EtIndonesia. Di tengah gencarnya propaganda Pemerintah Rusia yang menjanjikan kehormatan dan kemakmuran bagi para prajurit yang kembali dari garis depan, realitas di lapangan justru sangat ironis dan memilukan. Alih-alih disambut sebagai pahlawan bangsa, banyak veteran perang Rusia kini harus menghadapi ancaman ganda—bukan dari musuh di medan tempur, melainkan dari aparat negara sendiri.
Janji Manis Pemerintah untuk Menarik Prajurit
Sejak awal invasi ke Ukraina, Kremlin terus menggaungkan janji-janji bombastis demi menarik minat warga dari daerah miskin untuk menjadi prajurit. Pemerintah menawarkan insentif besar: bonus tahunan hingga 5,2 juta rubel (sekitar Rp 900 juta) di tahun pertama dinas, serta kompensasi sebesar 4 juta rubel bagi prajurit yang terluka—jumlah yang enam kali lipat dari rata-rata gaji nasional Rusia. Tawaran fantastis ini memang berhasil memotivasi ribuan pemuda untuk mendaftar, meskipun banyak di antara mereka belum pernah memegang senjata sebelumnya.
Kisah Tragis Nikita Kursa: Dari Medan Perang Menuju Jerat Aparat
Namun, realita pahit justru menimpa banyak prajurit setelah mereka pulang. Salah satu kisah tragis dialami oleh Nikita Kursa, seorang veteran berusia 39 tahun asal Rostov. Pada musim panas 2024, dia kembali dari Ukraina dalam kondisi terluka dan menerima kompensasi tunai sebesar 2,66 juta rubel. Uang tersebut rencananya akan digunakan untuk membeli rumah baru, sebuah harapan baru setelah menghadapi maut di medan perang.
Namun, nasib berkata lain. Ketika hendak melakukan transaksi, Nikita justru menjadi korban perampokan yang dilakukan oleh dua polisi lalu lintas. Parahnya, setelah melapor ke pihak berwajib, kasusnya justru mandek dan tidak pernah dibawa ke pengadilan. Alasan utamanya: kedua polisi pelaku perampokan tersebut kemudian mendaftar sebagai tentara wajib militer, sehingga kasus pidana mereka dialihkan menjadi urusan internal militer dan otomatis “dihapus” dari proses hukum sipil. Akibatnya, Nikita bukan hanya kehilangan seluruh uang kompensasi, tetapi juga terancam dipanggil kembali ke garis depan karena status kontraknya yang masih aktif.
Sindikat Aparat: Modus Bius hingga Penipuan Digital
Fenomena serupa tak hanya menimpa Nikita. Di Moskow, laporan investigasi BBC mengungkap keberadaan sindikat polisi yang bekerja sama dengan sopir taksi. Modusnya, tentara yang baru pulang dari medan perang akan dibius atau dipaksa mabuk, lalu kartu bank milik korban diambil paksa. Dalam sejumlah kasus, para korban kehilangan hingga 1,5 juta rubel dalam hitungan jam.
Tak hanya di ibu kota, di Belgorod seorang pejabat daerah dilaporkan mengaitkan rekening bank para tentara baru ke akun pribadinya, lalu secara sistematis menguras jutaan rubel yang seharusnya menjadi hak para prajurit. Semua ini terjadi dengan dalih administrasi dan tanpa pengawasan.
Pelanggaran di Tingkat Satuan Militer: Perwira Kuasai Puluhan Kartu ATM Prajurit
Kekacauan administrasi dan penyalahgunaan wewenang juga terjadi di lingkungan militer itu sendiri. Seorang prajurit yang diwawancarai mengungkap bahwa para perwira melarang prajurit berbelanja ke toko dan memaksa mereka menyerahkan kartu bank beserta PIN. Salah satu perwira bahkan menguasai hingga 50 kartu perusahaan yang masing-masing berisi hingga 2 juta rubel. Diduga kuat, perwira tersebut kemudian melarikan diri dengan membawa seluruh dana prajurit yang seharusnya menjadi hak mereka.
Janji Perlindungan yang Tak Pernah Terwujud
Kontras dengan retorika Vladimir Putin yang menjanjikan bahwa “setiap prajurit akan diperlakukan sebagai pahlawan dan dijamin masa depannya”, fakta di lapangan justru menunjukkan maraknya penipuan, pemerasan, hingga kekerasan yang dilakukan oleh aparat negara sendiri terhadap para veteran. Tak sedikit prajurit yang akhirnya jatuh dalam kemiskinan, kehilangan rasa percaya diri, dan kembali dalam lingkaran ketakutan karena ancaman pemanggilan ulang ke medan perang.
Kritik dan Kegelisahan Meluas di Tengah Masyarakat
Fenomena ini memicu kegelisahan luas di kalangan masyarakat Rusia, terutama keluarga para prajurit. Mereka merasa negara hanya menjadikan para prajurit sebagai “alat perang”, namun abai saat mereka kembali membawa luka—baik fisik maupun psikologis. Sejumlah LSM dan media independen bahkan menyerukan adanya reformasi dan perlindungan nyata bagi para veteran perang, agar mereka tidak menjadi korban kedua dari sistem yang semestinya melindungi mereka.
Kesimpulan:
Di balik sorotan dan propaganda kemenangan, kisah nyata para prajurit Rusia yang pulang dari perang justru dipenuhi kepahitan dan ironi. Mereka bukan hanya berjuang di medan tempur, tapi juga harus bertarung melawan ketidakadilan, penipuan, dan pengkhianatan aparat negara sendiri. Kisah Nikita Kursa dan para korban lainnya menjadi gambaran buram tentang nasib pahlawan di negeri sendiri, di mana janji manis negara berbalik menjadi ancaman nyata di tengah kehidupan mereka yang seharusnya tenang.


