Putin dan Zelenskyy Akan ‘Dikunci’ Trump di Alaska, Damai atau Perang Total?

EtIndonesia. Ketegangan diplomatik jelang pertemuan puncak Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan Presiden Rusia, Vladimir Putin semakin memuncak. Trump secara terbuka menyatakan bahwa pertukaran wilayah antara Ukraina dan Rusia dapat menjadi jalan keluar untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun itu.

Trump mengungkapkan rencananya dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 11 Agustus 2025, sekaligus mengonfirmasi bahwa dia akan mengadakan pembicaraan dengan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy dan sejumlah pemimpin Eropa pada 13 Agustus 2025 — pertemuan yang dia sebut sebagai “jendela negosiasi terakhir” sebelum berhadapan langsung dengan Putin.

“Saya mungkin bisa menilai dalam dua menit apakah ada kemungkinan kemajuan atau tidak. Saya akan langsung mengatakan kepada Putin: Anda harus mengakhiri perang ini. Pertukaran wilayah akan menjadi bagian dari perjanjian damai,” tegas Trump.

Trump menambahkan bahwa dia juga mempertimbangkan pertemuan tiga pihak yang melibatkan dirinya, Putin, dan Zelenskyy dalam satu ruangan untuk membahas perdamaian secara langsung. Bahkan, dia menyebut skenario “mengunci” kedua pemimpin Rusia dan Ukraina tersebut hingga tercapai kesepakatan.

Saat ini, Rusia menguasai sekitar 20% wilayah Ukraina, sementara Ukraina memegang sebagian kecil wilayah di dalam Rusia. Skema pertukaran wilayah pernah diusulkan sebelumnya oleh Trump, namun mendapat penolakan keras dari kedua belah pihak. Kekhawatiran terbesar datang dari negara-negara Eropa yang menilai konsesi wilayah kepada Rusia akan menciptakan preseden berbahaya dan mengancam keamanan jangka panjang.

Trump mengakui, pertemuan Jumat mendatang bisa menjadi terobosan atau justru berakhir tanpa kemajuan sama sekali. Dia juga menyebut bahwa Putin pada masa lalu sempat memiliki ambisi untuk menguasai seluruh Ukraina.

Momen Viral: Salah Ucap Soal Lokasi Pertemuan

Sebuah video konferensi pers Trump menjadi viral setelah dia secara keliru mengatakan: “Jumat ini saya akan pergi menemui Putin di Rusia”

Padahal, pertemuan dijadwalkan berlangsung di Alaska.

Banyak pihak menilai pernyataan itu sebagai sindiran sejarah, mengingat Alaska pernah menjadi wilayah Rusia sebelum dijual kepada AS pada 30 Maret 1867 seharga 7,2 juta dolar AS (sekitar 171 juta hektare, atau kurang dari 90 dolar per km²). Sejumlah pengamat dan warganet berpendapat, isu Alaska tetap menjadi “duri” di hati Rusia, dan ucapan Trump berpotensi menyentuh titik sensitif tersebut.

Tanggapan Zelenskyy: Putin Belum Siap Damai

Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy merespons keras gagasan Trump. Dia menegaskan bahwa laporan intelijen dan militer terbaru menunjukkan Putin sama sekali belum siap untuk gencatan senjata, apalagi mengakhiri perang.

Menurut Zelenskyy, tujuan Putin dalam pertemuan dengan AS hanyalah untuk mendapatkan “kemenangan pribadi” di panggung diplomasi. Redeployment pasukan Rusia di lapangan justru mengindikasikan persiapan ofensif baru, bukan langkah menuju perdamaian.

Ukraina, kata Zelenskyy, akan terus memberi informasi kepada mitra internasional mengenai kondisi medan tempur, perkembangan diplomasi, dan perkiraan strategi Rusia.

Sikap Tegas Uni Eropa

Mengutip Ukrainska Pravda, pada 13 Agustus 2025 akan diadakan pertemuan yang dipimpin Kanselir Jerman, Friedrich Merz dan dihadiri Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, sejumlah pemimpin Eropa, serta Trump dan Zelensky. Pertemuan ini bertujuan menyelaraskan langkah diplomasi sebelum agenda Trump–Putin.

Pada 11 Agustus, para menteri luar negeri negara-negara Eropa juga telah menggelar konferensi video untuk menyamakan sikap.

  • PM Polandia, Donald Tusk menegaskan prinsip bahwa tidak boleh ada perubahan perbatasan melalui kekerasan, dan Rusia tidak boleh mendapatkan keuntungan dari agresinya.
  • Kaja Kallas, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri, memperingatkan bahwa setiap kesepakatan AS–Rusia harus melibatkan Ukraina dan Uni Eropa agar tidak menciptakan preseden berbahaya.
  • Seorang pejabat Komisi Eropa menyebut ide pertukaran wilayah sebagai bentuk perampasan sepihak oleh Rusia, dan menilai AS sejauh ini menunjukkan kemauan untuk sejalan dengan Eropa, termasuk dalam mempertahankan bantuan militer kepada Ukraina.

Peringatan dari Lindsey Graham: Taiwan Bisa Terancam

Senator AS, Lindsey Graham menegaskan bahwa hasil perang ini akan berdampak langsung pada keamanan global, termasuk posisi Taiwan.

Dia memperingatkan bahwa jika Putin mendapatkan keuntungan dari hasil perang, maka Beijing akan merasa terdorong untuk meningkatkan tekanan militer terhadap Taiwan. Graham tidak menutup kemungkinan adanya pertukaran wilayah dalam perundingan, namun menekankan tiga hal:

  1. Keamanan Ukraina harus dijamin sepenuhnya.
  2. Harus ada mekanisme pencegahan invasi ulang.
  3. Sanksi ekonomi terhadap Rusia dan negara-negara yang membeli ekspor Rusia harus diberlakukan jika perundingan gagal.

Kesimpulan:

Pertemuan Trump–Putin di Alaska pada pekan ini dipandang sebagai salah satu momen paling krusial dalam upaya mengakhiri perang Rusia–Ukraina. Namun, perbedaan tajam antara gagasan pertukaran wilayah ala Trump, sikap keras Zelenskyy, serta prinsip tegas Uni Eropa membuat jalannya negosiasi penuh risiko dan ketidakpastian. Dunia kini menunggu, apakah diplomasi berani ini akan menjadi terobosan perdamaian, atau sekadar episode baru dalam bab panjang konflik yang belum menemukan titik akhir.

INSPIRASI ERABARU

Mengapa Dighosting Lebih Menyakitkan daripada Penolakan dan Lebih Sulit untuk Dilupakan

Penolakan sosial mengaktifkan banyak jalur saraf yang sama seperti rasa sakit fisik. Oleh Fjolla Arifi Pesan terakhir itu tetap berada di sana, terkirim dan sudah dibaca....

Seperti Apa Kondisi Otak Anda Saat Membenci Seseorang?

Cinta membuat kekurangan tampak tak berarti, sedangkan kebencian membuat kekurangan yang tak ada seolah nyata Arsh Sarao Ketika Anda melihat sekilas seseorang yang Anda benci, otak...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine