31 Orang Tewas Tenggelam di Panti Jompo Beijing, Akses Masuk Ditutup Hingga Blokade Dipasang di Luar Desa

Selama beberapa hari berturut-turut, Beijing diguyur hujan deras ditambah dengan pelepasan air dari beberapa bendungan, yang menyebabkan bencana besar. Salah satu kejadian tragis terjadi di Pusat Perawatan Lansia Desa Putaoyuan, Kecamatan Taishitun, Distrik Miyun, di mana 31 lansia meninggal dunia. Menurut informasi yang beredar, saat ini area sekitar Desa Putaoyuan telah dipasangi garis pembatas dan tidak ada orang luar yang diperbolehkan masuk.

EtIndonesia. Pada 31 Juli, pemerintah Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengumumkan bahwa hingga pukul 12.00 siang pada hari tersebut, tercatat 44 orang tewas dan 9 orang masih hilang atau belum ditemukan akibat bencana ini. 

Dari jumlah tersebut, 31 korban tewas berasal dari Pusat Perawatan Lansia di Kecamatan Taishitun. Sekretaris Partai Distrik Miyun, Yu Weiguo, mengklaim bahwa sebelumnya telah diputuskan bahwa “area pusat kecamatan tempat panti lansia berada dalam keadaan aman”, sehingga lokasi itu tidak dimasukkan dalam rencana evakuasi darurat.

Namun, karena kebiasaan rezim PKT yang suka menutupi fakta bencana, kondisi sebenarnya kemungkinan jauh lebih parah dari data resmi yang diumumkan.

Laporan media daratan menyebutkan bahwa bagian selatan Desa Putaoyuan di Kecamatan Taishitun berbatasan langsung dengan Sungai Qingshui, yang berada di hulu Bendungan Miyun. Panti jompo tempat kejadian berada hanya berjarak beberapa ratus meter dari kantor pemerintah kecamatan.

Setelah banjir surut, wartawan dari media Caixin sempat masuk ke panti jompo tersebut dan mendapati bahwa bekas garis air banjir di dalam bangunan melebihi tinggi lemari pakaian di dalam kamar, mencapai lebih dari dua meter. Di dinding kamar juga terlihat jelas bekas tangan berlumur lumpur, yang diyakini merupakan jejak terakhir korban saat berjuang menyelamatkan diri.

Namun, karena pemerintah Tiongkok sangat mengontrol informasi terkait bencana banjir ini, laporan dari Caixin telah dihapus.

Tragedi di panti jompo ini memicu kemarahan dan kesedihan publik. Banyak yang mempertanyakan mengapa tidak ada peringatan sebelumnya dan tidak ada evakuasi dini untuk para lansia. 

Kini, seruan untuk meminta pertanggungjawaban pejabat setempat pun semakin keras.

Menurut laporan Kantor Berita Pusat Taiwan, pada 1 Agustus, wartawan yang mengunjungi Desa Putaoyuan melihat garis pembatas telah dipasang di luar desa, dengan petugas berjaga yang melarang orang luar masuk.

Di sekitar desa, bekas banjir masih sangat terlihat. Banyak tiang listrik roboh, dan beberapa mobil tersapu banjir hingga tersangkut di antara rumah dan tiang listrik. Warga memanfaatkan cuaca cerah di pagi hari untuk membuang perabotan rumah tangga yang rusak akibat terendam air, serta membersihkan lumpur dari dalam rumah. Dinding luar rumah masih penuh lumpur dan bekas genangan air. Ada juga warga yang tampak menelepon untuk mengajukan klaim asuransi.

Warga setempat mengatakan bahwa sebagian wilayah sudah kembali dialiri listrik, tetapi air bersih masih belum tersedia secara normal. Di sungai kecil yang memisahkan desa-desa, terlihat warga menggunakan sepeda motor untuk mengambil air dari sungai. Di sekitar lokasi pembangunan, banyak botol air kemasan diletakkan di atas tanah.

Desa Xiazhazi di Kecamatan Dachengzi, sekitar 24 kilometer dari Taishitun, mengalami kerusakan parah. Dalam perjalanan menuju desa tersebut, banyak ruas jalan yang amblas, jembatan yang roboh, dan tiang listrik tumbang.

Laporan menyebutkan bahwa jalan menuju Komite Desa Xiazhazi mengalami kerusakan parah di bagian sekitar dua kilometer sebelum sampai ke pusat desa, membuat kendaraan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Tim penyelamat sedang bersiap menuju pusat desa. Dari jarak pandang yang terlihat, sebagian wilayah desa itu, sekitar 30 rumah, telah kehilangan pondasi akibat banjir.

Laporan resmi pemerintah Tiongkok mengenai banjir di Beijing hanya menekankan hujan deras, tanpa menyebutkan pelepasan air dari bendungan sedikit pun.

Media daratan melaporkan bahwa pada 27 Juli, setidaknya 11 bendungan di Beijing melepaskan air. Ini termasuk Bendungan Miyun, tiga bendungan di Distrik Huairou, serta Bendungan Dashuiyu, Beitaishang, Haizi, Xiyu, Huangsongyu, Yangjiatai, dan Huayu di Distrik Pinggu.

Pelepasan air dari bendungan menyebabkan banyak desa di Miyun, Huairou, Yanqing, dan Pinggu terjebak banjir. Terjadi tanah longsor, jalan-jalan rusak parah, jembatan hancur, rumah-rumah dan kendaraan tersapu air.

Pelepasan air dari Bendungan Miyun terjadi pada 27 Juli pukul 03.00 dini hari, saat para warga masih terlelap tidur. Banyak desa langsung terendam, akses transportasi dan komunikasi terputus, ratusan orang dilaporkan hilang.

Seorang warga Beijing bernama Ibu Wang mengatakan kepada New Tang Dynasty bahwa jumlah korban sebenarnya ditutupi oleh pemerintah PKT. 

“Di daerah pegunungan pasti ada longsor dan banjir, keadaannya sangat mengerikan. Pemerintah sama sekali tidak memberikan bantuan penyelamatan, hanya bergantung pada penyelamatan mandiri. Kalau bisa lari, ya selamat. Kalau tidak, terjebak di tengah banjir,” katanya. (Hui/asr)

Laporan oleh Tang Zheng / Li Quan – NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine