EtIndonesia. Di zaman sekarang, ketika segala sesuatu menekankan pada “aku, aku, dan aku”, yang paling penting justru adalah menempatkan diri di posisi orang lain—meski hanya 1%.
Kita menyaksikan banyak peristiwa menyedihkan yang terjadi, dan yang mengejutkan adalah, banyak pelaku justru merasa dirinya adalah korban. Sikap “hanya memikirkan diri sendiri” memang tidak selalu menimbulkan bencana besar, tapi bisa membuat kehidupan sehari-hari dipenuhi hal-hal yang membuat kita lelah dan jengkel. Maka di era yang serba egosentris ini, yang paling dibutuhkan adalah empati, walau hanya 1%.
“Setiap kali lakukan 1%,” maka keadaan pasti akan membaik. Memberi 1% saja untuk orang lain, bisa mengubah masyarakat. aku percaya, dalam 1% tersimpan kekuatan untuk mengubah dunia.
Aku sering mengunjungi wilayah-wilayah yang sedang dilanda krisis seperti Irak, Ukraina, dan Palestina. Ketegangan di sana makin meningkat, dan dalam beberapa tahun terakhir, Jepang, Tiongkok, dan Korea Selatan juga sering dilanda konflik dan kebencian. Dalam kondisi seperti ini, meskipun kita berdiri teguh membela tanah air sendiri, tetap perlu ada upaya memahami sudut pandang negara lain—cukup 1% saja. Kadang, hanya 1% pemahaman itu saja sudah cukup untuk mencegah terjadinya perang.
Selama ini, aku menjalani hidup dengan prinsip “memberi 1% untuk orang lain.” aku percaya bahwa 1% itu akan berubah menjadi kekuatan untuk dirku sendiri. Dan kelak, kekuatan itu bisa kembali diberikan kepada mereka yang membutuhkan.
Setiap kali memberi 1%, biarkan dia terus berputar dan beredar. Sampai akhirnya, kita pun tak lagi tahu: Apakah itu masih cuma 1%, atau sudah menjadi kekuatan yang melampaui 100%.
Jika secuil niat baik itu dapat terus beredar dan menyebar, lalu berkembang menjadi kekuatan 100% lebih, itu akan menjadi hal yang luar biasa.
Meski punya potensi sebesar itu, aku tetap ingin menyebutnya sebagai “1%.” Karena jika hanya 1%, kita tidak perlu menekan diri terlalu keras, dan pihak yang menerima juga tak akan merasa terbebani.
Manusia adalah makhluk rapuh yang tidak bisa hidup sendiri. Itulah mengapa kita belajar mencintai. Dan ketika kita sudah punya orang yang kita cintai, kita akan hidup dengan segenap tenaga, demi diri kita sendiri dan demi orang yang kita sayangi.
Meski aku sering berkata “jangan terlalu ngoyo,” nyatanya aku sendiri terus berjuang sekuat tenaga. Karena hidup adalah perjuangan—lemparan bola penuh tenaga!
Tapi, tapi… Demi melindungi orang yang kita cintai, demi mempertahankan pekerjaan yang penting bagi kita, ketika sudah memberikan 100% tenaga, aku mulai sadar akan makna penting dari “1% ekstra.”
Saat bekerja, yang penting adalah tidak puas hanya dengan 100%, melainkan muncul dorongan dari hati untuk melampaui batas. Saat mencintai, yang penting adalah membiarkan kasih itu meluap.
Manusia memang makhluk egois, hidup di tengah persaingan kapitalisme. Hidup untuk diri sendiri saja sudah sulit, apalagi memberi untuk orang lain. Tapi kemudian aku menyadari, jika kita bisa menambahkan 1% niat baik untuk orang lain, maka tubuh kita akan melepaskan hormon kasih (oksitosin), yang membuat hidup kita lebih bahagia, lebih sehat, dan lebih panjang umur. Bahkan, itu bisa menurunkan risiko hipertensi dan pengerasan arteri. Karena manusia adalah makhluk yang punya hati— memberi itu sehat.
Aku juga menemukan, bahwa dengan hati 1%, dengan menempatkan diri di posisi orang lain, suasana kerja, keluarga, dan lingkungan bisa berubah secara drastis. Prinsip “1%” ini punya daya tahan yang luar biasa. Keteguhan menjalankannya adalah sebuah kekuatan.
Aku sudah terlibat dalam kegiatan bantuan untuk korban bencana nuklir Chernobyl selama 24 tahun, membantu anak-anak penderita leukemia di Irak selama 10 tahun, dan rutin melakukan dua kali perjalanan setahun bersama teman-teman pengguna kursi roda selama satu dekade. Saat pertama kali pergi ke zona bencana Chernobyl dan medan perang di Irak, semua orang menyebutku bodoh.
Tapi saat seseorang hidup berdasarkan prinsip “1%,” dia akan terlihat bodoh di mata dunia—namun justru itulah kebebasan sejati. Tak perlu menyerahkan seluruh hidupmu, cukup bawa hati 1% saja—dan kamu bisa melayang bebas.
“Tak yakin bisa menyerahkan pekerjaan pada Kamata yang bahkan tidak tahu apa-apa!” Semakin banyak orang yang khawatir padaku seperti itu. Tapi dari mereka, juga mengalir ribuan 1% dorongan dan dukungan. Dan aku pun tak pernah meremehkannya, aku balas dengan 1% niat baik, 1% tenaga, 1% kesabaran, dan 1% empati yang aku bisa kumpulkan.
Gabungan dari 1% demi 1% bisa menjadi kekuatan yang tak terhingga. aku pun menyadari sisi diriku yang dulu bilang “jangan terlalu ngoyo,” namun tetap berjuang sejauh ini, dan sisi diriku yang terus mengingatkan “cukup 1%, cukup 1%,” namun diam-diam menargetkan 101%.
“1%” bisa jadi kunci awal untuk memulai segala hal. Ketika menghadapi hal menyebalkan, pikirkan: “tahan 1% lagi.” Saat bertemu kesulitan, pikirkan: “paksa diri 1% lagi.” Saat ragu melangkah, pikirkan: “coba lakukan 1% dulu.” aku telah menjalankan gerakan membentuk pola hidup sehat selama 40 tahun.
Dan yang selalu aku katakan pada masyarakat setempat adalah: “Maukah Anda mencoba mengubah kebiasaan hidup dengan 1% usaha saja?”
Mengubah kebiasaan hidup yang telah bertahun-tahun mengakar memang tidak mudah. Tapi kalau hanya 1%, kita semua pasti bisa.
Dengan hanya 1%, sebuah daerah bisa berubah wajah. Warganya bahkan bisa menjadi penduduk paling panjang umur di Jepang. Dan aku pun menemukan: hidup seseorang juga bisa berubah hanya karena 1%.
1% adalah angka yang ajaib. Dibanding 100%, dia tampak sepele. Tapi dibanding 0%, dia luar biasa besar. Dia mengandung potensi tak terbatas.
Jika kamu bisa mengubah sudut pandangmu 1% saja, hidupmu bisa berubah. Jika setiap orang mengubah sikap hidupnya 1% saja, maka masyarakat kita akan berubah. Bahkan dunia pun bisa ikut berubah.
Itulah kekuatan dari “mekanisme 1%.” Karena dalam 1% tersimpan kekuatan yang luar biasa.(jhn/yn)


