EtIndonesia. Di Amerika, ada seorang pemuda yang hidupnya penuh pelajaran berharga. Dia seorang mahasiswa, dan setiap kali akhir pekan atau libur kuliah tiba, dia harus bekerja di pabrik milik ayahnya. Uang hasil kerjanya digunakan untuk membayar kembali biaya kuliah dan kebutuhan hidup yang sebelumnya ditanggung oleh orangtuanya.
Di pabrik itu, dia diperlakukan sama seperti pekerja lain. Dia harus antre untuk absen masuk dan pulang kerja. Setiap akhir bulan, gajinya dihitung berdasarkan skor kualitas kerja dan penyelesaian tugas yang dinilai oleh bagian produksi. Pernah suatu kali, dia terlambat dua menit karena bus umum datang terlambat—dan akibatnya, setengah dari bonus bulanannya langsung dipotong.
Setelah melewati masa kuliah yang berat, dia akhirnya lulus dan berpikir waktunya telah tiba untuk mengambil alih perusahaan sang ayah. Namun kenyataannya jauh dari harapan. Bukan hanya tak diberi kesempatan memimpin perusahaan, ayahnya malah semakin keras padanya. Dia tak mengerti kenapa. Ayahnya adalah direktur utama sebuah perusahaan, keluarganya pun hidup berkecukupan, bahkan sering menyumbang ke panti sosial. Tapi kepada dirinya, sang ayah begitu pelit, bahkan untuk uang saku saja dia harus memintanya secara rutin.
Akhirnya, karena tak tahan lagi, dia memutuskan keluar dari rumah. Dia bahkan mulai meragukan status dirinya—jangan-jangan dia bukan anak kandung, pikirnya. Kalau tidak, mengapa sang ayah memperlakukannya sekeras itu? Dia merasa, daripada terus bergantung, lebih baik mencari jalan hidup sendiri di luar.
Dia mencoba meminjam uang dari bank untuk memulai usaha, tapi karena tidak memiliki penjamin—dan ayahnya pun menolak menjadi penjamin—dia tak bisa mendapat pinjaman. Akhirnya, satu-satunya pilihan adalah kembali bekerja untuk orang lain. Namun karena sulitnya menjalin hubungan dan politik internal perusahaan, dia pun akhirnya tersingkir.
Dengan uang yang sedikit tersisa dari kerja lepas, dia membuka toko kecil. Usahanya cukup laris, hingga dia membuka usaha yang lebih besar. Perusahaannya tumbuh perlahan, hingga menjadi perusahaan menengah. Namun kebahagiaan itu tak bertahan lama. Karena kurang cakap dalam manajemen, usahanya bangkrut total. Dia merasa hancur dan bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri hidup. Tapi dalam keputusasaan itu, dia merenung. Dia berpikir kembali tentang sikap dingin ayahnya, tentang semua kegagalan dan kesalahan dalam hidupnya. Dia menarik pelajaran dari semuanya—dan bukannya menyerah, dia memilih bangkit kembali, menegakkan kepala dan memulai dari awal.
Pada saat itulah, sang ayah muncul. Dia membuka tangannya lebar-lebar dan memeluknya dengan erat. Lalu, ayahnya berkata bahwa kini saatnya dia memimpin perusahaan keluarga.
Dia terkejut dan bertanya: “Ayah, sekarang aku tak punya apa-apa, bahkan aku adalah orang yang gagal. Kenapa baru sekarang Ayah mempercayakan perusahaan ini padaku?”
Sang ayah menjawab: “Anakku, meski kamu tetap tak punya uang seperti dulu, tapi kini kamu punya sesuatu yang jauh lebih berharga—pengalaman hidup. Pengalaman ini adalah proses pembentukan dirimu yang sejati. Kalau dulu aku langsung menyerahkan perusahaan padamu, besar kemungkinan kamu akan gagal mengelolanya dan akhirnya kehilangan segalanya. Tapi sekarang, karena telah melalui jatuh bangun, kamu akan jauh lebih menghargainya. Kamu akan tahu bagaimana menjalankan dan mengembangkan perusahaan ini lebih baik. Ingat, dalam hidup ini, tanpa tempaan dan ujian, seseorang tidak akan bisa menjadi hebat.”
Ternyata sang ayah tidak salah. Pemuda itu kemudian membesarkan perusahaan yang tadinya kecil menjadi raksasa bisnis yang dikenal di seluruh dunia. Dia adalah Warren Buffett, Presiden Direktur Berkshire Hathaway, dan dikenal sebagai “Dewa Saham” Amerika. Hartanya hanya kalah dari Bill Gates.
Berkat didikan keras sang ayah, Warren Buffett tumbuh menjadi pribadi yang hemat dan bijak. Jasnya usang, mobilnya pun bukan keluaran terbaru, bahkan rumah yang dia tinggali pun sangat sederhana. Meski begitu, kekayaannya telah mencapai lebih dari 35 miliar dolar AS, dengan tingkat utang hampir nol—menjadikannya salah satu orang terkaya dan paling sukses di dunia.
Dari kisah Warren Buffett, kita belajar satu hal penting: ujian dan penderitaan dalam hidup adalah sebuah proses pembentukan diri yang tak ternilai. Memang, bukan berarti tanpa penderitaan seseorang tak bisa sukses, tapi justru lewat tempaan dan kesulitan itulah seseorang akan memiliki pengalaman, ketekunan, dan rasa syukur yang mendalam—yang semuanya akan menjadi fondasi kuat dalam menjalani hidup dan membangun masa depan.(jhn/yn)


