Kasus “Raja Baja” Filipina Dibunuh Setelah Diculik — Wanita Kejam Asal Tiongkok Ditangkap Saat Kabur Pakai Topeng

Kasus penculikan dan pembunuhan “Raja Baja” Anson Que yang menggemparkan komunitas Tionghoa kini mengalami perkembangan besar. 

Pelaku utama yang dijuluki polisi sebagai “wanita kejam”, seorang warga negara Tiongkok bernama Gong Wenli (nama disesuaikan), telah berhasil ditangkap. 

Polisi Filipina menyatakan bahwa Gong terlibat dalam sedikitnya 15 kasus penculikan lainnya. Saat kabur, ia menggunakan topeng plastik 3D berteknologi tinggi yang sangat menyerupai wajah wanita Kaukasia, namun tetap berhasil dikenali dan ditangkap.

EtIndonesia. Kasus penculikan dan pembunuhan “Raja Baja” Filipina Anson Que akhirnya terungkap.  Keterangan polisi Filipina menyebutkan penangkapan dilakukan berdasarkan informasi dari informan. Polisi berhasil menangkap Gong Wenli dan seorang pria lain yang turut terlibat, di sebuah resor mewah di Pulau Boracay. Saat itu, Gong sedang bersama kedua orang tuanya.

Polisi menyita sebuah topeng plastik 3D yang sangat realistis di lokasi penangkapan. Topeng tersebut dibuat berdasarkan wajah wanita Eropa dan digunakan Gong selama pelariannya untuk menyamarkan identitas. Pria yang ditangkap bersamanya diketahui adalah seorang penata rambut yang diduga membantu Gong dalam menyamar demi menghindari kejaran aparat.

Juru bicara Kepolisian Nasional Filipina menyebutkan bahwa Gong terbang ke Pulau Boracay dengan jet pribadi pada 26 April lalu dan sejak itu sering berpindah-pindah tempat tinggal untuk menghindari pelacakan.

Penyelidikan polisi kemudian mengungkap fakta mengejutkan bahwa kasus penculikan “Raja Baja” hanyalah bagian kecil dari seluruh aksi kejahatan Gong. Ia ternyata telah menjadi figur mengerikan di mata komunitas pengusaha Tionghoa lokal karena terlibat dalam sedikitnya 15 kasus penculikan lainnya.

Kasus penculikan terhadap “Raja Baja” Anson Que terjadi di Filipina. Korban yang kini berusia 68 tahun adalah pendiri perusahaan baja ternama “Elison Steel” dan dikenal luas di kalangan komunitas Tionghoa Filipina sebagai “Raja Baja”. Ia juga menjabat sebagai ketua pendiri Kamar Dagang Tiongkok di Filipina.

Pada 29 Maret lalu, saat menghadiri jamuan makan malam bersama sopirnya, Anson Que diculik di tengah perjalanan. Para penculik lalu menghubungi keluarga korban dan menuntut uang tebusan dalam jumlah besar. Meskipun keluarga telah membayar tebusan sebanyak tiga kali dengan total sekitar 210 juta peso (sekitar 3,75 juta dolar AS), Anson Que tetap dibunuh oleh para penculik. (Hui/asr)

Sumber ; NTDTV.com

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine