Jalan kaki dan lari sama-sama memiliki kelebihan dan kekurangan, keduanya merupakan latihan aerobik yang sangat baik untuk membakar lemak. Namun, mana yang memberikan manfaat kesehatan lebih besar? Sebuah penelitian menemukan bahwa jawabannya mungkin di luar dugaan Anda.
Menurut laporan media Tiongkok, “jalan kaki” dan “lari” adalah bentuk latihan yang paling umum dalam kehidupan sehari-hari, tidak dibatasi oleh waktu atau tempat, dan dapat dilakukan kapan saja.
Banyak penggemar lari, jalan kaki dianggap memiliki intensitas yang terlalu rendah untuk benar-benar melatih tubuh; sementara bagi para penggemar jalan cepat, lari dianggap terlalu berat dan tidak cocok untuk latihan sehari-hari.
Jika jaraknya sama, yakni 5 kilometer, mana yang lebih bermanfaat untuk kesehatan? Sebuah penelitian memberikan hasil yang mengejutkan.
Bertahun-tahun lalu, jurnal internasional Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology mempublikasikan penelitian perbandingan antara jalan kaki dan lari. Hasilnya menunjukkan bahwa ketika energi yang dikeluarkan sama, jalan kaki lebih efektif daripada lari dalam mengurangi risiko hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes tipe 2, dan penyakit jantung.
Dalam penelitian selama 6 tahun tersebut, peneliti melacak sekitar 33.000 orang yang rutin berlari dan 15.000 orang yang rutin berjalan cepat. Mereka membandingkan efektivitas lari dan jalan cepat dalam menurunkan risiko hipertensi, hiperkolesterolemia, diabetes, dan penyakit jantung koroner.
Hasilnya, dalam kondisi pengeluaran energi yang sama, lari dan jalan cepat sama-sama dapat secara signifikan mengurangi risiko penyakit tersebut. Lari mampu menurunkan risiko hipertensi sebesar 4,2%, kolesterol tinggi 4,3%, diabetes 12,1%, dan penyakit jantung koroner 4,5%. Sementara itu, jalan cepat menurunkan risiko hipertensi sebesar 7,2%, kolesterol tinggi 7,0%, diabetes 12,3%, dan penyakit jantung koroner 9,3%.
Analisis menunjukkan bahwa seiring meningkatnya intensitas olahraga, jalan cepat sedikit lebih unggul daripada lari dalam menurunkan kolesterol tinggi. Namun, untuk risiko diabetes, lari menunjukkan penurunan yang lebih signifikan.
Selain itu, jalan cepat dan lari juga membantu menurunkan risiko katarak pada lansia. Penelitian menemukan bahwa berjalan santai selama satu jam setiap hari dapat menurunkan kemungkinan terkena katarak sebesar 19%, sedangkan jogging satu jam sehari dapat menguranginya hingga 34,1%.
Meski demikian, penelitian juga menyimpulkan bahwa meski secara angka jalan kaki sedikit unggul dibanding lari, perbedaannya tidak signifikan secara statistik. Setelah penyesuaian berdasarkan BMI, lari ternyata memberikan efek yang lebih nyata dalam meningkatkan efisiensi metabolisme tubuh.
Oleh karena itu, baik memilih lari maupun jalan kaki, keduanya bermanfaat bagi kesehatan, asalkan dilakukan secara konsisten. Lalu, siapa yang lebih cocok untuk jalan kaki atau lari? Jawabannya tergantung pada kondisi kesehatan masing-masing.
Siapa yang Cocok untuk Jalan Kaki
Jalan kaki adalah olahraga berintensitas rendah dan berisiko benturan rendah, cocok untuk segala usia, terutama lansia, orang dengan berat badan berlebih, penderita penyakit kronis, dan pemula olahraga. Karena keamanannya dan kemudahan untuk dilakukan secara berkelanjutan, banyak orang memilihnya sebagai bentuk latihan utama.
Siapa yang Cocok untuk Lari
Dibandingkan jalan kaki, lari adalah olahraga aerobik berintensitas tinggi yang lebih menantang bagi fungsi jantung dan paru-paru. Lari lebih cocok bagi orang yang sehat, memiliki dasar kebugaran, dan ingin meningkatkan kondisi fisik, daya tahan, serta membakar kalori lebih cepat.
Namun, penderita osteoartritis, asma, atau penyakit jantung tidak disarankan berlari. Selain itu, postur yang benar sangat penting bagi semua orang saat berlari. Tubuh harus tetap tegak, pandangan ke depan, bahu rileks, ayunan lengan tidak terlalu lebar, dan tangan mengepal ringan. Postur yang tepat dapat membantu meningkatkan efisiensi lari sekaligus mengurangi risiko cedera. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


