Di Tiongkok saat ini, krisis terbesar mungkin bukan perlambatan ekonomi, melainkan runtuhnya kepercayaan terhadap sistem itu sendiri, menurut seorang pakar, Xiao Yi
oleh Michael Zhuang
Dalam kurun waktu hanya empat bulan, empat pengusaha Tiongkok ternama dari berbagai industri mengakhiri hidupnya dengan cara bundir—semuanya dilaporkan melompat dari gedung dalam tindakan terakhir yang putus asa. Para ahli mengatakan bahwa berbagai insiden ini sangat bertolak belakang dengan narasi resmi rezim partai komunis Tiongkok yang menyebut pertumbuhan PDB paruh pertama tahun ini “lebih baik dari yang diperkirakan.”
Pada 16 April, Bi Guangjun, pendiri Jindianzi Textiles Ltd., melompat dari lantai 28 sebuah gedung. Orang dalam mengungkapkan bahwa ia berinvestasi besar-besaran di industri energi baru Tiongkok, tetapi kehilangan banyak uang.
Pada 2 Juni, Liu Wenchao, ketua Xizi Elevator Co. Ltd.—perusahaan yang sangat bergantung pada sektor properti Tiongkok yang kini terpuruk—meninggal setelah jatuh dari gedung. Media yang dikendalikan negara mengatakan bahwa Liu pernah berkata, siapa pun yang memiliki ambisi pada akhirnya akan “terluka.”
Pada 17 Juli, Zeng Yuzhou, pendiri jaringan renovasi rumah Liangjiaju Building Materials, melompat dari gedung tinggi di Guangzhou. Menurut media Tiongkok, ia meninggalkan kekacauan senilai 1 miliar yuan (US$140 juta) yang memengaruhi lebih dari 2.000 keluarga, lebih dari 1.000 karyawan, dan lebih dari 300 pemasok.
Hanya 10 hari kemudian, pada 27 Juli, media Tiongkok melaporkan bahwa ketua raksasa ritel rumah Easyhome New Retail Group, Wang Linpeng, meninggal setelah melompat dari gedung—empat hari setelah dibebaskan dari tahanan polisi. Wang sebelumnya ditahan otoritas dalam penyelidikan antikorupsi.
Sistem yang Tertekan
Xiao Yi, seorang profesional keuangan Tiongkok yang berbasis di London dengan pengalaman 30 tahun di industri ini dan pengamat Tiongkok, membagikan analisisnya terkait empat kematian tersebut kepada The Epoch Times edisi Bahasa Tionghoa, di mana ia menjadi kontributor rutin.
Meski kematian itu terjadi di sektor yang berbeda-beda, Xiao percaya bahwa semua ini menunjukkan tekanan mendasar yang sama mencekik sektor swasta Tiongkok, termasuk rontoknya arus kas, utang yang menumpuk, ketidakpastian kebijakan, dan runtuhnya kepercayaan publik.
Ia mencatat bahwa utang pemerintah daerah Tiongkok yang terus membengkak telah menggeser pembiayaan sektor swasta. Sementara media resmi menggaungkan slogan “mendukung ekonomi riil,” modal secara tidak proporsional dialirkan ke perusahaan milik negara (BUMN), membuat perusahaan swasta secara informal masuk daftar hitam pinjaman.
Bank-bank Tiongkok, yang takut terjadi gagal bayar, memperketat kredit, kata Xiao. Setelah perusahaan Bi menderita kerugian besar, banknya justru memotong pinjaman alih-alih memberi dukungan. Dana cadangan terakhir Liangjiaju sebesar 5 juta yuan (sekitar Rp11,25 miliar( langsung disita banknya, memaksa perusahaan itu runtuh.
Kemerosotan Ekonomi dan Regulasi Sewenang-wenang
Sejak 2021, pasar properti Tiongkok mengalami kejatuhan bebas, dengan permintaan rumah baru maupun bekas menyusut tajam. Xiao mengatakan hal ini menghantam keras sektor terkait—mulai dari lift, dekorasi interior, hingga peralatan rumah tangga dan bahan bangunan. Siklus pembayaran pelanggan Liangjiaju memanjang dari dua minggu menjadi enam bulan. Pendapatan Xizi Elevator lenyap seiring pengembang gagal bayar.
Xiao juga menyoroti bahwa ekspor Tiongkok melemah akibat tarif AS dan lonjakan produksi manufaktur di Asia Tenggara. Perusahaan tekstil Bi mengalami penurunan pesanan sebesar 40 persen dan tenggat pembayaran yang dua kali lebih lama. Dampak kumulatif penurunan ini menjebak rantai pasok dan mencekik arus kas.
Menurut Xiao, pengusaha di Tiongkok beroperasi di lingkungan dengan regulasi berlebihan dan perubahan kebijakan yang tak terduga. Denda lingkungan yang berat, pembekuan rekening, dan audit sewenang-wenang dapat melumpuhkan perusahaan dalam semalam.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah kekuasaan lembaga antikorupsi yang dapat menahan seseorang tanpa pengawasan hukum, kata Xiao, sambil menyoroti bahwa Wang dilaporkan ditahan tanpa bisa berkomunikasi dan tanpa pendampingan hukum—sebuah proses yang dirancang untuk memaksa pengakuan dan memetakan “jaringan kepentingan,” sehingga menjadikan tersangka sebagai pion dalam pembersihan politik.
Hilangnya Kepercayaan dan Ketidakadilan Sistematis
Menurut Xiao, banyak perusahaan yang kolaps beroperasi dengan model bisnis berbasis kepercayaan—mengandalkan pembayaran di muka, pembiayaan berantai, dan jaminan pribadi. Saat kepercayaan itu hilang, sistem pun runtuh. Dalam kasus Liangjiaju Building Materials, pelanggannya menuntut pengembalian dana, pemasok melakukan protes, dan para karyawan memilih kabur.
Ia menambahkan, berbeda dengan di Amerika Serikat atau Eropa, hukum Tiongkok tidak memiliki perlindungan kebangkrutan yang berarti bagi bisnis swasta. Sebagian besar kasus reorganisasi ditolak pengadilan, terutama bagi perusahaan yang minim aset. Setelah perusahaan runtuh, kebebasan pribadi dan finansial pendirinya hilang. Mereka masuk daftar hitam, diawasi, dan dikucilkan—tanpa kesempatan untuk bangkit kembali. Banyak yang melihat bunuh diri sebagai satu-satunya cara “terhormat” untuk menyelesaikan utang yang tak terbayar, kata Xiao.
Setiap berita bundir para pengusaha ini disensor dari daftar trending di media sosial Tiongkok setidaknya selama 24 jam, menunjukkan ketatnya kendali rezim terhadap narasi publik.
Xiao mencatat bahwa diskusi daring di Tiongkok melihat kematian Zeng sebagai kegagalan “berbisnis dengan integritas.” Meski ia berusaha menyelesaikan proyek yang tertunda, ia kewalahan oleh kreditur. Kisahnya menunjukkan betapa mudahnya kepercayaan dimanfaatkan sebagai senjata di Tiongkok saat ini dan betapa cepatnya reputasi seseorang bisa runtuh, kata Xiao.
Dalam kasus Wang, publik berspekulasi bahwa ia mungkin telah membocorkan informasi sensitif tentang kolusi antara pejabat lokal dan pebisnis selama penahanannya. Sistem hukum Tiongkok yang tertutup sering ditandai dengan ketiadaan penasihat hukum, penahanan rahasia, dan pengakuan paksa. Kejatuhan Wang yang profilnya tinggi menjadi pelajaran pahit tentang apa yang terjadi saat dunia bisnis berbenturan dengan risiko politik, ujar Xiao.
Krisis Kepercayaan
Xiao meyakini bahwa kematian Bi, Liu, Zeng, dan Wang bukanlah tragedi terpisah. Mereka mencerminkan tekanan yang semakin besar yang menimpa para pengusaha swasta Tiongkok yang terjepit antara pasar yang menyusut, ketidakpastian kebijakan, pengecualian finansial, dan runtuhnya kontrak sosial.
Di Tiongkok pada saat ini, krisis terbesar mungkin bukan perlambatan ekonomi, tetapi runtuhnya kepercayaan terhadap sistem itu sendiri, kata Xiao.
Xiao Yi berkontribusi dalam laporan ini.


