Hujan lebat dan banjir terus melanda berbagai wilayah di utara dan selatan Tiongkok. Pada 7 Agustus, hujan deras di Zhengzhou, ibu kota Provinsi Henan, menyebabkan genangan parah dan membuat kota tersebut seperti lautan. Hanya dua hari sebelumnya, Henan baru saja melakukan hujan buatan di banyak lokasi karena kekeringan. Kini seluruh kota terendam banjir, memicu pertanyaan publik.
EtIndonesia. Pemerintah Zhengzhou mengeluarkan pemberitahuan darurat: seluruh kota segera menghentikan produksi, kegiatan usaha, sekolah, dan operasional transportasi. Hal ini mengingatkan banyak warga pada tragedi tahun 2021 ketika hujan deras menyebabkan terowongan kereta bawah tanah tergenang air, menimbulkan korban jiwa.
Seorang warga Henan berkata: “Di pinggiran barat Zhengzhou hujannya sangat deras. Lihat di depan klinik gigi saya, di Jalan Huaihe, sekarang sudah seperti sungai. Mobil berjalan sangat lambat, seperti perahu melawan arus. Air mengalir sangat deras, bus pun berhenti beroperasi. Mirip sekali dengan kecepatan arus pada peristiwa 20 Juli dulu.”
Warga lain menambahkan: “Di bawah gedung Zhenghonghui, Distrik Teknologi Tinggi, air sudah seperti sungai. Banyak mobil terjebak banjir. Tanaman di tengah jalan juga terendam lebih dari setengahnya. Jalan ini seluruhnya tergenang, airnya sangat dalam. Sebaiknya jangan lewat, mobil pun jangan memaksa, karena bus saja sudah terendam. Semua jalan di sini sama kondisinya.”
Beberapa hari sebelumnya, Zhengzhou baru saja mengeluarkan peringatan kekeringan oranye. Namun pada 7 Agustus, hujan deras turun mengguyur kota. Peringatan hujan lebat kuning ditingkatkan menjadi oranye, dan respons darurat banjir kota dinaikkan ke level 3.
Pemerintah Kota Zhengzhou memerintahkan penghentian semua kegiatan produksi, bisnis, sekolah, transportasi, serta pembatalan kegiatan luar ruangan secara massal.
Seorang warga berkata: “Di Stasiun Jalan Xisanhuan, hujan begitu besar hingga memutus jalan. Mobil-mobil terendam air, kendaraan di sana sudah mengular hingga ke atas jembatan, dan di sisi lain macet sampai Jalan Qinling. Jalanan lumpuh total.”
Warga bernama Chen mengatakan: “Kalau tidak melakukan pelepasan air dari bendungan, mobil tetap akan terendam, karena banyak persimpangan yang sudah tergenang 10–20 cm. Hujannya sangat besar, dan sampai sekarang masih turun.”
Video yang beredar di internet menunjukkan pusat kota Zhengzhou sudah seperti lautan. Jalanan berubah menjadi sungai, banyak kendaraan terendam, beberapa bus mati mesin di tengah banjir, motor listrik pun hanya menyisakan jok yang terlihat.
Arus air di jalan deras, beberapa orang berjalan menembus air setinggi paha. Karena kedalaman air, banyak warga terpaksa meninggalkan motor listrik mereka dan meminta bantuan.
Banyak warga menulis di media sosial: “Sangat menakutkan!” Beberapa khawatir bencana 2021 akan terulang, saat hampir 400 orang di seluruh Henan meninggal atau hilang, dan kereta bawah tanah Zhengzhou kebanjiran yang menimbulkan banyak korban.
Chen berkata: “Hari ini, hujan di Zhengzhou tak kalah deras dari hujan pada 20 Juli dulu. Banyak tempat sudah tergenang parah. Soal hujan buatan saya kurang tahu, yang jelas sekarang hujannya deras sekali. Kalau ditambah pelepasan air bendungan, mungkin bencananya tidak kalah dari 20 Juli waktu itu.”
Hanya beberapa hari sebelumnya, Henan baru saja mengeluarkan peringatan kekeringan oranye. Pada 5 Agustus, banyak wilayah di provinsi ini mengumumkan akan melakukan hujan buatan. Baru dua hari kemudian, hujan deras mengguyur dan menyebabkan banjir, menimbulkan pertanyaan publik.
“Orang-orang ini tidak tahu apa-apa, bertindak sembrono. Mereka selalu menggunakan alasan mulia untuk menipu rakyat, padahal hasilnya hanya bencana bagi rakyat. Harus dibongkar tindakan seperti ini agar semakin banyak rakyat sadar dan melawan,” ujar Feng Chongyi, dosen senior di University of Technology Sydney mengkiritik.
Ia menilai bahwa perilaku PKT yang seenaknya mengubah iklim alam justru membuat bencana alam di Tiongkok semakin parah.
Feng menjelaskan: “Di musim kering, mereka membangun bendungan demi listrik dan mengejar target GDP. Saat musim hujan, mereka mengabaikan keselamatan rakyat, tidak memberi tahu warga di hilir sebelum melepaskan air bendungan. Kadang puluhan bendungan dibuka bersamaan. Bahkan jika di hilir tidak hujan, warga bisa tiba-tiba kehilangan rumah dan sawah mereka. Hasil kerja setahun lenyap seketika. Ini mengerikan.”
Feng Chongyi menegaskan bahwa tindakan semena-mena PKT terhadap alam hanya akan membawa bencana tanpa akhir bagi negara dan rakyatnya. (Hui/asr)
Meng Xinqi | Luo Ya – NTDTV


