Hingga hari ini, pola baru perdagangan global pasca-perang tarif Trump mulai terbentuk. Pertanyaannya: apakah pola ini akan bisa bertahan? Federal Reserve mempertahankan suku bunga tidak berubah dan belum memberikan sinyal pemangkasan pada September; Amerika Serikat dan Korea Selatan mencapai kesepakatan dagang; dan nilai pasar Microsoft melampaui 4 triliun dolar AS.
Dong Fang
Dalam dua minggu terakhir, Trump telah menyepakati beberapa perjanjian dagang. Garis besar perang tarif Trump kini sudah terlihat jelas. Mitra dagang utama dan sekutu-sekutu AS telah membuat banyak konsesi terhadap tuntutan pemerintah Trump — tanpa memperoleh konsesi serupa dari pihak AS.
Konsesi terbaik yang bisa diberikan Trump hanyalah tarif timbal balik sebesar 10%, itu pun hanya untuk “kerabat dekat” seperti Inggris. Level kedua, yaitu tarif 15%, diberikan kepada sekutu seperti Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan — dan mereka pun masih harus membeli produk AS atau melakukan investasi besar. Level ketiga adalah untuk negara-negara sahabat seperti Vietnam dan Indonesia.
Di bawahnya lagi, terdapat tarif yang lebih tinggi: India dikenai 25%, Brasil 50% — yang bertujuan untuk memberi tekanan. Mengenai Tiongkok, posisi tarifnya belum ditentukan, tetapi jelas tidak termasuk dalam tiga level teratas tersebut.
Apabila kesepakatan tarif ini tidak dibatalkan oleh Kongres atau pengadilan AS, dan tidak dinyatakan inkonstitusional, maka tidak diragukan lagi — ini akan menjadi pencapaian terbesar Trump dan warisan politiknya yang paling signifikan, dengan dampak mendalam terhadap tatanan ekonomi global.
Melihat ke belakang, strategi Trump yang tampak kacau tapi efektif ternyata berhasil. Ia mengubah tatanan yang dianggap tidak adil oleh pemerintahannya melalui tekanan ekstrem — meminta harga setinggi langit, lalu menurunkannya sedikit untuk menciptakan kesan kompromi.
Tarif impor rata-rata AS yang dulunya hanya sekitar 2%, kini berhasil dinaikkan menjadi minimum 10%. Dan para mitra dagang bahkan merasa lega karena tidak dikenai tarif yang lebih parah.
Strategi Trump yang menyerupai banteng masuk ke toko porselen ini sangat berbeda dengan presiden-presiden AS sebelumnya. Umumnya, presiden AS memisahkan urusan pertahanan dan perdagangan: pertahanan ya pertahanan, perdagangan ya perdagangan.
Menurut Trump, ini adalah kesalahan besar. Ia percaya bahwa payung perlindungan militer AS adalah aset yang sangat berharga — mengapa tidak digunakan sebagai alat tawar-menawar? Jika AS melindungi keamanan sekutunya, maka sekutu harus membayar kompensasi — dalam bentuk tarif rendah dari AS dan akses pasar seluas-luasnya bagi produk Amerika.
Trump meyakini bahwa sekutu-sekutu AS sangat bergantung pada Amerika baik dalam aspek keamanan maupun strategi ekonomi. Bahkan bila menandatangani kesepakatan tarif yang tidak seimbang pun, ketergantungan itu tidak akan berubah. Misalnya, ketika Trump menyatakan ingin menguasai Greenland, Denmark tetap tidak keluar dari NATO.
Jepang pun tidak akan berpaling ke Tiongkok hanya karena dikenai tarif baru. Trump juga percaya bahwa organisasi global seperti WTO hanyalah simbol semata — tidak seefektif perjanjian dagang bilateral langsung antara AS dan negara lain, yang lebih menguntungkan bagi kepentingan AS. Sejauh ini, kenyataannya memang begitu.
Tentu saja, semua ini memiliki sisi negatif. Pertama, meskipun Trump telah berhasil membuka akses pasar negara-negara sekutu, belum tentu produk AS bisa masuk secara luas. Itu tergantung apakah industri manufaktur dalam negeri AS mampu bersaing. Biaya tenaga kerja yang tinggi mungkin akan membuat harga produk AS kurang kompetitif. Reindustrialisasi AS masih dalam tahap pengamatan. Kedua, Trump sering berubah-ubah. Ia bisa saja membatalkan perjanjian sewaktu-waktu — seperti yang ia lakukan terhadap perjanjian NAFTA di masa jabatan pertamanya.
Pemerintah asing, walau kini menandatangani kesepakatan tidak setara, tetap memegang harapan bahwa masa jabatan Trump hanya empat tahun dan presiden berikutnya mungkin tidak akan melanjutkan kebijakannya. Ketiga, Trump menggunakan Emergency Powers Act untuk menerapkan perang tarif ini — kebijakan yang kini menghadapi tantangan konstitusional. Jika tarif menyebabkan inflasi, dukungan rakyat AS pun bisa goyah.
Apakah fondasi dari perang tarif Trump cukup kuat? Apakah pasar modal akan mengalihkan arah investasinya karena perubahan insentif ini? Semua masih belum jelas.
Namun semua kekhawatiran itu adalah urusan masa depan. Jika dilihat dari sudut pandang saat ini, strategi kombinasi antara keamanan dan perdagangan ala Trump masih bisa dijadikan pelajaran.
Selama bertahun-tahun, presiden-presiden AS sebelumnya terus membujuk sekutu agar berbagi tanggung jawab dan membuka pasar mereka lebih lebar untuk produk AS — tanpa hasil.
Kini, Trump hadir dengan pendekatan agresif: menghancurkan aturan lama dan mengocok ulang seluruh permainan. Bahkan ia yang memutuskan siapa yang boleh ikut bermain. Gaya negosiasi yang keras dan berbasis kekuatan ini, dalam zaman yang penuh risiko dan ketidakpastian seperti sekarang, memiliki nilai penting sebagai penunjuk arah.
Apakah Trump akan memenangkan Hadiah Nobel Ekonomi? Belum tentu. Tapi kalau penerusnya tidak meniru strateginya, maka risikonya akan besar. (hui/asr)


