Bagaimana Cara Keluar dari Rasa Minder?

EtIndonesia. Ketika ada orang yang mengatakan kepada saya bahwa mereka merasa minder, saya benar-benar bisa memahaminya. Sebab, saya sendiri dulu adalah orang yang sangat minder. Bisa dibilang, saya sudah pernah melalui masa itu.

Sejak kecil hingga dewasa, saya selalu membawa rasa minder yang kuat. Penyebabnya bukan hanya karena kondisi keluarga yang serba kekurangan, tetapi ada satu alasan yang jauh lebih besar: saya memiliki kekurangan fisik yang sangat jelas—saya gagap.

Bagi orang yang tidak pernah mengalami gagap, mereka mungkin tidak akan benar-benar mengerti betapa menyiksanya hidup dengan kondisi itu. Saya dulu tidak berani berbicara dengan orang lain, tidak berani menyapa, tidak berani menjawab pertanyaan, bahkan tidak berani membaca teks dengan suara lantang di kelas.

Masalah gagap ini menghantui saya sejak mulai sekolah, dari SD sampai kuliah. Saat SMA, saya pindah ke sekolah di kota kabupaten. Semua teman sekelas adalah orang baru, dan itu membuat saya semakin takut bicara. Padahal, saya sebenarnya berkepribadian cukup supel. Tapi saya memaksa diri untuk bicara sesedikit mungkin. Hasilnya, setiap hari batin saya selalu berperang dengan diri sendiri. Barulah setelah saya mulai akrab dengan teman-teman itu, rasa tegang saya mulai berkurang.

Namun saat masuk kuliah, tantangan baru muncul. Kali ini, saya harus berbicara dalam bahasa Mandarin baku (Putonghua). Kecemasan saya makin menjadi-jadi. Saya bahkan sempat mencari iklan alat terapi gagap, bertanya bagaimana cara membelinya. Tapi karena harganya mahal dan saya tidak punya uang, akhirnya saya urungkan.

Kalau mengingat masa itu, rasanya pahit sekali. Saya masih ingat, malam-malam saya sering berdoa diam-diam di dalam selimut:  “Tuhan, biarlah saya pendek, biarlah saya jelek, asal saya bisa berbicara lancar seperti orang lain, saya rela.”

Sampai suatu saat, entah sejak kapan, saya mulai berpikir dari sudut pandang lain: apakah orang lain juga punya kekurangan yang jelas? Apakah mereka juga pernah minder?

Jawabannya: iya. Saya menemukan banyak hal menarik.

Hampir semua orang punya hal yang membuat mereka gelisah:

·        Ada yang minder karena rambutnya tipis.

·        Ada yang merasa wajahnya tidak menarik.

·        Ada yang mengeluh tubuhnya terlalu pendek.

·        Ada yang khawatir berat badannya berlebih.

·        Ada juga yang kecewa karena merasa dirinya kurang disiplin.

Mayoritas orang punya kekurangan yang mereka benci, sama seperti saya membenci gagap saya. Dan hampir semua orang sibuk mengagumi kelebihan orang lain.

Saya teringat satu kalimat yang pernah saya dengar: “Apa yang kita kagumi dari orang lain adalah hal yang kita tidak miliki, sedangkan apa yang kita anggap biasa adalah hal yang sudah kita punya.”

Pelan-pelan, saya belajar menerima diri sendiri. Menerima bahwa saya gagap. Menerima bahwa saya tidak sempurna.

Saat kuliah, saya terpilih menjadi ketua kelas. Dalam rapat kelas pertama, saya berdiri dan berkata dengan jujur: “Saya punya kekurangan, yaitu saya gagap. Jadi, tolong maklumi saya, dan kalau bisa, bantu saya.”

Begitu saya mengucapkan kalimat itu, rasanya seperti beban besar lepas dari bahu saya. Sejak saat itu, segalanya mulai berubah. Banyak teman yang datang memberi saran bagaimana mengatasi gagap. Bahkan ada yang bilang, sebelumnya mereka sama sekali tidak sadar kalau saya punya masalah itu.

Saya akhirnya mengerti: orang yang minder selalu takut kekurangannya diketahui orang lain. Tapi begitu kita berani mengakuinya di depan umum, kita sudah selangkah keluar dari rasa minder itu.

Setelah lulus, saya bekerja di Taobao. Saya sering memberikan pelatihan kepada para manajer.

Setiap kali saya bercerita tentang pekerjaan saya, ibu saya selalu bertanya:  “Kamu tidak gagap waktu mengajar?”

 Saya jawab:  “Kadang masih gagap, tapi tidak masalah. Semua orang sudah terbiasa.”

Orang yang minder sering kali membesar-besarkan kekurangannya sendiri, seolah semua orang akan langsung melihatnya. Padahal kenyataannya, semua orang sibuk dengan urusan masing-masing dan punya kecemasan sendiri. Mereka tidak punya waktu untuk memperhatikan kekurangan kita.

Ya, orang yang minder biasanya sangat sensitif. Mereka takut sekali jika ada orang yang menyinggung kekurangan mereka. Begitu mendengar komentar yang mirip, mereka langsung merasa disindir.

Orang yang minder juga sering berusaha keras menutupi rasa mindernya. Misalnya, orang yang berasal dari keluarga miskin kadang justru berpura-pura dermawan, bahkan malu untuk mengajukan beasiswa bagi keluarga kurang mampu.

Saya belajar bahwa saat kita berani mengakui kekurangan kita di depan orang lain, itulah langkah pertama menuju kebebasan dari rasa minder.(jhn/yn)

INSPIRASI ERABARU

Chemistry Tumbuh dari Kedekatan: Mengapa Kencan Tatap Muka Masih Tak Tergantikan di Era Digital

Di era ketika lebih dari setengah lajang berusia di bawah 30 tahun menggunakan aplikasi kencan, berbagai bukti menunjukkan bahwa pendekatan digital terhadap percintaan mungkin...

Mengapa Introvert dan Ekstrovert Sama-Sama Berperan Penting dengan Kekuatan Mereka yang Unik

Cara sistem saraf kita merespons lingkungan sosial mencerminkan lebih dari sekadar kepribadian. Oleh Sarah Campise Hallier Dua orang teman memasuki sebuah bar karaoke. Yang satu langsung...

LATES

Google search engine

VIDEO ET NEWS

MISTERI

Google search engine