Wabah Chikungunya yang meletus di Foshan, Guangdong, terus menyebar. Meski pihak berwenang mengklaim adanya penurunan jumlah kasus, langkah-langkah pencegahan yang bersifat “gerakan massal” — termasuk isolasi paksa dan pengambilan darah paksa — memicu pertanyaan publik tentang motif sebenarnya di balik kebijakan tersebut
EtIndonesia. Pada 10 Agustus 2025, Dinas Pengendalian Penyakit Guangdong mengumumkan bahwa dalam sepekan terakhir terdapat 1.387 kasus baru Chikungunya, sementara pekan sebelumnya terdapat 2.892 kasus baru.
Wabah ini pertama kali muncul di Foshan pada awal Juni, tetapi pihak setempat baru mengumumkan temuan kasus pertama pada 15 Juli. Hingga 29 Juli, total kasus yang diumumkan telah melebihi 6.000. Setelah itu, tidak ada lagi laporan resmi tentang jumlah kumulatif kasus.
Banyak warga mengungkapkan bahwa pemerintah meminta masyarakat mengantri untuk diambil darahnya, bahkan ada petugas yang datang ke rumah-rumah atau membuka pos pengambilan darah di tempat umum.
“Chikungunya adalah penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Tindakan pencegahan utama seharusnya adalah pemberantasan nyamuk pembawa virus. Permintaan untuk mengambil darah dari warga yang mungkin belum menunjukkan gejala, maknanya agak tidak jelas,” ujar dokter spesialis kedokteran integratif dari Taiwan, Jiang Guanyu.
Para ahli menilai metode skrining darah secara massal seperti ini tidak memiliki arti praktis.
Jiang menambahkan: “Ada warga yang benar-benar tidak memiliki gejala dan mungkin sama sekali tidak membawa virus chikungunya. Tapi, setelah darah diambil, bisa saja beberapa detik kemudian dia digigit nyamuk dan menjadi pembawa virus dalam masa inkubasi, atau bahkan segera jatuh sakit.”
Pada 4 Agustus dini hari, di Zhanjiang, Guangdong, petugas setempat masuk ke rumah dua anak saat orang tua mereka tidak ada di rumah, lalu mengambil darah mereka dengan alasan “penelusuran wabah”.
Namun, publik mempertanyakan tujuan sebenarnya dari pengambilan darah tersebut.
“Pengambilan darah paksa dalam skala besar seperti ini kemungkinan bertujuan mempertahankan model keuntungan industri yang terbentuk selama masa pandemi, dengan mengubah sumber daya publik menjadi kekayaan segelintir orang,” ujar aktivis oposisi Foshan, Jiang Peikun.
“Selain itu, sangat mungkin hal ini berkaitan dengan basis data pencocokan organ, yaitu memasukkan golongan darah dan data genetik warga ke dalam bank data tersebut. Ini bukan hanya pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia, tetapi juga pelecehan terhadap etika kehidupan,” pungkasnya. (Hui/asr)
Laporan wartawan NTD TV, Li Yun dan Qiu Yue.


