EtIndonesia. Ada pepatah kuno: “Orang baik banyak cobaan, orang baik tak berumur panjang.”
Dalam kehidupan nyata, memang ada orang yang tak pernah berbuat jahat, bahkan banyak menolong, tapi tetap mengalami hidup yang berat, penuh penderitaan, hingga mempertanyakan arti hidupnya. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Mari kita simak dua kisah berikut ini.
Mengapa “Orang Baik Banyak Cobaan”?
Menjelang akhir Dinasti Qing, di wilayah Lulong, sebelah timur Beijing, hiduplah seorang saudagar tua bernama Zhao Defang. Dia kaya raya, usahanya lancar, hidup berkecukupan. Dia dan istrinya memiliki tiga orang putra yang semuanya telah menikah.
Pada perayaan ulang tahunnya yang ke-60, Zhao Defang menceritakan kepada ketiga anaknya bahwa dulu dia pernah memakai timbangan berisi timah untuk menipu orang—menggunakan timbangan besar saat membeli dan timbangan kecil saat menjual. Dengan cara ini dia meraup banyak untung secara curang. Bahkan, dia pernah menyebabkan kematian dua pedagang: satu penjual kapas dan satu lagi penjual obat-obatan. Selebihnya, dia juga telah menipu banyak orang tanpa terhitung jumlahnya.
Kini, hatinya tergugah oleh penyesalan. Dia tidak bisa tenang setiap kali mengingat para korban yang dia celakai. Dia memutuskan untuk berhenti berbuat jahat dan mulai menjalani hidup yang penuh kebaikan. Dia pun menjadi dermawan, suka menolong, dan sering berbuat amal.
Namun, malapetaka justru datang bertubi-tubi. Dalam waktu sebulan:
· Anak sulungnya meninggal mendadak karena sakit, dan istrinya menikah lagi.
· Anak kedua juga meninggal mendadak, dan istrinya pun menikah lagi.
· Anak ketiga pun mengalami hal yang sama. Tapi karena istrinya sedang hamil, dia tidak menikah lagi.
Kematian beruntun dalam keluarga membuat Zhao Defang sangat terpukul. Dia merasa bingung—mengapa saat dirinya berbuat jahat dulu justru diberkati anak-cucu dan harta melimpah, tapi sekarang saat dia bertobat dan berbuat baik, justru datang bencana? Dia pun mulai meragukan hukum sebab-akibat.
Pertemuan dengan Seorang Biksu
Suatu hari, menantu ketiganya hendak melahirkan, namun sudah tiga hari tiga malam belum juga berhasil melahirkan. Banyak bidan dipanggil, tapi semuanya gagal membantu persalinan.
Saat itulah datang seorang biksu pengembara meminta sedekah di depan rumah mereka. Setelah mendengar kabar tentang persalinan yang sulit, sang biksu berkata bahwa dia memiliki obat mujarab yang bisa langsung membantu melahirkan.
Zhao Defang segera mengundang sang biksu masuk. Setelah meminum obat itu, benar saja—istri ketiganya berhasil melahirkan seorang anak laki-laki.
Mendengar kabar kelahiran cucunya, Zhao sangat bahagia. DIa pun mengadakan jamuan besar untuk berterima kasih kepada sang biksu.
Dalam perjamuan itu, Zhao bertanya: “Kenapa saat saya berhenti berbuat jahat dan mulai berbuat baik, malah bencana datang satu per satu?”
Sang biksu tertawa dan menjawab :
“Balasan atas perbuatan baik dan buruk itu sejelas bayangan mengikuti tubuh, tak pernah meleset sedikit pun.
Dengar baik-baik: Anak pertamamu adalah reinkarnasi dari pedagang obat yang dulu kamu celakai. Dia lahir untuk menagih hutang karmamu. Anak kedua adalah pedagang kapas yang juga jadi korbanmu, kini datang untuk menguras hartamu. Anak ketiga pun adalah hasil dari karma burukmu—dia ditakdirkan akan menyebabkan aib besar dan membawamu jatuh miskin hingga mati dalam penderitaan. Namun karena kamu bertobat dan berbuat baik, surga berbelas kasih kepadamu. Maka tiga anak pembawa petaka itu diambil kembali satu per satu, supaya kamu bisa terhindar dari bencana besar. Kini, hutang karmamu telah lunas. Cucu yang baru lahir ini adalah berkah dari perbuatan baikmu. Di masa depan, dia akan membawa kemuliaan bagi keluarga kalian.”
Mendengar hal itu, Zhao seperti baru terbangun dari mimpi panjang. Dia akhirnya benar-benar memahami hukum sebab-akibat dalam hidup.
Rahasia di Balik Timbangan Enam Belas Liang
Sang biksu lalu bertanya: “Tahukah kamu, mengapa satu timbangan disebut ‘enam belas liang’?”
Dia menjelaskan: “Itu karena jumlahnya melambangkan bintang utara (7), bintang selatan (6), ditambah tiga bintang berkah, kekayaan, dan umur panjang—total 16. Jika kamu mengurangi 1 liang dari orang lain, kamu mengurangi keberuntunganmu. Mengurangi 2 liang, kamu mengurangi rezekimu. Mengurangi 3 liang, kamu memotong umurmu. Semakin banyak kamu curangi orang lain, semakin besar kutukanmu sendiri. Bayangkan, berapa banyak dosa yang telah kamu kumpulkan dengan satu timbangan curang itu?”
Zhao mendengar penjelasan itu sambil menggigil ketakutan. Keringat dingin membasahi punggungnya, dan ia merasa seluruh tubuhnya lemas. Ia pun kembali berterima kasih dengan penuh ketulusan kepada sang biksu atas bimbingan yang menyadarkannya.
Mengapa “Orang Baik Tak Berumur Panjang”?
Pada zaman Dinasti Song, ada seorang pemuda yang sejak kecil sudah yatim piatu dan memiliki cacat tubuh. Dia hidup sebagai pengemis, namun berhati baik dan sering membantu orang lain.
Di daerah tempat tinggalnya, ada sungai deras yang tak memiliki jembatan, sangat membahayakan saat musim banjir. Warga pun sangat kesulitan menyebrangi sungai itu.
Melihat kondisi ini, si pemuda bertekad membangun jembatan batu. Setiap hari dia mengumpulkan batu sedikit demi sedikit, meski sering ditertawakan orang. Tahun demi tahun berlalu, tumpukan batu sudah setinggi bukit.
Akhirnya, warga yang tersentuh hatinya pun ikut membantu, dan jembatan itu hampir rampung. Namun saat sedang memahat batu, batu melesat dan mengenai kedua mata si pemuda—dia pun menjadi buta.
Meski begitu, dia tidak mengeluh atau menyalahkan langit, dan tetap berbuat baik semampunya. Sayangnya, saat warga sedang merayakan selesainya pembangunan jembatan, petir menyambar dan menewaskan pemuda itu.
Reaksi Pak Hakim yang Terkenal: Bao Zheng
Kabar tragis itu terdengar sampai ke telinga Bao Zheng—hakim agung yang dikenal sebagai “Bao Qingtian” (Keadilan Langit).
Dia sangat marah, dan menulis pada spanduk duka si pemuda: “Lebih baik jadi orang jahat daripada jadi orang baik!”
Tak lama kemudian, putra mahkota Dinasti Song lahir, namun dia terus menangis tiada henti. Semua tabib istana menyerah. Saat itu, Bao Zheng diminta datang ke istana.
Dia melihat tangan bayi putih mulus itu, dan terkejut mendapati tulisan samar yang dia sendiri pernah tulis di spanduk pemakaman pemuda itu. Saat dia coba hapus, tulisan itu lenyap, dan bayi pun langsung berhenti menangis.
Bao Zheng kemudian mendapatkan pencerahan lewat mimpi tentang sebab-musabab kejadian ini. Ternyata, si pemuda di kehidupan sebelumnya adalah orang yang sangat jahat. Untuk menebus semua dosa itu, dia harus menjalani tiga kehidupan penuh penderitaan:
1. Kehidupan pertama: menjadi cacat dan yatim piatu.
2. Kehidupan kedua: menjadi buta.
3. Kehidupan ketiga: mati disambar petir dan jasad tak dikenal.
Namun karena di kehidupan pertama dia telah sadar dan memilih berbuat baik, Tuhan memberi dia kesempatan untuk menebus dua kehidupan dalam satu masa hidup. Maka dia dibutakan dan disambar petir dalam satu kehidupan.
Karena ketulusannya, semua karma buruknya lunas. Dan pada kehidupan berikutnya, dia terlahir sebagai putra mahkota, menikmati kehormatan dan kemuliaan tanpa batas.
Penutup:
Mengapa “orang baik banyak cobaan, orang baik tak berumur panjang”?
Setelah membaca kedua kisah ini, kita pasti mulai mengerti.
Tidak ada seorang pun yang bisa lari dari hukum sebab-akibat. Tapi, takdir bisa diubah. Ketika seseorang membuat pilihan yang benar, berjalan sejalan dengan kehendak langit, maka hidupnya pun bisa berubah.
Buah akan mengikuti benih, dan kebenaran akan selalu terungkap. (jhn/yn)


