Menjaga Cahaya Kemuliaan

EtIndonesia. Dalam hidup setiap orang, pasti ada sesuatu yang ingin dia jaga dan lindungi. Ada yang ingin menjaga keluarga—istri, anak, dan orangtua. Ada pula yang ingin menjaga sahabat di masa sulit, atau mempertahankan impian yang telah dia perjuangkan. Sejak manusia lahir ke dunia, benang-benang kehidupan mulai terjalin dengan dunia luar—bisa jadi satu gerakan kecil menggoyahkan segalanya, satu orang terhubung dengan satu generasi. Keunikan setiap kehidupan pun pelan-pelan terungkap lewat jalan takdir yang ia tempuh.

Bagi pasangan, menjaga berarti kesetiaan di bawah sinar bulan. Bagi keluarga, menjaga adalah berjuang sekuat tenaga untuk melindungi mereka yang tercinta. Dan dalam masa perang—menjaga bisa bermakna lain, namun tetap berpijak pada kebaikan hati.

Beberapa sahabat di Ukraina terus mengirim pesan sederhana. Di balik barisan kata-kata biasa itu, terselip perasaan yang menggugah hati. Sejak pecahnya perang, Valentina tetap tinggal di Kyiv. Dia adalah seorang wanita lansia biasa. Selama masa ini, dia telah melalui banyak peristiwa—menegangkan, namun semuanya berhasil dia lalui dengan selamat.

Serangan militer sempat terjadi hanya 30 kilometer dari tempat tinggalnya. Bahkan saat dia sedang berjalan di jalanan kota, suara ledakan terdengar terus-menerus di langit. Valentina mengakui, dia pernah merasa takut. Rasa ngeri akan perang sangat nyata di hatinya.

Suatu malam, ledakan yang amat dahsyat mengguncang seluruh apartemen. Tetangganya panik dan berlarian keluar rumah, takut bangunan runtuh menimpa mereka. Wajah-wajah mereka dipenuhi kepanikan dan ketakutan. Namun anehnya, Valentina tak mendengar apa pun malam itu. Dia tidur dengan nyenyak, seolah berada di dunia lain. 

“Seakan-akan aku berada di dimensi yang berbeda. Kalau saja aku benar-benar mendengar ledakan itu, mungkin aku juga akan sangat ketakutan,” katanya.

Ledakan demi ledakan dia alami. Namun berkali-kali pula dia selamat tanpa cedera. Sebagai orang Eropa asli, dia awalnya tidak tahu banyak tentang budaya Tiongkok kuno. Tapi dalam ganasnya perang, dia berkata dengan tulus: dirinya bersyukur telah mengenal dan mempraktikkan ajaran “Sejati, Baik, dan Sabar” dari Falun Gong, yang berasal dari Tiongkok kuno.

Keyakinan itu membuatnya mampu melewati ketakutan dan tekanan perang. Berkali-kali, dia selamat dari bahaya ledakan yang menghantam sekitarnya.

Seseorang yang telah merasakan manfaat dari sesuatu yang indah, tentu ingin membagikannya kepada orang lain. Seseorang yang menerima hadiah kebaikan, umumnya ingin membalas dengan kebaikan pula. Ini adalah sifat alami manusia—baik di Timur maupun di Barat

 Mengapa Valentina memilih tetap tinggal di zona perang? Jawabannya sederhana: dia hanya ingin tetap berada di sana untuk menemani dan membantu mereka yang membutuhkan, dan menjalankan tanggung jawabnya dengan sepenuh hati.

Perang telah meninggalkan luka mendalam di hati banyak orang. Kesedihan karena kehilangan orang tercinta tak mudah disembuhkan. Perang terus berlangsung, menyiksa batin, membekas di wajah, dan menyayat nurani. Harapan dan keputusasaan silih berganti, menghantam jiwa yang mulai rapuh. Tawa pun lambat laun lenyap dari wajah manusia.

Valentina sangat berterima kasih atas hadiah bunga teratai kecil yang indah dari sahabatnya di Taiwan. Bunga-bunga itu dia bagikan kepada siapa pun yang ditemuinya—warga biasa di sekitarnya. Banyak warga Ukraina yang menerimanya dengan penuh sukacita dan senyum.

Suatu hari, dia berkata: “Di masa-masa sesulit ini, bisa membuat orang lain tersenyum saja sudah luar biasa.”

Sahabat Valentina dari Taiwan dan rakyat Ukraina memang tak punya hubungan darah. Tapi kebaikan hati—naluri untuk membantu sesama—melampaui batas bahasa dan ras.Tak ada sekat. Hanya resonansi. Kebaikan itu bergetar, seperti riak air yang melintasi ruang dan waktu, menyentuh hati, dan memantulkan cahaya dalam dunia kita masing-masing.

Valentina menjaga kebaikan di hatinya, dan menuntun mereka yang kebingungan. Di saat banyak jiwa terluka, dia ibarat secercah cahaya di tengah kegelapan, berusaha semampunya untuk menghangatkan dan menerangi sekitar. Kebaikan itu begitu sederhana—namun tak tergoyahkan. Seperti lilin kecil yang menyala, menjadi petunjuk melewati malam jiwa yang kelam.

Sahabat lainnya, Tatiana, juga tinggal di Kyiv. Di awal perang, setiap kali mendengar suara ledakan, tubuhnya refleks bergetar karena syok. Beberapa ledakan terjadi tak jauh dari rumahnya. Salah satu bom yang dijatuhkan dari pesawat bahkan menyebabkan kebakaran besar dan menghancurkan beberapa rumah warga, menewaskan seorang wanita. Sebuah rudal jelajah juga sempat ditembak jatuh di atas gedung apartemennya. Pecahannya menghantam pintu masuk gedung, merusak akses keluar-masuk warga.

Melalui video resmi dari pusat evakuasi Ukraina, bisa dilihat bagaimana setiap serangan bom menghancurkan jendela dan pintu bangunan sekitar. Kaca pecah beterbangan, api membumbung tinggi. Itulah pemandangan yang biasa terjadi dalam perang.

Yang mengejutkan, saat banyak kaca jendela di apartemen mereka hancur, rumah Tatiana sama sekali tidak mengalami kerusakan. Tidak satu pun jendela pecah. Dia mengaku, walau merasakan dahsyatnya ledakan secara langsung, dia dan keluarganya tetap selamat dan tidak terdampak secara fisik.

Saat perang memuncak, dia kerap melihat dari jendela: benda-benda beterbangan, kilatan cahaya melesat, suara dentuman mengguncang, rumah bergetar seolah hendak roboh. Mereka tidur dengan pakaian lengkap, dokumen dan ponsel selalu dalam genggaman, siap melarikan diri kapan saja. Karena ancaman bom, mereka bahkan tidak berani menyalakan lampu di malam hari.

“Rasanya seperti hidup di ujung kematian,” katanya.

Saat musim dingin dan awal musim semi tiba—di tengah salju dan asap pertempuran—Tatiana merasa seolah dia ditinggal sendirian di tepi alam semesta, menghadapi kegelapan yang tak berujung. Namun keyakinannya pada prinsip “Sejati, Baik, Sabar” mengajarkannya untuk bersabar, menenangkan hati. Perlahan, pikirannya tak lagi gentar. Tubuhnya pun tak lagi merespons suara ledakan dengan rasa takut. Ia tak lagi gemetar bila mendengar dentuman tiba-tiba.

Di tengah kekacauan perang, dia teringat kisah kuno: Legenda Yue Fei.  Dia teringat akan nilai kesetiaan. Dan dia memahami, dalam kondisi apapun, seseorang harus tetap setia pada misinya, setia pada tempat ia berdiri.

Banyak yang menyarankan Tatiana untuk meninggalkan Kyiv dan mengungsi ke negara lain. Tapi saat dia melihat masih banyak warga yang tinggal di dekat rumahnya, rasa kasih dalam dirinya tak tega meninggalkan mereka. Dia memilih untuk tetap tinggal.

Dia pun mulai membuat bunga teratai kecil untuk dibagikan kepada orang-orang, sambil menyampaikan nilai-nilai “Sejati, Baik, dan Sabar” kepada mereka. Banyak dari mereka yang mendengarkan kisahnya dengan penuh rasa haru, bahkan meneteskan air mata.

Kebaikan itu begitu murni, kata-katanya begitu jujur. Dari dalam hatinya, dia menyembuhkan hati yang terluka.

Meskipun dia merasa berada di ujung kegelapan semesta, keinginan kecilnya untuk tetap menjaga cahaya hati—seperti biji sesawi kecil—mampu menolak gelapnya malam. Dia bukan hanya menyalakan cahaya bagi dirinya sendiri, tapi juga bagi orang lain. Dia membantu mereka mengenal cahaya keyakinan sejati.

Sementara itu, di Kota Kharkiv—kota terbesar kedua di Ukraina—teman mereka juga menghadapi cobaan berat. Kharkiv menjadi salah satu kota yang paling rusak akibat perang. Ledakan membabi buta menghancurkan seluruh pintu dan jendela rumahnya. Saat listrik padam, semua peralatan dan gas tidak bisa digunakan. Untuk mencari makan, dia dan keluarganya harus berjalan kaki berjam-jam dalam suhu di bawah nol derajat, menyusuri jalanan licin dan berbahaya.

Di sepanjang jalan, mereka melihat mayat korban perang—termasuk anak-anak. Bahkan saat orang-orang sedang mengantri bantuan makanan, bom bisa meledak tiba-tiba.

Dalam keadaan seperti itu, rasa takut, kesedihan, dan ketidakpastian begitu menyiksa. Pikiran yang goyah, seperti lebah liar, menggerogoti ketenangan jiwa.

Namun di tengah pekatnya gelap, dia memilih menjaga cahaya dalam hatinya. Dia menolak tunduk pada ketakutan dan keputusasaan. Dia berusaha menyalakan pelita dalam hatinya, dan membiarkan cahaya keyakinan menerangi dunia batinnya. Keyakinannya pada Tuhan membuatnya mampu mengusir pikiran-pikiran gelap yang mencoba menguasai dirinya.

Dalam kabut perang, setiap orang punya pilihan. Punya seseorang yang ingin dia lindungi, punya keyakinan yang ingin dia jaga. Sahabat-sahabat ini memilih untuk menjaga kebaikan hati. Menjaga kesetiaan. Menjaga cahaya dalam jiwa.

Waktu bisa dengan mudah menghancurkan kemegahan dunia, merampas semua kemewahan, bahkan hidup manusia itu sendiri.  Namun dalam pemahamanku yang sederhana, ada satu hal yang mungkin tak bisa direnggut oleh waktu—yaitu sifat murni yang terlahir dari tekad untuk menjaga kebaikan.

Sifat murni itu telah melewati ujian zaman, memancarkan cahaya sejati, dan menyatu dengan sinar bintang lainnya—bersama-sama menjaga kemuliaan cahaya semesta.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

Apa yang Diungkapkan Pilihan Pakaian Anda Terkait Kepribadian Anda

Seorang peneliti di Universitas New York menemukan bahwa otak manusia membuat 11 penilaian berbeda terhadap orang asing dalam tujuh detik pertama pertemuan.  Psikologi mode (fashion...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine