Angkatan Laut Rusia dan Tiongkok baru-baru ini mengadakan latihan gabungan di Laut Jepang, berlatih mencari dan menghancurkan “kapal selam musuh”. Para ahli menilai, langkah ini jelas ditujukan sebagai respons terhadap penempatan militer terbaru Presiden AS Donald Trump.
EtIndonesia. Kantor berita Reuters pada 6 Agustus mengutip laporan media Rusia Interfax bahwa setelah latihan gabungan di Laut Jepang, kapal perang kedua negara akan melanjutkan patroli bersama di kawasan Asia-Pasifik.
Latihan gabungan Angkatan Laut Tiongkok dan Rusia berlangsung pada 1–5 Agustus di Laut Jepang. Pada tahap akhir latihan, Rusia mengerahkan kapal anti-kapal selam besar Admiral Tributs dan fregat Gromky, sementara Tiongkok mengirim kapal perusak Shaoxing dan Urumqi. Mereka melakukan latihan tembak langsung, termasuk simulasi pencarian dan penghancuran kapal selam musuh.
“Latihan seri Joint Sea antara PKT dan Rusia sudah menjadi agenda rutin sejak 2012. Namun, berbeda dari sebelumnya, kali ini untuk pertama kalinya kapal selam PKT ikut ambil bagian dan berlabuh di Pangkalan Armada Pasifik Rusia di Vladivostok,” ujar Hong Tzu-chieh, Kepala Institut Politik-Militer dan Konsep Operasi PLA di Institut Pertahanan Nasional Taiwan.
Sebelumnya, Trump menyatakan telah memerintahkan dua kapal selam nuklir AS ditempatkan “lebih dekat ke Rusia” sebagai tanggapan atas pernyataan provokatif mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev mengenai risiko perang nuklir antar kekuatan.
Meski pihak Rusia mengklaim latihan ini bersifat defensif dan tidak menargetkan negara tertentu, Su Tzu-yun, Direktur Institut Strategi dan Sumber Daya di Institut Penelitian Keamanan Nasional Taiwan, menilai jelas bahwa latihan ini diarahkan pada AS.
Su Tzu-yun berkata: “Awalnya ini adalah latihan rutin untuk menunjukkan kemitraan strategis PKT-Rusia. Misalnya, tahun lalu mereka melakukan patroli bersama mengelilingi Jepang, menuju tenggara Taiwan, lalu berpisah—kapal Rusia melalui Selat Miyako di utara Taiwan, kapal PKT melalui Selat Bashi, kemudian bertemu di Shanghai.”
“Namun tahun ini sifatnya lebih spesifik, karena mereka memperluas latihan anti-kapal selam dan bahkan menyatakan berhasil menenggelamkan kapal selam musuh. Ini jelas ditujukan untuk menanggapi pengumuman Trump bahwa dua kapal selam strategis AS berada di dekat perairan Rusia,” lanjutnya.
Selain itu, menurut The Australian Times pada 4 Agustus, sebagai bagian dari latihan Talisman Sabre 2025, Angkatan Darat AS untuk pertama kalinya mengerahkan rudal hipersonik Dark Eagle ke Australia.
Pakar rudal Li Wensheng mengatakan kepada media Tiongkok The Paper bahwa Beijing perlu mewaspadai kemungkinan AS akan memanfaatkan latihan gabungan untuk kembali menempatkan rudal Dark Eagle di Filipina atau Okinawa.
Dengan kata lain, ke depannya AS mungkin akan menempatkan Dark Eagle di sekitar wilayah Tiongkok.
“Ini adalah kelanjutan dari kebijakan Trump 1.0. Saat itu Trump keluar dari Perjanjian INF untuk mengembangkan rudal jarak menengah sebagai tandingan Dongfeng-21 dan Dongfeng-26. Trump menilai perjanjian itu tidak adil karena AS dan Rusia tidak mengembangkan rudal jarak menengah, sementara PKT mengembangkannya,” ujar Su Tzu-yun menambahkan.
“Setelah keluar dari INF, AS mengembangkan dua sistem: Typhon dan Dark Eagle. Typhon kini ditempatkan di Filipina, dan kedepannya Dark Eagle mungkin ditempatkan di Australia sebagai peringatan. Jika PKT terus memperluas persenjataan, Dark Eagle bisa didorong ke depan sehingga rantai pulau pertama akan berubah menjadi rantai rudal untuk menekan PKT,” lanjutnya.
Gerakan militer terbaru AS, PKT, dan Rusia memicu spekulasi tentang bagaimana hubungan ketiganya akan berkembang ke depan.
Su Tzu-yun berkata: “Prinsip panduan utama AS adalah memperbaiki hubungan dengan Rusia. Jika perang Rusia–Ukraina bisa dihentikan, AS bersedia mencabut sanksi dan membantu pemulihan ekonomi Rusia.”
“Dalam kondisi itu, konfrontasi militer AS–PKT tetap tak terhindarkan, meski perang dagang mungkin mereda. Namun, hubungan AS–Rusia bisa berubah signifikan. Putin kini masih ragu, apakah akan tetap bersama PKT atau beralih ke AS dan Barat. Jika perang Rusia–Ukraina bisa diselesaikan secara damai, Tiongkok bisa benar-benar terisolasi,” lanjutnya.
Meski begitu, Hong Tzu-chieh menilai terlalu dini untuk mengatakan bahwa AS, PKT, dan Rusia telah memasuki level konfrontasi militer yang lebih tinggi.
Hong Tzu-chieh berkata: “Dilihat dari situasi saat ini, meski kedua pihak menyesuaikan strategi militer masing-masing, eskalasi konfrontasi militer secara keseluruhan belum terlihat jelas.”
Dalam latihan kali ini, selain penempatan perdana rudal Dark Eagle, sistem rudal Typhon juga untuk pertama kalinya melakukan uji tembak di wilayah Samudra Pasifik Barat. (Hui/asr)
Wang Ziq/Luo Ya/Shaoyang – NTDTV.com


