EtIndonesia. Rusia dan Ukraina masing-masing bertukar 84 tahanan pada hari Kamis (14/8), menurut kedua belah pihak. Pertukaran ini merupakan yang terbaru dari serangkaian pertukaran tahanan yang telah membebaskan ratusan tawanan perang sepanjang tahun ini.
Pertukaran tahanan terbaru ini terjadi menjelang pertemuan puncak tingkat tinggi antara Presiden Rusia, Vladimir Putin dan Presiden AS, Donald Trump di Alaska pada hari Jumat.
“Saya kembali ke tanah air. Sejujurnya, saya tidak pernah menyangka ini akan terjadi,” ujar Mykyta Kaliberda, 29 tahun, seorang marinir yang ditukar, kepada AFP.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mengatakan di media sosial bahwa di antara tahanan yang ditukar terdapat “personel militer dan warga sipil”, beberapa di antaranya telah “ditahan oleh Rusia sejak 2014, 2016, dan 2017”.
Dia mengatakan “para pembela Mariupol” juga merupakan bagian dari pertukaran tahanan tersebut, merujuk pada kota pelabuhan Ukraina yang jatuh ke tangan pasukan Rusia pada tahun 2022 setelah pengepungan selama hampir tiga bulan.
“Putra sulung saya ditawan selama tiga tahun, empat bulan, dan dua hari. Syukurlah, kami menunggunya,” kata Tetiana Turkoman, seorang ibu dari seorang tentara yang bertempur di Mariupol, seraya menambahkan bahwa dia “merasa” putranya akan dibebaskan dan memutuskan untuk datang.
“Saya sudah tidak tahu berapa kali saya datang ke pertukaran tawanan, berharap suami saya ada di sana. Artur! Artur Ivanik! Ya Tuhan!” kata Anastasia, memanggil suaminya, Artur, yang dijadwalkan pulang pada hari Kamis.
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan melalui Telegram bahwa Uni Emirat Arab telah memediasi pertukaran tersebut dan bahwa personel Rusia yang dibebaskan menerima “bantuan psikologis dan medis”.
Pertukaran tawanan perang skala besar merupakan satu-satunya hasil nyata dari tiga putaran perundingan damai antara delegasi Rusia dan Ukraina di Istanbul antara bulan Mei dan Juli.
Dalam putaran perundingan terakhir mereka bulan lalu, Rusia dan Ukraina sepakat untuk menukar masing-masing 1.200 tawanan perang.
Seorang negosiator Rusia mengatakan bahwa Moskow juga menawarkan untuk menyerahkan jenazah 3.000 tentara yang tewas kepada Kyiv.(yn)


