Truk Terguling di Shandong, Lebih dari 10 Ton Makanan Beku Dijarah Warga

Etindonesia. Sebuah truk logistik mengalami kecelakaan terguling di Shandong, Tiongkok, menyebabkan lebih dari 10 ton muatan berupa makanan beku dijarah habis oleh warga sekitar. Nilai kerugian ditaksir melebihi 400.000 yuan (sekitar Rp 900 juta). Insiden penjarahan massal ini menuai kecaman luas dari warganet, yang menyebut tindakan tersebut sebagai perilaku “tidak beradab” dan “memanfaatkan musibah demi keuntungan pribadi”.

Truk tersebut berasal dari sebuah perusahaan logistik yang berangkat dari Kota Linyi, Shandong, pada 24 Juli. Muatan penuh terdiri atas kaki babi beku, paha ayam, cokelat, dan barang-barang beku lainnya, dengan tujuan akhir Kota Chengdu, Provinsi Sichuan.

Namun, sekitar pukul 23.00 waktu setempat, truk mengalami kecelakaan di Jalan Tol G1511 (Ruas Qufu), terguling dari jembatan layang dan menghamburkan seluruh muatan ke tanah.

Menurut Ji, perwakilan perusahaan logistik, pihaknya langsung mengirim tim ke lokasi kejadian malam itu juga dan menugaskan lima hingga enam karyawan untuk menjaga barang. Namun, proses evakuasi barang tertunda karena polisi lalu lintas perlu melakukan investigasi tempat kejadian terlebih dahulu. Proses pemindahan baru dimulai pada pukul 10 pagi keesokan harinya (25 Juli).

Karena jarak antara lokasi barang berserakan dan jalan utama mencapai beberapa ratus meter, para staf terpaksa menggunakan troli kecil dan bolak-balik untuk mengangkut barang. Namun, saat proses evakuasi sedang berlangsung, warga dari desa sekitar mulai berdatangan—beberapa bahkan membawa kantong dan tas dari rumah.

Penjarahan terjadi dalam dua gelombang. Awalnya hanya beberapa orang yang datang dan mengambil barang secara diam-diam. Namun, menjelang pukul 6 sore keesokan harinya, ratusan orang langsung menyerbu dan menyebabkan penjarahan massal.

Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat warga desa memadati lokasi kejadian. Ada yang membawa kantong plastik, ada juga yang mengendarai becak listrik untuk membawa barang. Pada awalnya, sebagian hanya mengambil barang beku yang rusak atau tercecer. Namun tak lama kemudian, mereka mulai mengangkut satu dus penuh tanpa rasa bersalah.

Menurut salah satu staf perusahaan bernama Hu: “Kebanyakan yang menjarah adalah orang tua, tapi ada juga anak muda dan orang dewasa. Mereka membawa karung besar, naik becak motor, dan langsung mengangkut barang. Awalnya yang diambil cuma yang rusak, lama-lama satu dus penuh pun mereka bawa pergi.”

Staf di lokasi sempat berusaha menghentikan, tapi jumlah massa yang terlalu banyak membuat upaya mereka sia-sia.

“Kami usir dari timur, mereka menyerbu dari barat. Usir dari selatan, mereka datang dari utara. Mereka berputar-putar untuk menjarah,” tutur Hu.

Rekaman di lokasi memperlihatkan bahwa sebagian besar pelaku penjarahan adalah orang lanjut usia, namun ada pula kalangan muda. Polisi lokal memang mengirim dua petugas untuk mengamankan situasi, namun jumlah massa yang besar membuat tindakan mereka tidak efektif.

Dengan nada frustrasi, Ji mengatakan bahwa pada akhirnya polisi memilih untuk tidak ikut campur, membuat warga semakin berani dan tidak terkendali. Dari total muatan lebih dari 10 ton, hampir semuanya dijarah atau rusak, menyebabkan kerugian perusahaan mencapai lebih dari 400.000 yuan.

Pihak kepolisian setempat mengonfirmasi bahwa hanya dua petugas yang dikirim karena keterbatasan personel, dan mereka kesulitan mengendalikan massa.

Insiden ini memicu gelombang kemarahan dari warganet Tiongkok. Komentar-komentar pedas membanjiri media sosial:

·        “Benar-benar tidak punya moral.”

·        “Masyarakat yang dikuasai oleh nafsu materi bisa berubah sangat kejam.”

·        “Ini bukan lagi soal usia. Yang jahat bukan hanya anak muda, tapi juga yang sudah tua.”

·        “Orang mengalami kecelakaan, bukannya ditolong malah dijarah. Miris.”

·        “Ini sama seperti merampok saat rumah orang kebakaran. Mengerikan. Tidak berperikemanusiaan!”

Tak sedikit pula yang mengkritik kinerja aparat dan pejabat setempat:

·        “Kenapa tidak minta bantuan personel tambahan? Tidak mampu atau tidak mau?”

·        “Ini bukan tidak bisa dikendalikan, tapi malas dan terlalu banyak pertimbangan pribadi.”

·        “Petugas bilang tidak bisa dikendalikan? Atau sebenarnya tidak ingin dikendalikan?”

Beberapa warganet bahkan mengusulkan agar semua pelaku penjarahan ditindak:

“Rekam semuanya, identifikasi para pelaku, lalu total kerugian dibagi rata. Siapa pun yang terekam ambil barang harus mengganti rugi, tidak peduli ambil sedikit atau banyak. Kalau tidak mampu bayar, asetnya diblokir. Kalau tidak punya aset, anaknya yang bayar. Kalau tidak punya anak, desa yang tanggung!”(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine