Bencana Beruntun Landa Tiongkok: Desa Hilang, Kota Terendam, Politik Tetap Jadi Prioritas

EtIndonesia. Dalam beberapa hari terakhir, sejumlah wilayah di Tiongkok dilanda rangkaian bencana alam parah yang menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, dan kepanikan massal. Laporan lapangan mengungkapkan bahwa banjir bandang, tanah longsor, serta hujan lebat telah menghantam provinsi-provinsi besar, sementara pemerintah pusat dinilai lebih fokus pada pengamanan acara politik besar ketimbang penanganan korban.

Gansu: Desa Rata dengan Tanah, Ribuan Warga Terjebak

Kabupaten Yuzhong, Provinsi Gansu, menjadi salah satu daerah terdampak terparah. Hujan lebat memicu banjir bandang dan tanah longsor, menghantam empat kecamatan sekaligus. Beberapa desa rata dengan tanah, lahan pertanian tertimbun lumpur, dan ribuan warga terisolasi.

Pemerintah Tiongkok secara resmi melaporkan 10 orang tewas, 33 hilang, dan lebih dari 4.000 warga terjebak. Namun, mengingat rekam jejak pihak berwenang yang kerap menutupi data bencana, jumlah korban dikhawatirkan jauh lebih besar.

Seorang warga setempat menuturkan suasana mencekam: “Hujan belum berhenti, malah makin deras. Air mengalir di selokan, pohon-pohon tumbang tertancap di lumpur, semua rumah hilang, termasuk milik tetangga saya. Banjir datang sekitar pukul 10 malam, hujan deras berlangsung lebih dari empat jam. Desa nyaris tenggelam, ternak hanyut, rumah-rumah hilang begitu saja. Saat diingat kembali, rasanya masih menakutkan.”

Kerusakan begitu parah: rumah terhempas ratusan meter, mobil hanyut dan hilang, jalan dipenuhi material bangunan. Beberapa warga mengatakan banjir kali ini bahkan lebih parah dibandingkan bencana besar tahun 1988.

Listrik dan komunikasi lumpuh total. Warga menuturkan bahwa air datang dari segala arah, bukan hanya dari satu aliran, dan intensitas hujan malam itu belum pernah mereka saksikan sebelumnya.

Henan: Zhengzhou Terendam, Kenangan 2021 Terulang

Sementara itu, hujan deras luar biasa melanda Kota Zhengzhou, Provinsi Henan, membanjiri setengah kota hanya dalam hitungan jam. Lalu lintas lumpuh total, dan Terowongan Jalan Jingguang berubah menjadi sungai. Kekhawatiran langsung merebak bahwa tragedi banjir besar 20 Juli 2021 akan terulang.

Video di media sosial memperlihatkan arus deras di jalan-jalan utama, mobil terendam hingga mati mesin, dan sejumlah terowongan kembali tergenang. Seorang sopir mengaku air mencapai jendela mobil hanya dalam 10 menit hingga mobilnya mulai terapung. 

Tagar #BanjirZhengzhou pun menduduki puncak trending di platform Tiongkok.

Beijing: Miyun dan Huairou Dilanda Longsor dan Banjir Bandang

Di Miyun dan Huairou, banjir bandang dan longsor pada 26 Juli malam menewaskan banyak orang, termasuk wisatawan. Sejak 5 Agustus 2025, beberapa desa mulai dibuka untuk pembersihan, namun biaya perbaikan membuat warga kebingungan.

Kesaksian warga mengungkap kondisi memilukan: lumpur menutup jalan dan rumah, banyak orang hilang tanpa ditemukan, dan desa-desa kini hanya menyisakan puing-puing. Di Liulimiao, Huairou, beberapa rumah hanyut, termasuk milik keluarga pemilik kafe di Yanling Valley. Tim relawan terus menyisir sungai mencari korban.

Bau busuk menyengat di daerah terdampak, dan meskipun rumah di dataran tinggi selamat dari banjir, kelembapan tinggi akibat pelepasan air dari Bendungan Miyun menyebabkan dinding berjamur. Warga berharap lahan pertanian segera pulih agar dapat kembali bercocok tanam.

Kritik pada Pemerintah: Fokus ke Politik, Bukan Penanganan Bencana

Ironisnya, di tengah bencana besar ini, pemerintah pusat justru terlihat lebih memprioritaskan pengamanan acara besar pada 3 September di Beijing. Area Tiananmen dan jalan-jalan utama diberlakukan pembatasan lalu lintas ketat, dan puluhan ribu tenaga keamanan sementara, termasuk pensiunan, direkrut untuk patroli.

Suasana kota makin tegang setelah seorang warga yang mengunggah video awan berbentuk naga di langit Beijing ditelepon pihak berwenang dan diminta menghapus atau tidak memberikan komentar “spekulatif”. Pemeriksaan ketat bahkan dilakukan terhadap warga yang hanya melintas dengan sepeda di kawasan politik utama.

Pengamat menilai, situasi ini memperlihatkan bahwa di tengah bencana yang menelan korban jiwa dan merusak ribuan rumah, prioritas pemerintah tampak lebih condong ke stabilitas politik dan pengamanan acara kenegaraan daripada penanganan korban bencana.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine