EtIndonesia. Ketegangan antara Israel, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dan media internasional kian memuncak setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu membantah keras tuduhan bahwa Israel menjadi penyebab utama kelaparan di Jalur Gaza. Dalam konferensi pers internasional yang digelar pada 10 Agustus 2025, Netanyahu menyebut tuduhan tersebut sebagai bagian dari “kampanye kebohongan global” yang menurutnya mirip dengan propaganda antisemit yang pernah terjadi sepanjang sejarah.
Bantahan Keras Netanyahu terhadap PBB
Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan bahwa tuduhan PBB tidak berdasar. Dia menuding kelompok Hamas sebagai pihak yang bertanggung jawab atas krisis pangan di Gaza, dengan cara mencuri dan menimbun bantuan kemanusiaan yang seharusnya disalurkan kepada warga sipil.
Netanyahu juga menyoroti pemberitaan media internasional, khususnya New York Times, yang mempublikasikan foto-foto penderita kelaparan. Menurutnya, foto-foto tersebut menyesatkan karena sebagian di antaranya adalah pasien penyakit kronis, bukan korban kelaparan.
“Kenyataannya adalah bantuan telah kami izinkan masuk, tetapi Hamas merampasnya. Dunia perlu melihat fakta di lapangan, bukan narasi yang direkayasa,” tegas Netanyahu.
Akses untuk Jurnalis Asing
Sebagai langkah pembuktian, Netanyahu mengumumkan bahwa Pemerintah Israel akan mengizinkan lebih banyak jurnalis asing masuk ke Gaza. Langkah ini dimaksudkan agar media internasional dapat melihat secara langsung kondisi kemanusiaan di wilayah tersebut, tanpa bergantung pada sumber informasi dari Hamas atau pihak ketiga.
Serangan Udara Mematikan terhadap Jurnalis
Namun, pada hari yang sama, situasi memburuk ketika serangan udara Israel dilaporkan menewaskan lima jurnalis Al Jazeera, termasuk reporter terkenal Anas Sharif. Militer Israel mengklaim bahwa Sharif bukan sekadar wartawan, melainkan mantan petinggi Hamas yang disebut masih terlibat aktif dalam operasi kelompok tersebut.
Insiden ini memicu kecaman dari berbagai organisasi pers internasional dan kelompok hak asasi manusia, yang menilai serangan terhadap jurnalis sebagai pelanggaran serius terhadap hukum perang dan kebebasan pers.
Pemakaman yang Kembali Berdarah
Ketegangan semakin memuncak pada 11 Agustus 2025, ketika upacara pemakaman Anas Sharif dan rekan-rekannya di Gaza berubah menjadi tragedi. Serangan udara kembali menghantam area pemakaman, menewaskan dan melukai sejumlah pelayat. Gambar dan video yang beredar menunjukkan kekacauan di lokasi, dengan warga berlarian mencari perlindungan di tengah asap dan reruntuhan.
Reaksi Internasional
- PBB mengecam keras serangan terhadap jurnalis dan menuntut penyelidikan independen.
- Al Jazeera menuduh Israel secara sengaja menargetkan wartawannya dan berjanji akan membawa kasus ini ke Mahkamah Pidana Internasional (ICC).
- New York Times menyatakan akan tetap memberitakan krisis kemanusiaan di Gaza berdasarkan data dan saksi lapangan, meski mendapat tuduhan dari pemerintah Israel.
Situasi Gaza Tetap Mencekam
Meski Israel membantah tuduhan kelaparan massal, laporan lapangan dari berbagai lembaga kemanusiaan menunjukkan bahwa pasokan makanan, obat-obatan, dan air bersih di Gaza tetap kritis. Pertempuran yang terus berlangsung membuat distribusi bantuan semakin sulit, sementara korban sipil terus bertambah.


