EtIndonesia. Ini adalah kisah nyata—kisah yang menggetarkan hati jutaan orang di Tiongkok.
Di Desa Dawangzhai, Kabupaten Shen, Kota Liaocheng, Provinsi Shandong, tinggal seorang pria tua bernama Yu Xueshu. Saat berusia 18 tahun, karena terlalu lama bekerja di air dingin saat memotong alang-alang, dia menderita sepsis parah dan akhirnya lumpuh dari pinggang ke bawah.
Namun, Yu Xueshu tidak menyerah pada hidup. Dia merancang sendiri sebuah papan roda datar yang sangat rendah, dan memelihara seekor anjing untuk menarik gerobaknya ke pasar. Dari sinilah perjuangan dimulai: satu orang dan satu anjing, berjalan berkilo-kilometer setiap hari, ke pasar terdekat sejauh 5 km atau sejauh 10 km lebih untuk memperbaiki alat elektronik kecil. Demi hidup.
Makan siang mereka? Hanya dua kue kering. Kadang kalau ada makanan enak, sang kakek justru memberikannya ke anjing, bukan untuk dirinya sendiri. Jika ada anjing liar yang mencoba menyerang, si anjing akan melindungi sang tuan tanpa ragu.
Hingga suatu malam di Juli 2007, saat badai besar mengguyur, gerobak mereka terbalik ke selokan dalam perjalanan pulang. Anjing itu dengan cerdas melepaskan tali dan berlari mencari adik laki-laki sang kakek. Yu Xueshu berhasil diselamatkan. Namun tiga hari kemudian, anjing kesayangannya jatuh sakit dan mati—meninggalkan sang kakek dalam duka yang dalam.
Anjing itu sudah berusia 12 tahun. Tapi selama 11 tahun, dia setia menarik gerobak setiap hari.
Kisah Ini Menyentuh Hati Seorang Sutradara

Seorang sutradara bernama Tan Yizhi mendengar kisah ini, dan memutuskan mengangkatnya ke layar lebar dalam film berjudul Love Without Words. Ceritanya dikembangkan dari dokumenter pendek berjudul Sang Kakek dan Anjing yang viral di internet sejak 2007. Film ini bahkan dijuluki sebagai “versi Tiongkok dari Hachikō” karena sama-sama diadaptasi dari kisah nyata tentang kesetiaan hewan.
Namun, berbeda dari Hachikō yang menunggu tuannya, dalam film ini, anjinglah yang bekerja keras menarik gerobak untuk tuannya—bertahun-tahun, tanpa mengeluh, tanpa pamrih.
Dalam filmnya, karakter anjing “Heizi” (si Hitam) digambarkan sebagai Labrador bernama “Erhuo” yang cerdas dan bersahabat. Cerita berpusat pada hubungan antara seekor anjing dan pria tua penyendiri, dari ketidakharmonisan di awal hingga akhirnya saling menyayangi, saling menyelamatkan, dan hidup bersama dalam suka dan duka.
Mereka Menjadi Legenda di Desanya

Setelah kisahnya viral pada 2007, para relawan dan netizen membantu sang kakek mewujudkan impian terbesarnya: melihat langsung upacara pengibaran bendera di Tiananmen, Beijing.
Bertahun-tahun berlalu. Gerobak kayu tua telah diganti dengan sepeda motor roda tiga elektrik yang dirancang khusus oleh polisi lalu lintas setempat. Tapi kenangan akan si anjing tak pernah pudar. Dia bahkan membuat makam kecil di pinggir jalan untuk mengenang anjingnya.
Kini, sang kakek telah berusia 70 tahun lebih. Dia tinggal bersama adik laki-lakinya dan istri adiknya, yang dengan sabar merawat dan menemaninya. Meski tak lagi memperbaiki alat elektronik karena matanya mulai rabun, semangatnya tak pernah padam. Dia masih senang bepergian ke pasar, bertemu orang-orang, bermain catur, dan memelihara burung merpati.
Ketika sukarelawan mengunjunginya, membawakan beras, minyak goreng, dan pakaian musim baru, dia langsung menyambut dengan senyum hangat dan penuh terima kasih—meski tubuhnya hanya bisa berbaring di atas sepeda motornya.
“Anjing Tak Akan Pernah Meninggalkanmu”

“Anjing,” kata sang kakek suatu hari, “tak akan pernah meninggalkanmu. Kamu beri dia setengah potong roti kukus pun, dia akan setia menemanimu mengembara seumur hidup.”
Kata-kata itu terdengar lirih, suaranya serak, tapi setiap orang yang mendengarnya terdiam dan menahan air mata. Karena siapa pun yang pernah benar-benar mencintai anjing akan mengerti: cinta mereka tak banyak bicara—tapi tulus dan tanpa syarat. (jhn/yn)


