Dokumenter BBC yang Butuh 56 Tahun untuk Diselesaikan: Mengikuti Kehidupan 14 Anak Inggris Sejak Usia 7 Tahun hingga 63 Tahun, dan Mengungkap Realita Kehidupan yang Pahit

EtIndonesia. BBC membuat sejarah melalui dokumenter fenomenal berjudul Seven Up! atau The Up Series—sebuah proyek epik yang dimulai sejak tahun 1964, mengikuti kehidupan 14 anak dari berbagai kelas sosial di Inggris mulai dari usia 7 tahun hingga mereka berusia 63 tahun.

Awalnya, tujuan utama dokumenter ini adalah membuktikan bagaimana perbedaan kelas sosial dapat membentuk jalan hidup seseorang. Namun, semakin lama proses dokumentasi berlangsung, semakin jelas pula satu hal: hidup tak sesederhana teori—dia penuh kejutan dan kenyataan pahit yang sulit ditebak.

Dari Usia 7 ke 63 Tahun: Sebuah Potret Nyata Kehidupan

Pada episode pertama Seven Up! yang disutradarai oleh Paul Almond, ke-14 anak ini diwawancarai dan diminta menceritakan impian mereka tentang masa depan. Episode-episode selanjutnya—disutradarai oleh Michael Apted—mengikuti perkembangan mereka setiap 7 tahun: di usia 14, 21, 28, hingga 63 tahun.

Anak-anak ini berasal dari berbagai latar belakang—dari anak aristokrat, kelas menengah, hingga anak buruh dari London Timur.

Sutradara Michael Apted semula hanya ingin mengeksplorasi pengaruh kelas sosial terhadap kehidupan seseorang. Namun, seiring waktu, dokumenter ini justru membuka pertanyaan yang lebih dalam: Apa sebenarnya yang menentukan nasib seseorang? Apakah pendidikan? Lingkungan? Teman? Atau… kepribadian?

3 Anak Kaya: Pasti Masuk Universitas Top

Tiga anak laki-laki dari keluarga kaya—Charles, Andrew, dan John—sejak usia 7 tahun sudah tahu satu hal: mereka harus masuk universitas elite seperti Oxford atau Cambridge, lalu menjadi bagian dari kelas atas masyarakat.

Mereka pun benar-benar berhasil:

·        Andrew menjadi pengacara sukses dan mitra di firma hukum besar. Dia percaya keberhasilannya bukan karena harta orangtua, tapi karena pendidikan.

“Kita tak pernah tahu warisan apa yang bisa kita tinggalkan, tapi pendidikan adalah harta seumur hidup,” ujarnya.

·        John, yang kehilangan ayah saat berusia 9 tahun, berhasil masuk Cambridge berkat pengorbanan ibunya yang sangat hemat. Dia kemudian menjadi penasihat hukum untuk keluarga kerajaan Bulgaria.

 Meskipun sering dilabeli “elit”, John merasa semua itu hasil kerja keras dan keteguhan pribadinya.

Anak-anak Kelas Menengah: Nasib yang Tak Bisa Diprediksi

Tiga anak laki-laki dari kelas menengah—Peter, Neil, dan Bruce—memiliki pandangan positif terhadap pendidikan, namun jalan hidup mereka berbeda jauh.

·        Peter dan Bruce menjalani hidup relatif stabil, berhasil masuk universitas, menjadi pegawai negeri dan guru, serta hidup bahagia dengan keluarga masing-masing.

·        Neil, meski berasal dari keluarga guru, menghadapi depresi sejak remaja. Dia gagal masuk universitas impian, sempat hidup menggelandang, dan baru di usia 40 tahun menemukan arah hidup: bekerja sebagai konsultan dewan lokal dan pendeta sukarela.

Perempuan Kelas Buruh: Penuh Duka Tapi Penuh Ketegaran

Tiga perempuan dari keluarga buruh di London Timur—Susan, Jackie, dan Lynn—semuanya mengalami tantangan besar: perceraian, kemiskinan, dan membesarkan anak sebagai ibu tunggal.

Namun, Susan tetap menjadi inspirasi. Dia selalu tampil ceria, pantang menyerah, dan terus mencari cara untuk memperbaiki hidup.

·        Menikah di usia 21 tahun dan memiliki dua anak.

·        Bercerai di usia 35, lalu bekerja paruh waktu demi membiayai anak-anaknya.

·        Di usia 42, mendapat pekerjaan penuh waktu dan menjalin hubungan bahagia dengan Glenn selama lebih dari 20 tahun.

·        Di usia 49, dipromosikan sebagai manajer proyek riset di fakultas hukum universitas.

Saat ditanya apakah dia percaya kelas sosial itu nyata, Susan menjawab: “Tentu saja,” namun dia juga mengaku nyaman berada di kelas pekerja, tanpa keinginan pindah ke kelas atas.

Tony: Si Anak Jalanan yang Tak Menyerah

Tony, yang juga berasal dari London Timur, awalnya ingin jadi joki balap kuda. Tapi karena bakatnya terbatas, dia banting setir menjadi sopir taksi.

·        Di usia 21, dia hafal jalan-jalan kota dan merangkap sebagai kurir taruhan di arena balap.

·        Di usia 28, dia berhasil membeli taksi sendiri dan hidup mandiri.

·        Beberapa kali mencoba bisnis dan gagal, tapi tetap optimis.

·        Di usia tua, meski penghasilannya menurun akibat Uber, dia membeli rumah di pedesaan, beternak kuda, dan ikut teater komunitas kecil.

Tony berkata: “Kalau kamu suka sesuatu, lakukan saja. Gagal atau tidak itu urusan nanti. Yang penting pernah mencoba.”

Nick: Anak Petani yang Sukses Jadi Ilmuwan Nuklir

Nick, satu-satunya dari 14 anak yang benar-benar berhasil naik kelas sosial secara signifikan.

·        Tinggal di desa terpencil dan harus jalan kaki 5 km tiap hari ke sekolah.

·        Pendiam, minder, dan nyaris tak berbicara di depan kamera saat kecil.

·        Tapi satu kalimat motivasi dari guru membuatnya semangat belajar sains.

·        Di usia 21 masuk jurusan fisika Oxford, lalu pindah ke Amerika Serikat dan jadi peneliti nuklir di University of Wisconsin-Madison.

Di usia tua, Nick tampil percaya diri di depan kamera—jauh dari bayang-bayang anak pemalu yang dulu.

Simpanan Pelajaran: Nasib Tak Sekadar Ditentukan Kelas Sosial

Tidak semua dari ke-14 partisipan terus hadir hingga akhir. Ada yang meninggal, ada yang tak ingin diliput lagi.

Tapi dokumenter ini telah menyampaikan satu pesan penting: Pendidikan dan kepribadian memberi pengaruh besar dalam menentukan masa depan.

Dalam dunia nyata, terkadang kelinci tidak bisa mengalahkan kura-kura—karena si kura-kura memang lahir langsung di garis akhir. Seperti anak orang kaya yang dari awal sudah punya semua sumber daya.

Sedangkan anak-anak dari kelas bawah—jika ingin masuk universitas elit—harus bekerja 10 kali lebih keras.

Kelinci punya pilihan: lari atau tidak. Tapi kalau dia mau berlari sekencang mungkin, seperti Nick, masih ada harapan untuk membalikkan keadaan.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine