Semakin Rendah Tingkat Kognisi Seseorang, Semakin Keras Kepala

EtIndonesia. Kamu mungkin pernah mengalami situasi seperti ini: Saat berdiskusi dengan seseorang, kamu sudah mencoba menjelaskan dari berbagai sudut pandang, memberikan nasihat yang masuk akal, tapi dia tetap tidak bisa menerima dan bersikap sangat keras kepala.

Misalnya, seorang gadis sedang terjebak dalam hubungan asmara yang jelas-jelas adalah penipuan. Orang lain yang melihat dari luar sudah tahu bahwa laki-laki itu hanya memanfaatkannya. Tapi si gadis tetap ngotot bahwa itu adalah cinta sejati. Dia bahkan merasa orang-orang yang memberi nasihat hanya ingin menghancurkan hubungan mereka.

Atau contoh lain: kamu berusaha meyakinkan seseorang bahwa selagi muda sebaiknya banyak belajar dan memperluas wawasan demi masa depan. Tapi dia bersikeras bahwa pendidikan dan pengetahuan itu tidak ada gunanya. Yang penting adalah uang, koneksi, dan keberuntungan.

Akhirnya, semua argumenmu tak berguna. Dia tetap pada pendiriannya, tetap mencari-cari alasan untuk tidak berubah, dan tetap memilih menyerah dalam hidup.

Dan ketika perdebatan tak berujung itu usai, kamu merasa frustrasi dan ingin berteriak: “Kenapa sih bisa sebegitu keras kepalanya? Padahal ini kan hal yang sangat jelas!”

Satu Pandangan Saja Sudah Mutlak: Ciri dari Rendahnya Kognisi

Beberapa waktu lalu, saya berdiskusi dengan seorang rekan soal data yang terlihat janggal.

Dia langsung menyimpulkan bahwa alat pengukur pasti rusak.

Saya bilang: “Tunggu dulu, saya cek dulu sumbernya.”

Setelah ditelusuri, ternyata saat itu memang ada perbaikan alat oleh teknisi. Ada pula beberapa faktor lain yang bisa memengaruhi hasil data. Saya sertakan log perbaikan dan penjelasan faktor penyebabnya.

Namun… dia tetap menolak. Baginya, pokoknya masalah itu pasti karena alat rusak. Semua bukti yang saya berikan tidak sedikit pun mengubah pikirannya.

Saya merasa kesal, nyaris ingin menutup telepon dengan keras. Tapi setelah merenung, saya sadar:  Ini bukan soal ego. Ini soal kemampuan kognisi.

Orang yang kemampuan berpikirnya rendah cenderung:

·        Punya pemikiran tunggal

·        Tidak bisa melihat kemungkinan lain

·        Tidak memiliki kerangka analisis alternatif

Maka ketika dihadapkan dengan masalah, respon mereka pun sempit dan keras kepala.

Keras Kepala ≠ Teguh Prinsip

Sebagian orang membela diri, mengatakan: “Keras kepala itu bukan salah, itu artinya saya punya pendirian!”

Sayangnya, yang dimaksud keras kepala di sini bukan keteguhan prinsip, melainkan:

·        Menolak opini yang berbeda

·        Sangat sensitif terhadap kritik

·        Menutup diri dari introspeksi dan pembelajaran

Keras kepala seperti ini bukan ketegasan, tapi kekakuan. Jika dibiarkan, dia akan berkembang menjadi sifat kaku, fanatik, bahkan ekstrem. Dan ketika seseorang sudah menolak belajar, menolak mendengar, dan menolak berkembang—maka kemajuan tidak mungkin terjadi.

Keras Kepala = Menyamakan Ego dengan Kepribadian

Banyak orang menganggap sikap keras kepala sebagai “keunikan diri”. Seolah, jika tidak keras kepala, maka dia akan kehilangan identitas.

Ini keliru besar.

Yang disebut kepribadian bukanlah sudut-sudut tajam yang tidak bisa diubah. Justru dalam proses hidup, sudut-sudut yang menghalangi pertumbuhan seharusnya diasah agar menjadi pribadi yang lebih bijak, lebih lentur.

Seseorang yang benar-benar luar biasa, tetap bisa menjaga keunikannya tanpa harus menjadi keras kepala. Karena dia paham, keras kepala bukanlah bentuk dari kekuatan karakter, tapi justru tanda dari cacat kepribadian.

Teori “Personal Construct” dan Sempitnya Pola Pikir

Psikolog Amerika, George Kelly, pernah mengemukakan Personal Construct Theory—konsep tentang cara seseorang membentuk pola pikir berdasarkan pengalaman pribadi, harapan, evaluasi, dan cara berpikir yang dia miliki.

Saat menghadapi suatu situasi, seseorang akan secara otomatis menggunakan pengalaman pribadinya untuk menilai.

Dan ketika kapasitas berpikirnya rendah, pengalaman dan referensinya sempit. Maka setiap kali ada masalah, pilihan solusinya juga hanya itu-itu saja.

Sementara mereka yang berpengetahuan luas, sering membaca, sering berpikir, dan terbiasa menyerap informasi secara aktif, akan memiliki banyak “konstruk pribadi”—banyak sudut pandang dan cara merespons yang lebih fleksibel.

Maka saat menghadapi persoalan yang sama, mereka tidak hanya terjebak pada satu jawaban.  Mereka bisa berpikir lebih luas: “Mungkin A, tapi juga bisa B, atau bahkan C.”

Coba Lihat Sebagai “Himpunan”: Orang Pintar Punya Banyak Isi

Jika digambarkan secara matematis:

·        Pikiran orang dengan kognisi rendah adalah himpunan A.

·        Pikiran orang dengan kognisi tinggi adalah himpunan B yang mencakup A, juga C, D, E… dst.

Contohnya:

Orang yang kognisinya rendah berpikir :“Ngapain kuliah? Lulusan SD juga banyak yang kaya.”

Karena ukuran mereka hanya uang.

Sementara orang yang kognisinya tinggi berpikir : “Selain penghasilan, pendidikan memberiku pilihan karier lebih luas, membuka potensi diri, meningkatkan kualitas hidup dan pemikiran, dan membuatku lebih berdaya.”

Semakin Banyak Tahu, Semakin Merasa Banyak yang Belum Diketahui

Seiring dengan bertambahnya ilmu dan pengalaman, seseorang akan menyadari bahwa dunia ini terlalu besar untuk diklaim sudah dipahami.

Justru karena itulah, orang-orang yang benar-benar cerdas terlihat lebih rendah hati.

Seperti kata Socrates: “Yang saya tahu, hanyalah bahwa saya tidak tahu.”

Ketika kamu tahu betapa terbatasnya dirimu, kamu tak akan bisa keras kepala. Yang ada, hanya kerendahan hati dan semangat untuk terus belajar.

Keras Kepala Menghambat Perbaikan Diri: Lingkaran Setan yang Tak Sadar

Kognisi rendah → Pola pikir sempit → Penolakan terhadap perubahan → Penolakan terhadap belajar → Stagnasi → Kognisi tetap rendah

Dan begitulah siklusnya terus berputar, membentuk lingkaran keras kepala yang tak berujung.

Kenapa Semakin Cerdas Orang, Semakin Enak Diajak Ngobrol?

Karena orang dengan kognisi tinggi lebih terbuka, lebih fleksibel, lebih reflektif.

Sementara berbicara dengan seseorang yang kognisinya rendah? 

Sering kali kamu merasa: “Kok waktu terasa lambat ya? Kenapa ini capek banget?”

Kadang, bertemu teman lama setelah bertahun-tahun, kamu merasa… tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Bukan karena beda kehidupan, tapi karena gap kognisi yang semakin lebar.

Satu tumbuh cepat, satu jalan di tempat—akhirnya, bicara pun sudah tidak nyambung.

Jalan Keluar: Bangun Kesadaran dan Perbaiki Kognisi

Psikolog Flavell pernah mengusulkan konsep metakognisi—yaitu kesadaran akan proses berpikir kita sendiri.

Saat kamu bisa:

·        Menyadari pola pikirmu

·        Menyadari dari mana ide itu muncul

·        Menilai apakah itu layak diyakini

·        Menerima bahwa kamu bisa salah
… maka kamu akan mampu memperbaiki diri secara sadar.

Saya pribadi dulu juga keras kepala. Saya pikir itu bagian dari kepribadian dan tak bisa diubah.

Tapi setelah banyak belajar dan berinteraksi dengan orang-orang hebat, saya sadar:

Saya ini kecil. Dan banyak hal yang saya yakini dulu ternyata keliru.

Kini, tiap kali saya mulai keras kepala, saya langsung menyadari dan mengevaluasi diri.

Perubahan ini tidak mudah. Tapi bisa dimulai dari:

·        Membaca lebih banyak

·        Belajar lebih dalam

·        Merenung dan mendengarkan lebih sering

Seiring bertambahnya ilmu dan pengalaman, keangkuhan akan terkikis, dan kamu pun akan lebih tenang dan terbuka.

Penutup: Saat Kamu Terlalu Keras Kepala, Mungkin Itu Tanda Bahwa Pengetahuanmu Masih Dangkal

Jadi, jika kamu mulai merasa ingin menang sendiri dalam diskusi, atau menolak semua pandangan yang berbeda…

Cobalah berhenti sejenak dan tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini benar-benar karena aku yakin, atau karena aku tidak tahu cara lain untuk berpikir?”

Semakin luas pemahamanmu, semakin fleksibel dan tenang pikiranmu. Dan saat itulah, kamu akan benar-benar tumbuh.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine