EtIndonesia. Sebenarnya, kalimat ini mestinya berbunyi: “Mereka yang tidak pernah kehilangan kampung halamanlah yang malang.” Tapi kalau dipikir-pikir, cara pertama mengatakannya pun ada benarnya.
Bila seseorang tidak pernah meninggalkan kampung halaman, tidak pernah merasakan berbagai rasa yang dibawanya, bukankah itu sama saja dengan tidak punya kampung halaman?
Tinggal terlalu lama di tanah kelahiran, pelan-pelan kamu akan merasa bahwa kampung halaman adalah belenggu, penjara, gunung berapi, rawa yang menenggelamkan, batu besar yang menekan dada, atau tali jerami yang tak bisa diputus bahkan dengan api. Dia bisa menjadi malam-malam panjang tanpa tidur, di mana setiap menit dan detiknya adalah pergulatan. Sementara itu, “tempat jauh” justru tampak seperti musik, tarian, surga, negeri peri, pantai, debur ombak, hembusan angin sepoi, cahaya bulan, gerimis lembut, pelangi, kemabukan indah, keromantisan, kicau burung, hijaunya padang rumput yang luas—bahkan sosok bidadari yang sudah ratusan kali kau temui di dalam mimpi.
Maka, sayap impian yang pernah kau simpan sejak bayi mulai terbentang, ingin mencoba terbang. Kau ingin memutus tali, memecahkan penjara, meninggalkan gunung berapi dan rawa itu. Kau mulai “mengkhianati” pohon kecil tempatmu dulu berteduh, mulai meninggalkan sumur yang telah memberimu air belasan bahkan puluhan tahun lamanya. Kau mulai mengkhianati orang-orang kampung halaman, berniat meninggalkan mereka demi masuk ke dunia yang telah kau rajut ratusan bahkan ribuan kali dalam benakmu. Kau merasa dirimu adalah bagian dari dunia itu, bukan dari tanah kelahiranmu yang sempit.
Hingga pada suatu pagi yang masih remang, kau akhirnya pergi—tanpa menoleh ke belakang. Hanya membawa sebuah ransel kecil, tak ada yang lain. Seolah semua yang ada di sini bukanlah yang kau mau; semua yang kau mau ada di tempat jauh itu, dan sudah menunggumu di sana.
Kau melangkah mantap, seperti seorang pahlawan berangkat perang.
Kampung halaman pun kalah oleh tempat jauh.
Lalu kau menetap di negeri yang jauh itu—sebulan, dua bulan, setahun, dua tahun, lalu dua tahun lagi…
Sampai suatu ketika, kau tak lagi betah. Kau mulai rindu kampung halaman. Kau menyadari, kampung halaman kini terasa jauh sekali. Saat kau berada di sana dulu, tempat jauh tak pernah terasa sejauh ini.
Kau ingin mendekatinya lagi, tapi sudah tak bisa. Bahkan di dalam mimpi pun sulit kau capai.
Kau mencoba merentangkan kembali sayap yang dulu membawamu terbang meninggalkan rumah, ingin kembali dalam semalam saja. Tapi tiba-tiba kau sadar—sayap itu sudah hilang. Kau meraba seluruh tubuh, bahu, lengan, wajah… semua sudah tak sama lagi. Kau bukan lagi dirimu yang dulu.
Kau tak tahu kapan dan bagaimana sayap itu pergi, apalagi kenapa. Tapi sesungguhnya, karena kau terlalu larut dalam godaan tempat jauh yang kini kau tinggali, hingga lupa merawat sayap itu. Dalam kesedihan, sayap itu pulang ke titik awalnya—karena sayap itu hanya milik kampung halaman.
Kau terduduk, menangis. Air mata mengalir, tapi tak ada yang melihat. Tempat jauh membiarkanmu menangis sepuasnya, tapi tidak akan menghapus air matamu.
Berbeda dengan kampung halaman, di mana banyak mata yang selalu memperhatikanmu. Banyak tangan yang terulur untuk mengusap pipimu, bahkan sebelum kau sadar bahwa matamu basah.
Akhirnya kau mengerti rasa kampung halaman, dan juga rasa tempat jauh. Kau tersenyum, merasa dirimu beruntung. Kau menenangkan diri: orang yang malang justru mereka yang belum pernah kehilangan kampung halaman. Sebab, dari arti yang sesungguhnya, mereka belum tahu seperti apa rasanya kampung halaman—kecuali jika mereka juga pernah kehilangannya seperti dirimu.
Kini kau sadar, setiap rumput dan pohon di kampung halaman adalah saudaramu. Memeluk sebatang pohon pun, kau akan tanpa ragu memanggilnya “Ibu”.
Kali ini, tempat jauh kalah oleh kampung halaman.
Kau seperti pengemis yang tiba-tiba mendapat sepotong emas. Pada suatu malam yang sepi, kau berjalan sendirian menuju arah rumah. Kau pikir, kakimu adalah sayapmu sekarang. Kau rela menempuh perjalanan itu, meski mati di jalan pulang sekalipun, rasanya tetap berharga.
Kampung halaman itu seperti istri—mungkin ia lusuh, rambutnya kusut, pakaiannya compang-camping, tapi pada akhirnya ia yang memberimu kehangatan.
Tempat jauh itu seperti kekasih—mungkin dia cantik, bersinar, romantis, dan mempesona, tapi pada akhirnya ia hanyalah mimpi sesaat.(jhn/yn)


