa pun.

Semua kualitas dasar ini harus dibentuk oleh orangtua secara sadar dalam kehidupan sehari-hari—karena hidup adalah pendidikan. Namun banyak orangtua baru menyadari masalah tersebut setelah anak menunjukkan tanda-tanda kesulitan, lalu mengandalkan lembaga les atau bimbingan belajar. Mereka berdalih tidak punya waktu atau tidak cukup pengetahuan, dan akhirnya menyerahkan tanggung jawab pendidikan kepada orang lain. Padahal, peran pendidikan dalam keluarga tidak bisa digantikan oleh sekolah ataupun lembaga bimbingan belajar mana pun.

Akar dari permasalahan ini adalah kurangnya pemahaman orangtua tentang pendidikan serta kurangnya kebijaksanaan dalam pendidikan keluarga modern. Saya pernah membahas ini dalam artikel saya yang lain, “Mengenal Pendidikan Karakter dengan Benar, dan Keluar dari Kesalahan Umum Pemahaman Mayoritas”. Ini hanyalah salah satu contoh kesalahan dalam pola pikir. Jika pengetahuan dasar kita tentang pendidikan saja keliru atau dangkal, maka akan sulit menemukan solusi yang ilmiah dan tepat. Masalah pendidikan anak akan terus menumpuk, bahkan akan muncul masalah-masalah baru seiring waktu.

Karena itulah saya pernah menyebut : “Pajak pemahaman pendidikan adalah pajak termahal di dunia.” Kesalahan dalam memahami pendidikan tidak hanya membuat kita mengeluarkan lebih banyak biaya, tetapi juga menyia-nyiakan waktu emas anak untuk mengatasi masalah. Dan itu adalah beban berat yang tidak sanggup ditanggung oleh setiap anak.

Hanya jika orangtua mau secara aktif meningkatkan pemahaman mereka tentang pendidikan dan kebijaksanaan dalam membina keluarga, barulah anak-anak kita bisa mengembangkan keunggulan dan karakter mereka secara maksimal, tumbuh menjadi kebanggaan keluarga, dan menjadi tulang punggung masa depan bangsa.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine