Pada Selasa (12/8/2025) waktu setempat, Israel meningkatkan serangannya ke Jalur Gaza, menghancurkan sejumlah terowongan bawah tanah milik Hamas. Sementara itu, delegasi perunding Hamas bersiap menuju Kairo, Mesir, untuk melanjutkan pembahasan terkait usulan gencatan senjata 60 hari di Gaza yang diajukan Amerika Serikat.
EtIndonesia. Militer Israel menyatakan bahwa dalam operasi militer di Gaza utara, pasukan mereka menghancurkan jaringan terowongan dan lubang vertikal (shafts) milik Hamas.
Dalam pernyataan resminya, militer Israel menyebut: “Dengan koordinasi Angkatan Udara Israel, sejumlah fasilitas teroris berhasil dihancurkan, termasuk struktur, pos pengamatan, dan lokasi peluncuran yang mengancam pasukan kami. Selain itu, puluhan teroris di wilayah tersebut berhasil dilumpuhkan.”
Belakangan ini, Israel semakin meningkatkan tekanan militer terhadap Hamas. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan bahwa Israel berencana memperluas operasi ke luar Kota Gaza, termasuk ke wilayah yang belum dikuasai pasukan Israel.
Pada Senin malam, Israel juga menyerang basis Hamas di Gaza timur. Menurut otoritas kesehatan setempat, serangan tersebut menewaskan sedikitnya 11 orang.
Sumber yang mengetahui perkembangan ini mengatakan bahwa pada Selasa, delegasi yang dipimpin pejabat senior Hamas, Khalil al-Hayya, berangkat menuju Kairo untuk melanjutkan perundingan mengenai proposal gencatan senjata 60 hari dari AS.
Namun, Israel dan Hamas masih berselisih dalam isu-isu kunci, termasuk tuntutan Israel agar Hamas melucuti senjata dan membebaskan seluruh sandera, sementara Hamas menuntut penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.
Selain itu, militer Israel pada Selasa mengumumkan telah menyerang sekelompok militan yang menyamar sebagai petugas bantuan kemanusiaan di Gaza.
Video yang dirilis militer memperlihatkan sekelompok pria berjaket kuning berdiri di dekat sebuah kendaraan yang disamarkan menyerupai mobil milik organisasi amal “World Central Kitchen”, dengan lima di antaranya membawa senjata.
Militer Israel menegaskan bahwa setelah memastikan kelompok tersebut tidak berhubungan dengan organisasi amal tersebut, mereka langsung melakukan serangan.
Pihak “World Central Kitchen” kemudian merilis pernyataan: “Kami sangat mengecam segala bentuk penyamaran sebagai petugas World Central Kitchen atau pekerja kemanusiaan lainnya, karena hal itu membahayakan warga sipil dan pekerja bantuan.”
Sementara itu, di wilayah Deir Al-Balah, Gaza tengah, banyak warga menerima bantuan kemanusiaan yang dijatuhkan melalui udara.
Namun, Amerika Serikat tidak ikut serta dalam operasi pengiriman bantuan udara tersebut. Pejabat pemerintahan Trump menilai, mengandalkan airdrop untuk memenuhi kebutuhan bantuan warga Gaza tidak realistis dan sangat tidak memadai.
Seorang pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa pemerintah terbuka terhadap “solusi inovatif”, namun tetap berpegang pada prinsip bahwa setiap bentuk bantuan harus dipastikan tidak menguntungkan kelompok teroris Hamas.(Hui/asr)
oleh Zhao Fenghua – NTDTV


