EtIndonesia. Intelijen Barat, khususnya dari negara-negara Eropa dan Israel, meyakini bahwa Iran sedang menjajaki kerja sama dengan Tiongkok untuk memulihkan dan memperkuat kemampuan rudal balistiknya. Langkah ini ditujukan sebagai respons atas kerusakan berat yang dialami fasilitas rudal Iran akibat gelombang serangan udara gabungan AS–Israel dalam setahun terakhir.
Apa yang Dilaporkan
– Berikut fakta teranyar: Newsweek menyebut laporan dari media Israel menyatakan meningkatnya kerja sama militer antara Iran dan Tiongkok, dalam konteks pemulihan program rudal Iran
– Pengiriman bahan kritikal: Versi Wall Street Journal (dipublikasikan Juni 2025) mengonfirmasi bahwa Iran telah memesan ribuan ton ammonium perchlorate dari Tiongkok—komponen penting untuk propelan rudal padat—yang dapat memproduksi hingga 800 peluru kendali. Pengirimannya diperkirakan akan tiba dalam beberapa bulan mendatang, dan STK Amerika telah memberlakukan sanksi terhadap entitas Tiongkok dan Iran yang terlibat
– Gangguan terhadap industri rudal Iran: Serangan udara Israel tahun 2024 melumpuhkan fasilitas produksi propelan; kini Iran bergantung pada pasokan asing untuk mempercepat pemulihan
Mengapa Penting?
- Risiko pelanggaran Embargo PBB: Jika Tiongkok memberikan dukungan teknis atau material militer ke Iran, hal ini bisa melanggar resolusi PBB terkait pelarangan transfer teknologi rudal yang dirancang untuk kemampuan nuklir
- Ketegangan AS–Tiongkok bisa meningkat: Langkah tersebut dipandang sebagai provokasi baru dalam perebutan pengaruh strategis global, khususnya di bawah bayang-bayang konflik yang terus membara di Timur Tengah.
- Ketegangan regional dapat meningkat: Dukungan terhadap Iran memperkuat kemampuan militer Iran dan potensial memperbesar konflik dengan Israel dan sekutu-sekutu Barat.
Respons Israel
Pejabat senior Israel telah menyampaikan peringatan tegas kepada Beijing agar tidak memberikan teknologi, suku cadang, atau fasilitas produksi kepada Iran. Mereka menegaskan, jika Tiongkok benar-benar memfasilitasi program tersebut, dampaknya bisa jadi jauh lebih luas daripada sekadar militer—kemungkinan termasuk sanksi internasional atau penajaman konfrontasi diplomatik.
Konteks Strategis dan Historis
- Gambaran kemampuan rudal Iran saat ini: Program rudal Iran adalah yang paling besar di Timur Tengah, dengan sistem seperti Shahab‑3, Sejjil, Khorramshahr, Ghadr‑110, Haj Qasem, dan Qassem Bassir—semuanya memiliki rentang antara 1.000 hingga lebih dari 2.000 km dan termasuk yang dirancang untuk akurasi tinggi serta kemampuan penetrasi pertahanan canggih
- Teknologi terkini: Pada Mei 2025, Iran menampilkan rudal solid‑fuel “Qassem Bassir” dengan guidance elektro‑optik dan kemampuan evasi, serta kemungkinan pengembangan varian berjangkauan lebih jauh
- Kerusakan akibat operasi Israel: Serangan gabungan Israel–Mossad pada tahun 2024 dan Juni 2025 berhasil merusak produksi propelan dan infrastruktur rudal Iran, termasuk pengeboman fasilitas rahasia, basis peluncuran, dan peluncur mobil SSM (surface-to-surface missiles)
Ringkasan Inti
| Isu | Apa yang Terjadi | Implikasi |
| Kerja Sama Iran–Tiongkok | Iran memesan bahan propelan rudal padat dari Tiongkok untuk pemulihan dan peningkatan kemampuan rudalnya. | Potensi pelanggaran embargo, mempercepat produksi rudal, memperbesar kekuatan militer regional. |
| Serangan Israel Terhadap Iran | Infrastruktur produksi rudal Iran rusak berat di tahun 2024–2025. | Keterbatasan pasokan internal memaksa Iran mencari bantuan eksternal. |
| Reaksi Internasional | Israel memperingatkan Tiongkok agar tidak mendukung Iran; AS mengeluarkan sanksi. | Ketegangan geopolitik antara AS–Tiongkok dan krisis stabilitas regional bisa meningkat. |


