Etindonesia. Jika kamu berharap ada orang yang mendukungmu, maka jadilah lebih dulu orang yang mendukung orang lain.
Selalu ingatkan diri sendiri: “Berikan sesuatu untuk orang lain.”
Saat kita sedang terpuruk, tak bisa dipungkiri bahwa kita berharap:
“Semoga ada yang melindungiku,”
“Semoga ada seseorang yang maju membelaku.”
Manusia adalah makhluk yang rapuh—selalu merindukan pengertian dan dukungan, terutama di saat merasa paling tak berdaya.
Namun kadang, kita melihat ada orang yang meski lemah dan dilanda musibah, tetap mampu menggertakkan gigi dan bangkit lagi. Aku pernah bertemu dua anak muda seperti itu.
Orang yang telah menemukan makna hidupnya, meskipun usaha mereka bangkrut, hidupnya tertimpa bencana, atau menderita penyakit ganas dan berada di ambang kematian—mereka tak kehilangan jati diri.
Begitu mereka sadar bahwa mereka bisa membantu orang lain, mereka pun menemukan alasan untuk tetap hidup dan perlahan-lahan menjadi kuat.
Berikut ini adalah kisah dua anak muda luar biasa.
Selama Masih Bisa Hadir, Maka Ada Arti
Seorang gadis muda bernama Sabrin mengubah pandangan hidupnya yang dulu hanya berharap dilindungi. Dia tinggal di Basra, Irak, dan telah bertarung melawan leukemia selama sekitar lima tahun. Organisasi tempatku menjadi perwakilan, Jaringan Medis Jepang-Irak (JIM-NET), telah lama memberikan bantuan medis untuknya. Kini, penyakitnya hampir sepenuhnya terkendali, meski dia masih khawatir suatu saat bisa kambuh kembali.
Sabrin berasal dari keluarga miskin dan hidup dalam kondisi yang sangat berat. Namun dia adalah gadis yang cerdas, cantik, dan sangat berbakat dalam menggambar.
Hidup dalam kemiskinan membuatnya jadi pribadi yang sangat peka terhadap perasaan orang lain.
Aku pernah berbicara dengannya beberapa kali dan bertanya, apakah dia bersedia menjadi penguat semangat bagi anak-anak penderita leukemia lainnya. Aku ingin mempekerjakannya sebagai asisten di kelas rumah sakit (semacam sekolah kecil di dalam rumah sakit untuk pasien anak-anak). Selain bisa bekerja, kehadirannya di rumah sakit akan memudahkan deteksi dini jika penyakitnya kambuh.
Awalnya, dia menolak dengan ragu: “Aku tidak yakin bisa menjadi guru bagi anak-anak.”
Dia memang tak pernah menjalani pelatihan guru, bahkan pendidikan formalnya pun tidak lengkap karena kemiskinan. Tapi kami melihat hal berbeda. Bagi kami, hanya dengan hadir di ruang rawat saja, dia sudah membawa makna.
Di Irak, baik orangtua maupun anak-anak, percaya bahwa terkena leukemia berarti pasti mati. Di negara itu, sekolah rumah sakit tidak ada. Maka kami mendanai pelaksanaan kelas khusus di rumah sakit dan mempekerjakan Ibrahim, seorang mantan guru matematika.
Ibrahim pernah menderita depresi setelah istrinya meninggal karena leukemia. Saat itu dia berpikir, mungkin dengan menjadi guru di ruang rawat pasien leukemia, dia bisa menyembuhkan luka batinnya. Dan benar—kini dia mendedikasikan diri sepenuhnya untuk mendampingi anak-anak dan berhasil keluar dari depresinya.
Dia bahkan rela mempertaruhkan nyawa untuk menjemput anak-anak dari zona perang yang berbahaya, dan membawanya ke rumah sakit. Jika orangtua menolak, dia akan langsung datang untuk bernegosiasi.
Ibrahim adalah pria yang mudah menangis. Dia sering memohon sambil meneteskan air mata agar anak-anak diizinkan berobat. Dia pun bercerita tentang betapa pilunya kehilangan istri akibat kanker darah. Banyak orangtua yang semula keras hati, akhirnya luluh dan mengizinkan anak mereka dirawat.
Ketika Sabrin kembali ke rumah sakit, kali ini sebagai asisten guru, suasana ruang rawat langsung berubah. Para ibu pun mulai mengubah pandangan mereka—anak mereka mungkin bisa diselamatkan.
Anak-anak menyukai “Kak Sabrin”, menjadikannya idola. Sabrin menemukan kembali kekuatan untuk hidup dari anak-anak, dan anak-anak belajar bahwa jika mereka mau berjuang, mereka juga bisa sembuh.
Dari “Hanya 1%” Bisa Lahir Sebuah Kisah Baru
Guru baru yang masih pemula pun bisa memberi dampak. Memberi 1% untuk orang lain, lalu menerima 1% kembali dari mereka—interaksi sekecil itu bisa menghangatkan hati dan membuka cerita baru. Sabrin muda membuat ruang rawat terasa lebih manusiawi.
Berkat upaya ini, angka kematian awal untuk pasien leukemia akut di Basra turun di bawah 4,4%.
Dulu di Irak, anak yang absen sekolah 30 hari berturut-turut otomatis gagal naik kelas. Tapi Pemerintah Irak akhirnya mengubah kebijakan tersebut. Jam belajar di sekolah rumah sakit sekarang dihitung sebagai jam sekolah resmi, dan masa cuti sakit anak penderita kanker diperpanjang menjadi dua bulan. Akibatnya, semua anak yang belajar di sekolah rumah sakit bisa naik kelas.
Kami lalu menjalankan proyek besar yang belum pernah terjadi sebelumnya: membawa 120 orang, termasuk pasien kanker dan staf rumah sakit, pergi piknik bersama!
Semua ini terjadi karena satu hal: semua orang mulai belajar memberi sedikit perhatian pada orang lain. Cukup 1% saja.
Para ibu yang dulu hanya peduli pada anaknya sendiri, kini ikut merawat anak-anak lain. Budaya gotong royong ala Jepang mulai melunakkan hati orang-orang Arab. Keajaiban pun terjadi. Kualitas perawatan medis ikut meningkat.
Sepuluh tahun lalu, tingkat harapan hidup lima tahun bagi anak penderita leukemia di Irak hanya sekitar 30%. Tapi berkat dukungan sepuluh tahun penuh dari JIM-NET, kini angkanya meningkat hingga 60%. Sebuah pencapaian luar biasa.
Dengan anggaran sekitar 150 juta yen per tahun, kami terus mengirim obat-obatan dan alat medis ke Irak. Para guru yang dulu sempat ingin melarikan diri karena ancaman terorisme, kini tetap bertahan di Irak demi membantu anak-anak.
Sedikit tangan yang terulur akan membuat tangan lain ikut bergerak—menggapai mereka yang dalam kondisi lebih sulit. Sedikit bantuan bisa menciptakan reaksi berantai penuh kehangatan.
Kami mengenal Sabrin di Basra. Selama lima tahun, dia menjalani operasi dan radiasi dalam kondisi sangat berat. Namun kanker akhirnya menyerang kedua matanya, dan dia kehilangan penglihatan.
Di saat-saat terakhir hidupnya, dia berkata:
“Aku akan meninggal, tapi aku bahagia. Karena miskin, aku tak bisa sekolah. Tapi setelah terkena kanker, aku tinggal di rumah sakit anak di Basra. Di sana aku bertemu dr. Kamata dan Pak Ibrahim. Itu pertama kalinya aku diajari belajar. Dan akhirnya aku sadar, betapa menyenangkannya belajar.
Pak Ibrahim juga mengajariku menggambar, dan aku pun jatuh cinta pada seni. Gambar-gambarku dikirim ke Jepang, dicetak di kaleng cokelat. Orang Jepang yang baik hati membelinya, dan hasilnya dipakai untuk membeli obat untuk anak-anak yang sakit. Meski aku akan mati, aku senang bisa membantu anak-anak lain di Irak. Terima kasih banyak.”
Di usia 15 tahun, meski tubuhnya direnggut penyakit, Sabrin tetap tersenyum dan berkata bahwa dia bahagia bisa membantu anak-anak lain.
Siapa pun, hanya dengan sedikit perubahan dalam hati, bisa mulai memberi untuk orang lain. Dan ketika kita mulai memberi, hidup ini akan terasa lebih ringan. Hanya dengan berpikir bahwa kita bisa membantu orang lain, kita bahkan bisa mengalahkan rasa takut terhadap kematian.
Dari seorang gadis kecil penderita kanker darah, Sabrin tumbuh menjadi guru muda yang kuat, lembut, dan penuh kasih.
Melalui perannya sebagai pembimbing anak-anak penderita leukemia, dia menemukan arti hidup, menjadi gadis yang luar biasa tangguh.
Aku pun berpikir: Jika setiap orang punya hati yang hangat dan penuh empati, maka suatu hari kelak, tempat ini pun bisa berubah menjadi negeri tanpa teror.
Di dunia yang semakin kacau ini, kita justru lebih membutuhkan orang-orang yang bersedia meletakkan ego, dan hidup dengan prinsip memberi 1% untuk orang lain. Ibrahim dan Sabrin adalah dua contoh nyata: mereka tak menunggu bantuan, tapi memilih menjadi pemberi bantuan.
Di negeri penuh peperangan ini, aku belajar satu pelajaran berharga: Manusia mampu hidup untuk orang lain, dan ternyata memberi itu jauh lebih mudah dari yang kita kira. (jhn/yn)


