- Seorang gadis berusia 14 tahun di Kota Jiangyou, Provinsi Sichuan, Tiongkok baru-baru ini menjadi korban perundungan kejam oleh anak-anak dari keluarga berpengaruh. Para pelaku memaksa korban melepas pakaian, berlutut, menampar, menendang, dan memukulinya dengan tongkat. Setelah video perundungan tersebut tersebar, publik marah besar.
- Pada 4 Agustus, ribuan warga berunjuk rasa di depan kantor pemerintah Kota Jiangyou. Pihak berwenang mengerahkan banyak polisi untuk melakukan penindasan brutal, menyebabkan bentrokan berdarah dan penangkapan massal. Peristiwa ini memicu perhatian luas baik di dalam maupun luar negeri, namun pemerintah berusaha keras menyensor pemberitaannya. Teriakan dari warga di lokasi: “Polisi memukul orang! Memukul orang!”
EtIndonesia. Saat menggelar aksi protes 4 Agustus 2025, ribuan warga berkumpul di depan kantor pemerintah Kota Jiangyou. Mereka menuntut hukuman tegas bagi para pelaku perundungan. Mereka meneriakkan slogan-slogan dan menyuarakan ketidakpuasan. Beberapa orang bahkan berteriak: “Turunkan Partai Komunis!”
Tak lama kemudian, otoritas mengerahkan polisi dalam jumlah besar untuk menindas para demonstran secara brutal. Banyak warga mengalami luka-luka parah, bahkan sampai berdarah di kepala.
Dalam video yang beredar, tampak seorang pemuda dipukuli oleh sejumlah polisi saat berusaha melindungi seorang lansia yang sedang berargumen dengan petugas keamanan.
Warga di tempat kejadian: “Menindas rakyat! Menindas rakyat!”
Perundungan ini terjadi pada 22 Juli, di mana korban dipukuli selama berjam-jam oleh sekelompok pelaku, dipaksa melepaskan pakaian dan berlutut sebagai bentuk penghinaan. Namun video peristiwa itu baru tersebar di internet pada 2 Agustus.
Menurut laporan, ibu korban adalah seorang tunarungu, dan ayahnya adalah petani biasa. Korban disebut sudah sering menjadi sasaran perundungan. Para pelaku sempat dibawa ke kantor polisi, namun dibebaskan segera dengan alasan masih di bawah umur, tanpa mendapat hukuman yang layak. Bahkan kali ini pun, pemerintah terkesan menunda dan mengabaikan penanganan kasus. Setelah videonya viral, opini publik langsung meledak.
Di bawah tekanan masyarakat, pada 4 Agustus pagi, polisi lokal akhirnya mengeluarkan pernyataan bahwa hasil visum menyatakan korban hanya mengalami “luka ringan”, dan menyebut dua pelaku telah dikenai hukuman administratif, sementara pelaku lainnya hanya diberi “teguran dan pembinaan”. Penjelasan ini justru memperparah kemarahan publik.
“Memang benar luka fisik adalah luka, tapi bagaimana dengan luka batin? Apakah itu bukan luka juga? Bahkan bisa menjadi luka seumur hidup. Luka batin itu yang paling sulit disembuhkan,” ujar pembawa acara “News Highlights”, Li Muyang.
Beredar kabar bahwa salah satu pelaku memiliki latar belakang keluarga pejabat Partai Komunis, sehingga dilindungi oleh otoritas. Namun pada 5 Agustus, polisi mengeluarkan pengumuman darurat bahwa mereka telah menindak orang-orang yang disebut sebagai “penyebar rumor” terkait kasus ini.
“Melindungi pelaku kejahatan adalah cerminan dari sifat jahat Partai Komunis Tiongkok (PKT). Dalam sistem PKT, kekuasaan selalu berada di atas hukum. Karena sering kali, pelaku kejahatan adalah orang-orang yang punya ‘bekingan’ dari PKT — dengan kata lain, orang-orangnya sendiri,” kata Li Muyang.
Pada 5 Agustus dini hari, pihak berwenang kembali mengerahkan polisi untuk membubarkan massa. Mereka menggunakan tongkat dan semprotan merica untuk menyerang demonstran. Banyak warga ditangkap dan dibawa pergi dengan truk pengangkut babi. Namun, video terkait dengan cepat dihapus dari media sosial, dan topik tersebut dibungkam habis-habisan oleh pemerintah.
“(PKT) buru-buru ingin menutup-nutupi, jadi hanya bisa menggunakan cara-cara keras. Begitu mesin kekerasan diaktifkan, mereka langsung menggilas. Tapi saat penindasan makin kuat, dampaknya justru makin besar,” ujar warga Sichuan, Li Ming.
Banyak warga menyatakan bahwa protes rakyat akibat kasus perundungan ini membuat pemerintah ketakutan. Mereka percaya bahwa hanya dengan keberanian rakyat yang bersatu, kekuasaan otoriter PKT bisa digulingkan.
“Mereka itu sangat jahat. Banyak orang sekarang sudah di ambang keputusasaan. Rakyat punya keberanian untuk bangkit — kemarahan ini bisa meledak kapan saja,” ujar Warga Sichuan, Wang Yu.
Pengamat independen Cai Shenkun juga menulis bahwa ketika pemerintah daerah dan aparat penegak hukum gagal menangani kasus sederhana seperti ini, serta gagal meredam krisis, hal itu menunjukkan bahwa masyarakat Tiongkok ibarat tong mesiu — bisa meledak sewaktu-waktu karena satu insiden saja. (hui/asr)
oleh Tang Rui dan Hong Ning untuk NTD Television


