EtIndonesia. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memanaskan tensi perdagangan global setelah melontarkan kritik keras kepada India terkait praktik pembelian dan penjualan minyak asal Rusia. Dalam pernyataan resminya yang diunggah di Truth Social pada tanggal 4 Agustus 2025, Trump secara gamblang menuduh India mengambil keuntungan besar dari konflik Rusia-Ukraina dengan membeli minyak Rusia dalam jumlah masif dan kemudian menjualnya kembali ke pasar internasional.
Trump menegaskan, tindakan India tersebut tidak hanya mengabaikan penderitaan rakyat Ukraina yang menjadi korban perang, tetapi juga secara terang-terangan merusak efektivitas sanksi internasional terhadap Rusia. Sebagai bentuk tekanan, Trump mengancam akan memberlakukan tarif impor tambahan secara signifikan terhadap berbagai produk asal India.
Tarif 25% Sudah Berlaku, Sanksi Tambahan Mengancam
Langkah tegas sudah mulai diterapkan sejak 30 Juli 2025, di mana pemerintahan Trump menetapkan tarif impor sebesar 25% untuk sejumlah produk India yang masuk ke pasar Amerika Serikat. Trump menegaskan, sanksi dagang ini hanyalah permulaan. Jika India tidak segera menghentikan transaksi energi dan militer dengan Rusia, maka Washington siap menambah daftar produk yang dikenai tarif tinggi.
Trump juga menyoroti kebijakan perdagangan India yang dinilai terlalu protektif dan menimbulkan berbagai hambatan non-tarif bagi produk-produk Amerika. Dalam pandangannya, India bukan hanya memasang tarif tinggi, tetapi juga menjadi salah satu pembeli utama energi dan perlengkapan militer Rusia, yang berpotensi melemahkan daya tekan sanksi internasional terhadap Moskow.
Sikap Hati-hati Pemerintah Modi: Pilihan Diserahkan ke Perusahaan
Sementara itu, menurut laporan Bloomberg dan Politico, Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengambil sikap hati-hati dengan tidak secara langsung melarang atau membatasi pembelian minyak Rusia oleh perusahaan nasional. Alih-alih, Modi menyerahkan keputusan tersebut pada masing-masing entitas, baik BUMN maupun swasta. Kebijakan non-blok India tetap dipertahankan, dengan alasan menjaga hubungan baik baik dengan Rusia maupun Amerika Serikat.
Namun, situasi ini menimbulkan friksi perdagangan yang semakin tajam dengan Washington. Trump menegaskan, meski India adalah “sahabat Amerika”, posisi dagang serta kebijakan energinya yang cenderung pro-Rusia membuat Pemerintah AS merasa dikhianati dan mempertimbangkan sanksi tambahan di masa depan.
Respons Kementerian Luar Negeri India: Prioritaskan Stabilitas Energi Nasional
Menanggapi ancaman Trump, Kementerian Luar Negeri India pada tanggal 4 Agustus 2024 langsung menyampaikan pernyataan resmi. Pemerintah India menegaskan, perubahan drastis dalam pola pasokan energi global akibat konflik di Ukraina telah memaksa India mencari alternatif, termasuk dari Rusia, demi menjaga stabilitas dan keamanan energi nasional.
Pemerintah India juga menyinggung bahwa pemerintahan Presiden Joe Biden sebelumnya bahkan mendorong negara-negara Asia, termasuk India, untuk membeli minyak Rusia guna menstabilkan pasar energi dunia. Oleh karena itu, kritik tajam dari negara-negara Barat dianggap tidak adil. India pun berjanji akan terus membela kepentingan nasionalnya dan tidak akan tunduk pada tekanan eksternal.
Dalam konteks ini, Modi juga menyerukan gerakan nasional “Make in India” sebagai upaya memperkuat kemandirian ekonomi dan menghadapi ketidakpastian global yang dipicu oleh eskalasi perang dan perseteruan dagang.
Data Terbaru: India dan Tiongkok Dominasi Impor Minyak Rusia
Ketegangan ini turut diperkuat oleh data terbaru yang dipaparkan oleh staf senior Trump, Stephen Miller, dalam sebuah wawancara di Fox News. Miller menuding India sebagai salah satu konsumen utama minyak Rusia, hanya terpaut sedikit dari Tiongkok. Menurut data tersebut, Tiongkok mengimpor sekitar 2,4 juta barel minyak Rusia per hari (36% dari total ekspor Rusia), sementara India mencapai angka 1,9 juta barel per hari (28%). Secara kolektif, kedua negara ini menyerap lebih dari setengah ekspor minyak Rusia ke pasar global.
Kondisi ini membuat tekanan terhadap India kian besar. Beberapa analis meyakini, Tiongkok akan terus bertahan dengan posisinya yang kuat, sedangkan nasib India bergantung pada manuver dan keputusan yang diambil dalam beberapa hari ke depan, terutama menjelang tenggat waktu ultimatum Trump terkait penghentian perang Ukraina pada 7 Agustus mendatang.


