Torsten Trey, pendiri Doctors Against Forced Organ Harvesting, mengatakan bahwa skala pembunuhan ini mengingatkan pada Nazi.
EtIndonesia — Sekitar 1,6 meter dari lokasi Kongres Transplantasi Dunia (World Transplant Congress/WTC) yang berlangsung pada 2–6 Agustus di Moscone Center, San Francisco, sekelompok orang berkumpul untuk membicarakan sisi kelam dari transplantasi organ.
Para praktisi Falun Gong (juga disebut Falun Dafa), sebuah latihan meditasi, menggelar aksi pada 2 Agustus di Harry Bridges Plaza, di depan Ferry Building, untuk menyadarkan publik bahwa di Tiongkok, rezim komunis menjalankan industri pengambilan organ secara nasional yang menguntungkan, di mana para dokter di sana membunuh para tahanan hati nurani untuk menjual organ mereka demi keuntungan. Falun Gong, kelompok yang mengalami penganiayaan berat di Tiongkok sejak tahun 1999, menjadi korban utama dari kejahatan ini.
“Kami memperkirakan bahwa lebih dari satu juta praktisi Falun Gong telah dibunuh dalam 26 tahun terakhir untuk diambil organnya,” ujar Torsten Trey, direktur medis dan pendiri Doctors Against Forced Organ Harvesting (DAFOH) dalam aksi tersebut.
Trey mengatakan skala pembunuhan ini mengingatkan pada kekejaman Jerman Nazi. Di belakangnya terbentang spanduk bertuliskan: “Segera Hentikan Kekejaman Gaya Nazi yang Dilakukan oleh Partai Komunis.”

“Di Tiongkok, pengambilan organ secara paksa setara dengan kamar gas, membunuh praktisi Falun Gong agar mereka tidak bisa bersaksi, tidak bisa berbicara, tidak bisa mengungkapkan keyakinannya.
“Tapi hanya sedikit dokter—dokter transplantasi—yang benar-benar menyadari atau mengetahui tentang pengambilan organ secara paksa yang terjadi di Tiongkok. Ini harus berubah!”

Saat ia berbicara, sekelompok praktisi Falun Gong lainnya berdiri di luar Moscone Center, memegang spanduk dan membagikan selebaran kepada sekitar 5.000 dokter, ilmuwan, dan tenaga medis yang menghadiri WTC.
Pada awal tahun 2006, The Epoch Times secara eksklusif melaporkan bahwa seorang pelapor, dengan nama samaran “Annie”, mantan istri seorang ahli bedah saraf Tiongkok, mengungkap adanya donor organ hidup yang tidak rela, yaitu para praktisi Falun Gong yang dipenjara di fasilitas yang menyerupai kamp konsentrasi di Sujiatun, Provinsi Liaoning, Tiongkok.
Pada Juli 2006, dua pengacara asal Kanada, David Kilgour dan David Matas, mengungkap dalam laporan independen bahwa terdapat sistematisasi pengambilan organ, terutama dari praktisi Falun Gong yang masih hidup.
Korban utamanya adalah para praktisi yang melakukan protes di Beijing menentang penganiayaan yang dimulai pada tahun 1999.

Profesor pensiunan Litong Shi, 82 tahun, dipenjara selama beberapa hari di Gunung Shijing, Beijing, sekitar Hari Tahun Baru 2001. Shi mengatakan bahwa saat itu ada delapan praktisi Falun Gong wanita lainnya bersama dirinya, dan mereka dipaksa menjalani tes darah dan pemeriksaan medis setelah mengalami penyiksaan brutal.
Seorang petugas polisi mengatakan kepada Shi agar mengungkapkan identitasnya, atau dia akan dikirim jauh dan tidak akan bisa bertemu keluarganya lagi.
Shi mencari suaka ke Amerika Serikat pada tahun 2012.
Kelompok korban potensial dengan cepat meluas dari Beijing ke praktisi yang dipenjara di seluruh negeri. Beberapa praktisi Falun Dafa dari wilayah Teluk San Francisco menyatakan dalam aksi tersebut bahwa mereka pernah mengalami tes darah mencurigakan saat ditahan.
Jianhua Lv mengatakan bahwa ia mengalami beberapa kali pengambilan darah secara paksa selama lima tahun dipenjara sejak Oktober 2000.
“Ada satu waktu yang sangat menakutkan saat kami dibawa untuk tes darah, banyak penjaga dengan senjata mengawasi, dan setiap orang diambil dua tabung besar darahnya,” ujar Lv dalam aksi itu.
Lv melarikan diri dari Tiongkok setelah dibebaskan dari penjara dan berhasil sampai ke Amerika Serikat pada tahun 2006 dengan bantuan Badan Pengungsi PBB di Thailand.
Sebelum tiba di Amerika, Lv belum mengetahui soal pengambilan organ di Tiongkok.
Dalam kasus lain, Duo Xu mengatakan ia ditangkap pada April 2016 di rumahnya sendiri dan dipaksa menjalani tes darah keesokan harinya. Xu mengatakan kepada pihak berwenang bahwa ia tidak ingin menjadi korban pengambilan organ, dan polisi setempat tidak membantah bahwa praktik itu memang terjadi. Xu tiba di Amerika Serikat pada 2017 dan diberi suaka.
Ali Centurion, ahli saraf dan wakil direktur medis DAFOH, mengatakan kepada The Epoch Times bahwa pengambilan organ yang tidak etis ini masih terus berlangsung di Tiongkok.
“Beberapa tahun lalu masih ada situs web yang menayangkan iklan organ dalam bahasa Inggris, Arab, dan Rusia, dan menjanjikan organ dalam satu atau dua minggu,” ujar Centurion.

“Itu tidak mungkin. Bahkan hingga sekarang, mustahil menyediakan organ dalam waktu sesingkat itu,” tambahnya, sambil menyebutkan bahwa ibu dan saudaranya menjalani transplantasi di Amerika Serikat dan Spanyol, dan waktu tunggu normalnya tiga hingga lima tahun.
Satu-satunya penjelasan yang masuk akal adalah adanya kolam besar ‘pendonor’ organ di Tiongkok yang siap dibunuh.
Booth DAFOH Ditolak
DAFOH, lembaga nonprofit yang memberikan informasi medis dan temuan objektif terkait pengambilan organ secara tidak etis dan ilegal, didirikan pada Maret 2006.
Namun, permohonan DAFOH untuk membuka stan di WTC ditolak untuk pertama kalinya oleh tuan rumah bersama kongres tersebut: The Transplantation Society (TTS), American Society of Transplantation (AST), dan American Society of Transplant Surgeons (ASTS).
DAFOH memposting di X tentang penolakan itu, dengan menyatakan bahwa alasan dari WTC adalah karena mereka “memilih arah yang berbeda.”
“Ketika kami membagikan alasan tersebut kepada para peserta WTC, banyak dari mereka terdiam atau terkejut. Dunia medis harus terbuka terhadap diskusi,” lanjut unggahan itu.

“Kami khawatir ini adalah langkah menuju penyensoran medis, di mana para pemimpin organisasi penyelenggara tidak ingin dokter-dokter peserta lainnya mengetahui soal pengambilan organ paksa,” kata Trey.
“Sedih rasanya mengetahui bahwa kejahatan ini pernah terjadi dan belum juga berhenti, namun kami sekarang sangat optimis,” ujar Centurion.
Menurut Centurion, negara-negara seperti Israel, Taiwan, Spanyol, Inggris, dan Kanada telah mengesahkan undang-undang untuk menentang pengambilan organ secara paksa.
Di Amerika Serikat, dua rancangan undang-undang—Stop Forced Organ Harvesting Act dan Falun Gong Protection Act—telah disahkan oleh DPR dan menunggu persetujuan Senat.
“Kami sangat berharap Amerika Serikat juga akan mengambil sikap tegas terhadap pelanggaran ini,” ujar Centurion. “Banyak hal sedang berlangsung, banyak upaya dan peningkatan kesadaran.”
“Pemerintah Tiongkok masih menyembunyikannya dan menyangkal, tetapi kita harus terus membongkarnya. … Dan ketika cukup banyak orang yang tahu, kita akan membantu mengakhiri kekejaman ini,” kata Centurion.
Gary Wang dan Crystal Lu berkontribusi dalam laporan ini.


