Penelitian menunjukkan bahwa usus merespons ketinggian tinggi layaknya menghadapi serangan peradangan, namun pada orang sehat sangat mampu beradaptasi.
oleh: Amy Denney
Sakit kepala setelah mendaki di pegunungan dan sedikit ketidaknyamanan pencernaan setelah penerbangan bisa disebabkan oleh mekanisme yang sama—yakni mikroba yang hidup di usus Anda.
Perubahan kadar oksigen ketika berpindah ke ketinggian yang lebih tinggi dapat menyebabkan perubahan pada komunitas mikroba saluran pencernaan (GI), termasuk jenis bakteri yang dominan dan keragaman keseluruhannya. Pergeseran ini dapat memengaruhi kesehatan dan fungsi sel pada lapisan usus—menyebabkan gejala seperti kelelahan, kembung, gas, diare, sembelit, dan mual.
Mereka yang sering terbang dan bepergian ke daerah dataran tinggi sangat rentan terdampak. Fenomena ini begitu bermasalah hingga ahli gizi terdaftar Jill Mongene secara khusus membantu para pilot, menyebut dirinya “ahli gizi penerbang.”
Setiap kali tubuh berada di ketinggian yang melebihi kebiasaannya, masalah dapat muncul. Kadang perubahan ketinggian memunculkan gejala yang mengindikasikan masalah yang lebih besar dan tersembunyi, ujarnya kepada The Epoch Times.
“Mereka bilang segalanya berawal dari usus, dan itu benar. Ini memengaruhi sistem kekebalan, kondisi mental, tekanan darah, dan kadar gula darah kita,” kata Mongene. “Orang dengan kesehatan usus yang sangat baik biasanya berfungsi dengan baik saat terbang, sedangkan yang tidak—akan sangat kesulitan.”
Bahkan waktu singkat di dataran tinggi—baik di pesawat maupun di pegunungan—dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan. Anda bisa jatuh sakit akut, dan ada juga risiko perubahan ketinggian berulang menjadi terkait dengan kondisi kronis seperti iritasi usus besar (IBS), sakit maag, gangguan pencernaan, dan sembelit. Namun bukti menunjukkan tubuh dapat beradaptasi dan bahkan berkembang di ketinggian tinggi.
Dampak Ketinggian
Ketinggian tinggi memicu pelepasan sitokin peradangan, protein sinyal yang menyampaikan pesan ke tubuh untuk melakukan pertahanan terhadap ancaman seperti infeksi atau stres. Tekanan atmosfer rendah memberi tekanan pada tubuh dalam bentuk hipoksia hipobarik—kondisi di mana oksigen yang tersedia di setiap tarikan napas lebih sedikit. Hipoksia menurunkan oksigen dalam jaringan tubuh dan memengaruhi otak, termasuk mengubah kemampuan pengambilan keputusan.
Dalam kondisi normal, sitokin adalah bagian sehat dari sistem kekebalan, namun kadang kadarnya bisa terlalu tinggi.
Pada kasus ketinggian, sitokin berlebih dapat memicu penyakit gunung akut (acute mountain sickness), yang menyebabkan sakit kepala, kelelahan, dan sulit tidur. Ini dapat memengaruhi pendaki, pejalan kaki, dan pemain ski pada ketinggian sekitar 2.400 meter atau lebih, dan mungkin memerlukan perhatian medis. Dalam kasus serius yang jarang terjadi, edema paru ketinggian tinggi (high-altitude pulmonary edema) dan edema otak ketinggian tinggi (high-altitude cerebral edema) dapat terjadi di atas 3.000 meter.
Selain itu, beberapa obat yang digunakan untuk penyakit terkait ketinggian—seperti obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID)—dapat memperburuk gejala gastrointestinal dan menyebabkan perdarahan GI.
Faktor lain yang memperbesar risiko adalah aktivitas fisik saat atau setelah perubahan ketinggian, mendaki terlalu cepat, atau naik ke ketinggian terlalu tinggi.
Kerentanan seseorang terhadap dampak ketinggian juga bisa dipengaruhi oleh faktor genetik, kesehatan secara keseluruhan, kondisi peradangan sebelum atau sesudah perjalanan, serta mikrobioma yang memengaruhi produksi sitokin dan respons tubuh terhadap hipoksia.
Mikrobiota dan Hipoksia
Mikrobioma usus setidaknya sebagian menjelaskan mengapa beberapa orang lebih mudah beradaptasi saat bepergian ke dataran tinggi.
Peneliti mengirim pria sehat asal dataran rendah di Tiongkok untuk bepergian ke Dataran Tinggi Qinghai–Tibet guna melihat bagaimana mikrobioma usus mereka bereaksi terhadap ketinggian tinggi. Mikroba pada sampel tinja mereka dipelajari sepanjang 108 hari penelitian dan dibandingkan dengan pria yang tinggal di dataran tinggi.
Para peserta tinggal di Dataran Tinggi Qinghai–Tibet selama 73 hari, lalu hampir setengahnya kembali ke dataran rendah.
“Hasilnya menunjukkan bahwa hipoksia jangka pendek secara signifikan mengubah komposisi mikrobiota usus, terutama pada tahap awal paparan. Perubahan ini terutama dimodulasi oleh peningkatan kelimpahan spesies Blautia A,” tulis para peneliti dalam studi yang diterbitkan di Genome Biology.
Perubahan mikroba yang mengarah pada peningkatan spesies Blautia A ternyata memberikan efek perlindungan. Peneliti mengonfirmasi temuan tersebut melalui percobaan hewan, yang membuktikan bahwa spesies Blautia A berperan dalam produksi asam butirat (butyric acid).
Asam butirat, atau butyrate, adalah asam lemak rantai pendek yang bermanfaat bagi ekosistem usus. Ia memberi “makan” sel-sel pada lapisan usus besar, mencegah kebocoran usus (leaky gut) dengan menjaga integritas dinding usus.
Kebocoran usus adalah kondisi di mana bakteri dan molekul tertentu masuk ke aliran darah dan otak, menyebabkan peradangan. Walau belum menjadi diagnosis klinis resmi, kondisi ini dikonfirmasi pada sebagian kasus IBS dan gangguan pencernaan, serta mungkin menjelaskan mengapa sebagian orang yang sering terbang mengalami masalah GI yang terus-menerus.
Meningkatkan Butirat
Para penulis studi mencatat bahwa temuan mereka dapat mengarah pada pengembangan suplemen probiotik Blautia untuk meningkatkan produksi butirat. Namun, solusi cepat tidak selalu efektif. Suplemen butirat memang banyak beredar, tapi bukti manfaatnya masih minim.
Menurut Dr. Chris Damman, ahli gastroenterologi di University of Washington School of Medicine, pemberian butirat sebagai terapi pada penyakit metabolik menunjukkan manfaat terbatas. Sebaliknya, mengonsumsi makanan yang tepat untuk menghasilkan asam lemak rantai pendek alami adalah cara terbaik untuk melindungi tubuh dari berbagai gejala.
Butirat diproduksi ketika kita makan makanan tinggi serat.
“Dengan begitu Anda mendapatkan butirat pada waktu yang tepat, di tempat yang tepat, dan dalam jumlah yang tepat,” kata Damman.
Perbaiki Pola Makan Secara Bertahap
Godaan untuk langsung meningkatkan asupan serat menjelang penerbangan memang ada, namun Mongene menyarankan untuk memulainya perlahan. Makanan tinggi serat akan secara bertahap membangun bakteri baik penghasil butirat. Perubahan diet terlalu cepat justru dapat menimbulkan gejala tidak nyaman seperti gas dan kembung.
Ia menyarankan mulai dengan setengah cangkir kacang-kacangan dan menunggu setidaknya sehari untuk melihat reaksinya. Jika toleran, asupan serat bisa perlahan ditingkatkan.
Pemerintah AS merekomendasikan 28 gram serat per hari pada diet 2.000 kalori, namun sebagian besar orang tidak mencapainya. Untuk mencapai angka itu, perlu makan dua cangkir kacang pinto, meskipun para ahli menyarankan agar serat diperoleh dari berbagai sumber.
Sumber serat yang mudah dicerna meliputi oatmeal, roti, pasta, dan nasi—yang menurut Mongene cocok bagi mereka yang khawatir akan kembung saat penerbangan. Namun, buah utuh, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian lebih baik untuk memberi makan bakteri baik.
Anda juga bisa menambah bakteri baik melalui makanan fermentasi seperti sauerkraut, acar, yogurt, dan keju keras. Mongene menyarankan untuk memulainya perlahan jika belum terbiasa mengonsumsinya.
Modifikasi Lain
Perubahan gaya hidup sederhana yang membantu klien pilot Mongene mengatasi masalah GI antara lain:
- Mengurangi lemak jenuh (umumnya pada produk hewani) dan menggantinya dengan ikan, unggas, serta lemak nabati seperti kacang, biji-bijian, edamame, zaitun, dan alpukat. Hindari daging sapi giling berlemak tinggi, pilih potongan daging tanpa lemak.
- Pertimbangkan pemeriksaan dan suplementasi vitamin D3, B12, dan omega-3.
- Hindari alkohol atau obat-obatan sebelum dan selama perjalanan.
- Jangan terbang saat sakit.
- Tingkatkan hidrasi dan konsumsi elektrolit, terutama saat bepergian.
Hidrasi adalah isu besar, khususnya untuk mendapatkan elektrolit seperti natrium yang penting bagi fungsi tubuh. Kekurangan cairan menurunkan sel kekebalan dan mengubah komposisi mikrobiota usus, membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi.
Dehidrasi juga dapat menyerupai penyakit lain seperti tekanan darah tinggi dan gula darah tinggi—masalah besar bagi penderita diabetes.
“Setiap jam Anda terbang, semakin banyak cairan yang hilang,” ujar Mongene. “Faktor dehidrasi sering kali membuat usus berhenti berfungsi.”
Implikasi untuk Kesehatan Secara Keseluruhan
Hubungan antara ketinggian, hipoksia, dan mikrobioma usus dapat meningkatkan pemahaman tentang berbagai penyakit yang terkait hipoksia, termasuk penyakit paru seperti PPOK dan asma, penyakit infeksi seperti COVID-19, serta sleep apnea obstruktif.
Hipoksia dapat menyebabkan kerusakan permanen pada tubuh, dan bukti menunjukkan usus berperan penting dalam kondisi ini. Keadaan ini bisa menimpa siapa saja, khususnya atlet ketahanan, pendaki, dan pilot.
Setiap orang bereaksi berbeda terhadap hipoksia, dan pilot mendapatkan pelatihan khusus untuk mengenali tanda-tanda fisiologis mereka sendiri.
Gejala hipoksia meliputi napas cepat, pusing, sensasi hangat atau kesemutan, berkeringat, penyempitan penglihatan (tunnel vision), pusing, hingga euforia. Menurut brosur Administrasi Penerbangan Federal (FAA), kondisi ini sulit dikenali oleh penderitanya.
“Sayangnya, tubuh kita tidak memberikan sinyal yang dapat diandalkan saat awal terjadinya hipoksia—kekurangan oksigen—kecuali kita telah mendapatkan pelatihan khusus untuk mengenali gejalanya,” tulis brosur itu. “Faktanya, justru sebaliknya. Otak adalah bagian tubuh pertama yang menunjukkan dampak dari berkurangnya pasokan oksigen, dan buktinya biasanya berupa hilangnya kemampuan mengambil keputusan dengan baik.”


