Belajarlah dari Orang yang Kamu Benci

EtIndonesia. Ada ungkapan menarik yang mengatakan: Dalam diri setiap orang, ada dua jenis “serangga batin”—yang satu adalah si malang, satu lagi adalah si menyebalkan. Saat “si malang” muncul, orang akan merasa iba. Tapi saat “si menjengkelkan” muncul, yang timbul hanyalah rasa sebal dan penolakan.

Kita sering dengar pepatah: “Orang yang menyedihkan pasti punya sisi menyebalkan.” Tapi jarang kita dengar lanjutan yang lebih penting:  “Orang yang menyebalkan, pasti punya sesuatu yang bisa kita pelajari.”

Kenapa Kita Bisa Orang Lain? Psikologi Membongkarnya

Menurut para psikolog, saat kita membenci seseorang, seringkali karena orang tersebut mencerminkan sisi lemah atau kekurangan dalam diri kita sendiri.

Dengan kata lain, orang yang kita benci sebenarnya sedang menelanjangi kelemahan yang kita coba sembunyikan. Dan sebagai reaksi pertahanan diri, kita menyalurkan perasaan itu dalam bentuk rasa benci.

Contohnya bisa kamu lihat pada publik figur: semakin populer, semakin banyak pula orang yang membenci mereka—walaupun mereka juga banyak dicintai. Faktor nilai hidup, gaya hidup, cara berpikir—semuanya bisa memicu ketidaksukaan.

Kita bisa saja berkata: “Aku benci orang yang begini…” Tapi diam-diam, bisa jadi kita sendiri pernah jadi target kebencian orang lain—di tempat kerja, di keluarga, di media sosial, atau di lingkungan sosial.

Einstein dan Orang Bijak Tak Butuh Banyak Bicara

Orang tua zaman dulu sering berkata: “Kurangi bicara, perbanyak tindakan.” Lihat saja Einstein. Nama besarnya selalu diikuti oleh kata “Teori Relativitas,” bukan oleh kisah skandalnya.

Orang bijak tak sibuk membela diri. Mereka sibuk berkarya.

Dalam lingkungan beracun tanpa “oksigen,” bakteri anaerob akan tumbuh. Maka belajar adalah seperti oksigen—membersihkan dan menyehatkan.

Orang yang Paling Kita Benci, Mungkin Adalah Cermin Diri Kita Sendiri

Seorang pengamat sosial pernah berkata: “Orang yang paling aku benci adalah versi lain dari diriku sendiri.”

Dan itu ada benarnya. Mungkin saja orang yang paling menyebalkan menurut kita, menyimpan kelebihan yang kita butuhkan—meski belum kita sadari.

Saat masih kecil, guruku pernah bercerita tentang kisah filsuf Su Dongpo dan Biksu Fo Yin. 

Su Dongpo bertanya: “Menurutmu, aku ini seperti apa?”

 Fo Yin menjawab: “Seperti Buddha.”

 Su Dongpo tertawa dan berkata: “Kalau aku lihat kamu, seperti tumpukan kotoran sapi!”

Fo Yin tidak merespons. Tapi saat Su Dongpo menceritakan ini kepada adiknya, Su Xiaomei berkata:  “Kakak, kamu kalah. Karena yang kita lihat dari orang lain, sebenarnya adalah cerminan isi hati kita sendiri.”

Di Balik Rasa Benci, Ada Peluang untuk Bertumbuh

Benci itu muncul dari emosi. Tapi kalau kita mau melihatnya dengan akal sehat dan hati tenang, kita akan sadar: orang yang paling kita benci pun, pasti punya sesuatu yang bisa kita pelajari.

Umumnya, manusia bersimpati pada yang lemah, dan membenci yang kuat. Orang kuat memang sering dibenci, karena mereka berhasil menaklukkan hal-hal yang kita belum bisa atasi.

Seperti kata Ralph Waldo Emerson, filsuf Amerika: “Setiap pahlawan, pada akhirnya akan dibenci.”

Kenapa? Karena kebencian sering dijadikan alat pertahanan untuk mengimbangi perasaan rendah diri dan kecemburuan terhadap yang lebih kuat.

Alihkan Mode “Benci” Menjadi Mode “Belajar”

Orang yang kamu benci, bisa jadi adalah seseorang yang memiliki kualitas yang belum bisa kamu capai. Dan justru karena itu, dia pantas untuk kamu pelajari.

Benci itu seperti injakan rem. Tapi belajar adalah seperti injakan gas.

Di zaman pertumbuhan ekonomi, rasa benci membuatmu waspada. Tapi di masa krisis dan perlambatan, belajar adalah satu-satunya jalan maju.

Siapa yang Kita Sukai & Siapa yang Kita Benci, Sering Kali Adalah Ilusi

Ketika kita menyukai seseorang, dia tampak seperti malaikat. Tapi saat membenci, kita melihatnya seperti iblis.

Padahal, jika kamu bisa melepaskan kacamata penilaian pribadi dan menilai secara adil, kamu akan sadar—orang yang kamu benci itu sebenarnya punya banyak hal yang patut dihargai.

Ketekunan, keberanian, konsistensi, ambisi—semua itu mungkin justru mereka miliki lebih dulu dibanding kita.

Jangan Takut “Menjadi Seperti Mereka”

Banyak orang berkata: “Aku tak mau belajar dari dia. Nanti aku jadi seperti dia.”

Tapi percayalah, tidak ada salahnya belajar dari siapa pun—bahkan dari orang yang kamu tidak suka. Karena bisa jadi, kamu butuh menjadi sedikit “seperti mereka” untuk bisa bertahan, tumbuh, bahkan sukses.

Ada orang yang bercanda: “Kalau kamu sudah jadi orang yang kamu benci… mungkin tandanya kamu sudah sukses!”

Karena kenyataannya, tak ada manusia yang bisa menyenangkan semua orang. Dan orang yang paling kamu benci, mungkin bagi orang lain adalah panutan yang layak dihormati.

Penutup: Belajar Bukan dari Siapa, Tapi dari Apa

Jadi, alih-alih terus mencibir dan membenci, ajaklah diri sendiri untuk belajar:

·        Belajarlah dari orang yang kamu benci.

·        Amati kelebihan mereka.

·        Tiru strategi mereka.

·        Gunakan kekuatan mereka untuk melengkapi kelemahanmu.

Karena bisa jadi, di balik semua rasa benci itu—tersimpan jalan rahasia menuju versi terbaik dari dirimu sendiri. (jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine