Melepas adalah Garis Bujur, Bertahan adalah Garis Lintang

EtIndonesia. “Aku rasa, suka atau tidak suka, manusia memang harus belajar melepaskan. Energi kehidupan selaras dengan alam semesta; setiap kali energi berkembang, pasti akan ada yang lama ditinggalkan dan yang baru muncul. Kalau tidak mau melepaskan, tidak akan pernah ada ruang untuk hal baru.” Itulah kutipan bernuansa filosofis yang diucapkan oleh sutradara Ning Hao saat diwawancarai menjelang rilis film terbarunya No Man’s Land. Dan memang karena berani melepaskan, Ning Hao bisa sampai di titik keberhasilannya sekarang.

Saat masih muda, Ning Hao diterima di Sekolah Film Shanxi. Waktu itu, dia yang hobi menggambar sering ditugaskan membuat poster film. Siapa sangka, saat dia menggambar sosok Andy Lau—bintang top Hong Kong—di atas kertas, dia tak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti dirinya akan benar-benar bekerja sama dengan sang superstar. Setelah lulus dari sekolah menengah kejuruan, Ning Hao melanjutkan kuliah dan belajar membuat video musik (MV). Di situlah benih impian film mulai tumbuh dalam dirinya.

Setelah lulus, dia ditempatkan di Teater Drama Provinsi Shanxi sebagai pegawai negeri. Gajinya bagus, dan kariernya punya prospek yang cerah. Namun, demi mengejar mimpi di dunia film, dia membuat keputusan besar—melepaskan pekerjaan nyaman itu, pindah ke Beijing, tinggal di ruang bawah tanah, dan mulai belajar di Akademi Film Beijing.

Dia bertekad menjadi pembuat film. Tapi tak disangka, jurusan yang menerimanya justru fotografi. Mau tak mau, dia pun terjun ke dunia fotografi dan dalam dua tahun saja sudah menjadi fotografer terkenal, dengan bayaran hingga 3.000 yuan per hari. Meski sukses, hatinya tetap terpaut pada dunia film. Setelah berpikir panjang, ia memilih kembali melepaskan—menjual seluruh perlengkapan fotografinya dan sepenuhnya fokus belajar produksi film.

Selama dua tahun berikutnya, dia membuat banyak video musik, hingga akhirnya jadi sutradara top MV di Beijing, dengan penghasilan tahunan 700–800 ribu yuan. Padahal saat itu dia masih berstatus mahasiswa di Akademi Film. Kalau mau, dia bisa terus meniti karier di jalur itu. Tapi lagi-lagi, Ning Hao memilih melepaskan—menggunakan seluruh uang hasil MV untuk membuat film.

Bagi Ning Hao, keputusan untuk terus melepaskan bukanlah tindakan sembrono. Dia menyebutnya sebagai “melangkah ke jurang demi kehidupan baru”. Dia tak pernah memberi jalan mundur bagi dirinya sendiri. Menurutnya, satu-satunya jalan yang benar adalah membuat film. Itulah hal yang tak boleh dilepaskan dan harus terus diperjuangkan. Maka, selain tahu kapan harus melepaskan, ia juga sangat tahu bagaimana cara bertahan.

Tahun 2003, menjelang kelulusannya dari Akademi Film, dia merilis film pertamanya berjudul Incense. Film ini langsung sukses besar, memenangkan berbagai penghargaan bergengsi, seperti Penghargaan Emas Unit Digital Asia di Festival Film Internasional Hong Kong ke-28, “Film Terbaik Tahun Ini 2004” versi Pusat Seni Hong Kong, hingga Film Terbaik di Festival Film Internasional Tokyo FILMeX ke-4. Di titik inilah karier perfilman Ning Hao benar-benar dimulai.

Namun, proses syuting Incense tidaklah mudah. Karena terbentur aturan investasi film nasional, rencana dana 1 juta yuan batal total. Ning Hao akhirnya menggalang dana sendiri sekitar belasan ribu yuan, dan bekerja sendirian sebagai penulis naskah, sutradara, dan kameramen. Dengan bantuan para dosen dan teman-teman, film itu akhirnya selesai. Kesuksesan ini tak lepas dari rasa percaya diri dan keteguhan hati dalam mengejar mimpi.

Tahun 2005, dia bersiap membuat film Mongolian Ping Pong. Tapi tepat sebelum syuting dimulai, sang investor menarik diri. Banyak yang menyarankan agar proyek itu dibatalkan, tapi Ning Hao bersikeras lanjut. Dia menguras seluruh tabungannya untuk memproduksi film itu. Akibatnya, lebih dari setengah kru meninggalkan proyek karena kekurangan dana. Namun Ning Hao tak menyerah. Film itu akhirnya meraih Golden Swan Award di Festival Film Anak Internasional Moskow.

Di sepanjang jalan hidupnya, masalah terbesar yang terus dihadapi Ning Hao adalah soal dana. Bahkan saat membuat film yang membuatnya terkenal, Crazy Stone , masalah pendanaan kembali terjadi. Meskipun didukung oleh skema investasi New Director Program dari Andy Lau dan terbukti menguntungkan, Ning Hao sebagai sutradara justru tak memperoleh keuntungan pribadi. Ketika produksi film terhambat karena kekurangan dana, dia bahkan menyumbangkan gajinya sendiri. Sampai-sampai, uang untuk mengisi bensin mobil pun tak tersisa. Pada titik itulah dia sempat tergoda untuk menyerah: “Apa aku harus pindah jalur karier?” Tapi dengan gigih, dia menolak menyerah, meyakini bahwa suatu hari kerja kerasnya akan berbuah manis.

Benar saja, setelah dirilis, Crazy Stone langsung meledak di pasaran. Film berbudget kecil dengan gaya humor khas Ning Hao ini sukses besar, meraih pujian penonton dan penghargaan dalam dan luar negeri. Talenta luar biasa Ning Hao pun menarik banyak investor, dan sejak saat itu ia tak pernah lagi kesulitan mencari dana untuk membuat film.

Bagi Ning Hao, jika hidup adalah sebuah kapal, maka melepaskan adalah garis bujur dan bertahan adalah garis lintang. Berani melepaskan akan membantumu mengoreksi arah, dan berani bertahan akan membantumu menembus badai. Hanya jika keduanya berjalan bersama, kapal kehidupan bisa sampai di pelabuhan kesuksesan.

INSPIRASI ERABARU

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

Mengapa Kita Tidak Bisa Berhenti Membicarakan Orang Lain

Ada cara untuk menggunakan gosip secara bijaksana Debbie Cohen Michelle Tennant tahu betapa menyakitkannya menjadi sasaran gosip yang tidak berdasar. Beberapa tahun lalu, ia mengetahui bahwa seorang...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine