- Sejak tahun lalu, perubahan politik di tubuh Partai Komunis Tiongkok (PKT) dan perombakan di jajaran tinggi militer menjadi sorotan.
- Baru-baru ini, pada acara resepsi “Hari Jadi Tentara Pembebasan Rakyat (PLA)” yang digelar Kementerian Pertahanan PKT, terjadi pemandangan yang sangat tidak biasa: setidaknya tujuh jenderal aktif berpangkat tertinggi tidak hadir.
- Sejumlah analis menilai, sejak Kongres Nasional ke-20 PKT, banyak perwira tinggi militer “menghilang”, menunjukkan krisis rezim PKT sudah mendekati titik ledak.
Etindonesia. Pada 31 Juli, Kementerian Pertahanan PKT mengadakan resepsi di Aula Besar Rakyat Beijing untuk memperingati “98 Tahun Berdirinya Tentara” (PLA). Dibandingkan dengan acara tahun lalu, meja utama tahun ini kehilangan tujuh jenderal aktif.
Mantan pejabat Komisi Disiplin Pusat PKT, Wang Youqun, dalam tulisannya di Epoch Times pada 7 Agustus, menyebut bahwa berdasarkan laporan media luar negeri, setidaknya sembilan jenderal aktif tidak hadir, yaitu: He Hongjun (Wakil Kepala Departemen Pekerjaan Politik CMC – Central Military Commission), Wang Chunning (Komandan Pasukan Polisi Bersenjata), Zhang Hongbing (Komisaris Politik Pasukan Polisi Bersenjata), Hu Zhongming (Komandan Angkatan Laut), Yuan Huazhi (Komisaris Politik Angkatan Laut), Li Qiaoming (Komandan Angkatan Darat), Qin Shutang (Komisaris Politik Angkatan Darat), Wang Qiang (Komandan Komando Teater Pusat), dan Xu Deqing (Komisaris Politik Komando Teater Pusat).
Pada 1 Agustus, Provinsi Liaoning mengadakan pertemuan militer-pemerintah “Hari Jadi PLA”. Media resmi melaporkan bahwa “para pemimpin utama Komando Teater Utara hadir dan berpidato”, namun hanya menyebut Komisaris Politik Zheng Xuan, tanpa menyebut Komandan Huang Ming. Pada Mei lalu, media sosial sempat beredar kabar bahwa Huang Ming telah dibawa untuk diselidiki.
Jika sembilan jenderal tersebut ditambah Huang Ming, berarti ada sepuluh jenderal aktif yang “menghilang”. Ditambah lagi, pada Maret lalu Wakil Ketua CMC He Weidong juga “menghilang.” Pada tahun lalu Kepala Departemen Pekerjaan Politik CMC Miao Hua jatuh dari jabatan, maka setidaknya ada 12 jenderal aktif yang “terkena masalah”.
Sejak Xi Jinping berkuasa, ia telah mempromosikan 79 jenderal bintang tiga (shangjiang), namun sejauh ini setidaknya 23 orang telah diselidiki, diberhentikan, atau “menghilang”, dengan tingkat “terkena masalah” lebih dari 20%.
Penulis analisis menyebut lima penyebab utama para jenderal ini “terkena masalah”:
- Pertarungan internal di tubuh militer semakin tajam dan sengit.
- Krisis legitimasi rezim PKT semakin dalam.
- Krisis kepercayaan terhadap PKT semakin parah.
- Korupsi di militer sudah tidak dapat diperbaiki.
- Kekuasaan militer Xi Jinping mulai goyah.
Menurutnya, gelombang “hilangnya” perwira tinggi sejak Kongres ke-20 PKT mencerminkan bahwa krisis rezim sudah mendekati titik ledak.
Selain banyaknya perwira aktif yang absen, kali ini juga terlihat cukup banyak jenderal purnawirawan yang kembali tampil di depan publik, hal yang dianggap tidak lazim.
Pada 6 Agustus, penulis senior Nikkei Asia, Nakazawa Katsuji, menulis bahwa dalam resepsi tersebut, di bagian depan aula ditempatkan lima meja bundar besar, sedangkan di belakangnya adalah meja-meja kecil. Liu Yuan (putra Liu Shaoqi), Wang Guanzhong (mantan Kepala Kantor Militer di bawah Hu Jintao), dan Cai Yingting (mantan Komandan Daerah Militer Nanjing) duduk di meja depan.
Ia menilai, Menteri Pertahanan Dong Jun pasti merasakan tekanan besar dari para sesepuh militer. Meja bundar besar di barisan depan yang diperluas melambangkan kehadiran yang tidak biasa. Tekanan ini berpotensi mempengaruhi arah perkembangan politik PKT saat ini.
Media resmi melaporkan bahwa pada 30 Juli, diumumkan bahwa Sidang Pleno Keempat Komite Sentral PKT ke-20 akan digelar di Beijing pada Oktober. Pada 3 Agustus, anggota Komite Tetap Politbiro PKT, Cai Qi, terlihat mengunjungi para pakar yang sedang berlibur musim panas di Beidaihe, menandakan pertemuan informal antara pimpinan aktif dan pensiunan PKT di Beidaihe telah dimulai.
Pengamat politik Zhong Yuan menulis di Epoch Times bahwa dalam situasi politik Beijing yang genting, hampir semua pihak melihat kondisi yang rapuh ini. PKT sangat membutuhkan pertemuan Beidaihe untuk mencari kompromi dan kesepakatan antar faksi demi mencapai pengaturan personel baru.
Namun menurutnya, kebanyakan pihak masih ingin mempertahankan partai, mempertahankan kekuasaan PKT, dan menjaga kepentingan elit politik secara keseluruhan. Tetapi di tengah tanda-tanda bencana yang terus muncul, krisis PKT sudah tak bisa diselamatkan. Meski berusaha mengatur ulang, hasilnya akan sia-sia.
Pertemuan Beidaihe mungkin saja menghasilkan kesepakatan tertentu, namun tidak akan mampu mempertahankan kekuasaan PKT. Bahkan jika Xi Jinping lengser dan digantikan orang lain, masalah internal-eksternal dan kerusakan sistem di tubuh PKT tidak akan teratasi. PKT adalah akar dari segala masalah Tiongkok, dan hanya dengan runtuhnya PKT, Tiongkok bisa memiliki jalan keluar. Pertemuan Beidaihe sudah seharusnya berhenti dari panggung sejarah.
Di tengah fenomena aneh di kalangan pejabat PKT, publik juga mulai membicarakan seperti apa Tiongkok setelah kejatuhan PKT.
Pada 16 Juli, Hudson Institute—sebuah lembaga think tank ternama di Washington DC—merilis laporan berjudul “China After Communism: Preparing for the Post-CCP Era” yang ditulis oleh Michael Pillsbury (Yu Maochun). Laporan itu menegaskan bahwa kejatuhan PKT bukanlah pertanyaan “apakah akan terjadi”, tetapi “kapan akan terjadi”. Kejatuhan itu mungkin bukan proses bertahap, melainkan bisa terjadi tiba-tiba dalam semalam.
Laporan tersebut menyatakan, meskipun PKT pernah melewati berbagai krisis, kejatuhan mendadaknya tetap sangat mungkin terjadi, dan dunia harus bersiap menghadapi skenario tersebut. (Hui/asr)
Zhongnanhai : Komplek dan Kantor pusat pemerintahan Partai Komunis Tiongkok
Sumber : NTDTV.com


