[Biro Intelijen Militer]
Presiden Amerika Serikat Donald Trump pernah mencuit: “Menanggapi pernyataan provokatif mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, saya telah memerintahkan pengerahan dua kapal selam nuklir ke wilayah yang tepat untuk mencegah retorika bodoh dan provokatif seperti itu menjadi lebih dari sekadar buah bibir.” Trump memperingatkan Medvedev bahwa kata-kata itu selain penting juga seringkali memiliki konsekuensi yang tidak diinginkan.
Pernyataan keras Trump terutama merupakan tanggapan atas pernyataan Medvedev sebelumnya: “Setiap ultimatum dari Amerika Serikat kepada Rusia yang menuntut diakhirinya perang merupakan ancaman dan langkah menuju perang.”
Penulis berpikir pernyataan Trump telah menggembirakan banyak orang. Selama 3 tahun perang, Rusia berulang kali memperingatkan Barat bahwa mendukung Ukraina berarti mengharapkan perang meningkat. Kami, Rusia memiliki senjata nuklir. Oleh karena itu kalian sebaiknya berhati-hati, waspadalah terhadap pecahnya perang nuklir.
Ancaman Nuklir Rusia Tidak Manjur di Hadapan Trump
Ancaman nuklir Rusia seperti pepesan kosong telah berulang kali dilontarkan. Bahkan pada awal tahun 2022, Rusia memperingatkan Amerika Serikat: “Jangan mengirim rudal “Patriot” ke Ukraina, jika AS tidak menghendaki peningkatan eskalasi perang dan berisiko untuk konflik dengan Rusia.” Kemudian, AS mengirim rudal “Patriot” dan “HIMARS”, bahkan jet tempur F-16 ke Ukraina. Rusia kembali berseru: “Perbuatan kalian itu berarti NATO dan Rusia akan berperang langsung.”
Kita tahu bahwa pemerintahan AS sebelumnya selalu menggunakan sikap lunak untuk menghadapi retorika provokatif semacam itu. Kali ini, Medvedev “kena batunya”, karena Trump bukan orang yang suka berbasa-basi. Dia pasti berpikir: Kalian mengancam saya dengan perang nuklir, bukan? Saya langsung mengerahkan kapal selam nuklir untuk menunjukkannya kepada kalian. Apa kalian tidak mempertimbangkan seberapa banyak senjata nuklir yang kalian miliki? Kalian masih ingin berperang dengan Amerika Serikat? Anda bilang eskalasi, hari ini juga saya naikkan eskalasinya untuk menunjukkannya kepada Anda, jika Anda berani.
Inilah gaya pemerintahan Trump saat ini. Sejujurnya, banyak orang tidak menyukai Trump, dan banyak yang mempertanyakan hubungannya dengan Rusia. Namun, Trump mungkin satu-satunya yang benar-benar dapat mengendalikan pemerintahan Rusia saat ini. Semua orang telah melihat bahwa kebijakan pemerintahan Biden tidak efektif terhadap Rusia.
Seperti yang terjadi, Rusia tidak lagi bersuara setelah Trump mengeluarkan pernyataannya. Rusia sebenarnya juga tahu: Pertama, Rusia tidak memiliki “modal” untuk berperang dengan NATO. Kedua, Rusia tidak ingin berperang dengan NATO. Dan ketiga, jika perang nuklir pecah, sama saja dengan Rusia menghancurkan diri sendiri.
Penempatan Kapal Selam Nuklir AS dan Pasukan Strategis
Mari kita meninjau masalah ini dari perspektif militer. Amerika Serikat saat ini memiliki kapal selam nuklir ofensif dan kapal selam rudal strategis. Kapal selam nuklir ofensif terutama membawa torpedo dan rudal jelajah Tomahawk, menggunakan senjata konvensional, dan dirancang khusus untuk memburu armada musuh. Namun dalam cuitan Trump tidak disebutkan jenis kapal selam nuklir mana yang dikerahkan.
Yang benar-benar berkemampuan nuklir adalah kapal selam nuklir strategis yang membawa rudal balistik. Amerika Serikat sebelumnya memiliki 18 unit kapal selam kelas Ohio, empat di antaranya diubah menjadi kapal selam rudal jelajah yang dilengkapi dengan ratusan rudal jelajah Tomahawk. Kapal selam ini juga muncul dalam serangan terhadap Iran baru-baru ini, meluncurkan 30 buah rudal jelajah sekaligus terhadap fasilitas nuklir Iran.
Kapal selam nuklir ditempatkan di dua pangkalan di Pantai Timur Amerika Serikat. Salah satunya adalah Pangkalan Kapal Selam Angkatan Laut Bangor di Negara Bagian Washington, yang menampung total 10 unit kapal selam kelas Ohio, termasuk dua kapal selam rudal jelajah, masing-masing adalah USS Ohio dan USS Michigan. Selain itu, terdapat 8 unit kapal selam rudal balistik. Sementara itu, di Pangkalan Angkatan Laut Kings Bay, Negara Bagian Georgia, terdapat 6 unit kapal selam rudal balistik dan 2 unit kapal selam rudal jelajah.
Keberadaan kapal selam nuklir AS sangat dirahasiakan. Tidak hanya tidak diketahui oleh pihak lain, tetapi bahkan oleh Angkatan Laut AS sendiri pun. Pada waktu tertentu, AS biasanya menempatkan 3 hingga 4 unit kapal selam rudal balistik jauh di dalam laut yang memiliki daya penangkalan nuklir yang sangat kuat, sehingga memungkinkan mereka melancarkan serangan balik dari dasar laut ketika daratan AS diserang musuh.
Berat benaman kapal selam kelas Ohio di permukaan air adalah sekitar 16.000 lebih metrik ton, dan dapat mencapai hampir 19.000 metrik ton saat terendam. Kapal selam ini memiliki panjang 170 meter dan menggunakan reaktor air bertekanan S8G dengan dua turbin uap, menghasilkan daya sebesar 60.000 tenaga kuda dengan kecepatan melebihi 30 knot.
Persenjataan utama yang dibawa kapal tersebut adalah 24 unit rudal balistik antarbenua (ICBM) “Trident II” yang diluncurkan dari kapal selam. Setiap ICBM dapat membawa hingga 12 unit hulu ledak nuklir yang dapat ditargetkan secara independen. Secara keseluruhan, satu kapal selam nuklir kelas Ohio ini dapat membawa hampir 300 unit hulu ledak, cukup untuk menghancurkan suatu negara.
Lebih lanjut, rudal balistik “Trident II” yang diluncurkan dari kapal selam memiliki jangkauan 12.000 kilometer. Ini berarti kapal selam ini dapat meluncurkan rudal dari mana saja di dunia, menjangkau kota-kota besar seperti St. Petersburg, Moskow dan lainnya.=
Kapal selam ini juga dilengkapi dengan tabung peluncur torpedo berdiameter 43 sentimeter yang mampu meluncurkan torpedo kelas berat MK-48 dengan jangkauan sekitar 50 kilometer. Torpedo ini mampu menyerang kapal tempur besar seperti kapal induk, kapal penjelajah dan sebagainya.
Setiap kapal selam nuklir dilengkapi dengan 2 tim dengan awak penuh yang terdiri dari 115 orang perwira dan personel tamtama, yang dikenal sebagai “Kru Biru”, dan “Kru Emas” yang melakukan operasi secara bergiliran. Biasanya, siklus pengerahan tempur kapal selam kelas Ohio terdiri dari 70 hari patroli di laut, diikuti dengan 25 hari perawatan dan istirahat awak. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kapal selam nuklir kelas Ohio juga telah melakukan patroli lebih dari 140 hari setahun.
Kemampuan Kapal Selam Nuklir Rusia Jauh di Bawah Amerika Serikat.
Sekarang giliran kita meninjau kekuatan kapal selam nuklir Rusia. Setelah runtuhnya Uni Soviet, ekonomi Rusia yang lemah membuat Angkatan Laut Rusia kekurangan dana. Meskipun demikian, Rusia mempertahankan perkembangan kekuatan kapal selam nuklirnya yang stabil sambil secara bertahap meninggalkan pembangunan kapal perang permukaan, seperti kapal induk dan kapal penjelajah besar. Pembangunan kapal-kapal ini dihentikan setelah runtuhnya Uni Soviet. Kapal perang permukaan yang baru dibangun umumnya berupa fregat dengan berat hanya beberapa ribu ton. Kapal selam nuklir saat ini merupakan kebanggaan terakhir Angkatan Laut Rusia.
Rusia sebelumnya membangun kapal selam nuklir terbesar di dunia, kelas Typhoon. Enam unit kapal selam jenis tersebut sudah selesai dibangun sebelum Uni Soviet runtuh, tetapi kini semuanya telah dinonaktifkan. Kapal selam kelas Typhoon memiliki bobot permukaan sekitar 24.000 metrik ton dan bobot terendam yang mencengangkan, yakni 48.000 metrik ton. Hal ini terutama karena semua kapal selam nuklir Soviet menggunakan desain lambung ganda. Saat terendam, ruang di antara kedua lambung terisi air laut, yang menambah bobot benaman. Bobot benam yang sangat besar ini diibaratkan sebagai akibat dari kebanyakan “lemak palsu”.
Rusia jelas menyadari akan masalah ini. Reputasi sebagai kapal selam terbesar di dunia ternyata mendatangkan biaya perawatan yang sangat besar, tidak sebanding dengan efektivitasnya. Karena itu 3 unit kapal selam kelas Typhoon telah dinonaktifkan pada tahun 1990-an, setelah bertugas hanya selama belasan tahun saja, dan satu unit di antaranya baru dinonaktifkan pada tahun 2023.
Andalan Angkatan Laut Rusia saat ini adalah kapal selam nuklir kelas Borei. Dengan bobot desain 14.000 metrik ton dan bobot terendam 24.000 metrik ton, kapal selam ini juga menggunakan desain lambung ganda, sehingga bobot terendam ini bukanlah indikator yang signifikan.
Kapal selam kelas Borei dapat membawa 16 buah rudal balistik Bulava. Rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam (SLBM) Bulava dikembangkan oleh Rusia setelah runtuhnya Uni Soviet. Rudal ini didasarkan pada rudal balistik antarbenua (ICBM) berbasis darat Topol. Jangkauannya mencapai 8.000 kilometer dan dapat membawa 6 hingga 10 buah hulu ledak. Dua tahap pertama dari propelannya menggunakan bahan bakar padat, sedangkan tahap ketiga menggunakan propelan berbahan bakar cair.
Rudal yang mulai dikembangkan pada akhir 1990-an ini baru secara resmi dioperasikan oleh Angkatan Laut Rusia pada tahun 2018 setelah 4 kali uji coba peluncuran, sebuah proses yang memakan waktu hampir 20 tahun. Sepanjang pengembangannya, program verifikasi penerbangan rudal tersebut dipenuhi dengan berbagai masalah.
Dari awal pengembangan hingga 2009, 6 dari 13 kali uji terbang dan satu kegagalan selama uji darat mengakibatkan pengunduran diri kepala perancang rudal, Yury Solomonov pada tahun 2009. Solomonov menyebutkan kualitas material yang buruk sebagai penyebab utama kegagalan ini. Dengan kata lain, ia yakin desain keseluruhan rudal tersebut sempurna, tetapi banyak komponen di bawah standar ditemukan selama proses pembuatan. Lebih lanjut, beberapa pengujian melibatkan pemalsuan data atau manipulasi hasil, yang mengakibatkan masalah kinerja rudal secara keseluruhan.
Dari gambaran di atas kita dapat mengetahui bahwa meskipun kelas Borei merupakan kapal selam rudal balistik tercanggih Rusia saat ini yang memiliki bobot benaman lebih besar, tetapi membawa lebih sedikit rudal dengan jangkauannya yang juga lebih pendek, dan lebih sedikit hulu ledak yang dibawa masing-masing rudal. Setiap kapal selam kelas Borei hanya dapat membawa maksimal 160 buah hulu ledak nuklir, kira-kira setengah dari jumlah kelas Ohio AS.
Hingga sekarang, Angkatan Laut Rusia sudah mengoperasikan 8 unit kapal selam kelas Borei, sementara 4 unit kapal selam sejenis ini masih sedang dibangun.
Kekuatan kapal selam rudal balistik Rusia jauh lebih rendah daripada kapal selam nuklir AS dalam hal kuantitas, kualitas, dan jangkauan. Mungkin kesenjangan yang lebih besar antara kedua negara ini terletak pada sistem intersepsi rudal.
Sistem Pertahanan Rudal dan Pencegahan Perang Nuklir
Sistem pertahanan udara tercanggih Rusia saat ini adalah S-400, yang telah banyak digunakan di medan perang Ukraina. Namun, kita tahu bahwa S-400 malah menjadi target serangan Ukraina kali ini. Ukraina dapat dengan mudah menghancurkan S-400 menggunakan rudal jelajah Storm Shadow dan Rudal Taktis Angkatan Darat ATACMS yang dipasok oleh AS.
Dari rekaman video di medan perang Donbas tahun 2024 terlihat bahwa militer Ukraina meluncurkan Rudal Taktis Angkatan Darat terhadap posisi pertahanan udara S-400 Rusia. Pada saat itu kendaraan peluncur rudal Rusia juga melesatkan beberapa rudal pertahanan udara dalam upayanya untuk mencegat. Beberapa detik setelah satu hingga 4 rudal Rusia ini diluncurkan ke udara, Rudal Taktis Angkatan Darat Ukraina meledak setelah mencapai posisi tersebut, melepaskan sejumlah besar submunisi yang langsung menyelimuti seluruh pangkalan peluncuran. Asap tebal mengepul di lokasi, dan ledakan langsung meluas. Beberapa peluncur rudal S-400, kendaraan radar, serta kendaraan komunikasi dan komando Rusia hancur total. Rekaman drone bahkan memperlihatkan kepulan asap tebal dari beberapa peluncur Rusia.
Dari rekaman pasca serangan Rudal Taktis Angkatan Darat Ukraina terlihat, kendaraan peluncur rudal Rusia mengalami rusak berat. Bahkan menyebabkan rudal yang belum diluncurkan pun meledak sendiri ditempat, menghancurkan sepenuhnya sistem pertahanan udara S-400 Rusia. Tanah menjadi porak-poranda dipenuhi oleh bagian-bagian yang terbakar dan puing-puing yang berserakan.
Perlu dicatat bahwa Rudal Taktis Angkatan Darat yang digunakan Ukraina adalah rudal balistik dengan kemampuan yang terlemah di stok gudang senjata AS, dengan jangkauan yang hanya 180 kilometer, sementara versi yang ditingkatkan memiliki jangkauan 300 kilometer, dan kecepatan terminalnya hanya Mach 2 hingga 3.
Angkatan Darat AS telah mulai menghentikan Rudal Taktis Angkatan Darat dan menggantinya dengan yang baru, dan mengembangkan Rudal Serang Presisi (PrSM). Rudal Taktis Angkatan Darat hanyalah rudal balistik jarak pendek. AS juga memiliki sejumlah besar rudal balistik jarak jauh, seperti seri Trident, yang dapat mencapai kecepatan Mach 20 dan bahkan pada saat ini masih sulit dicegat.
AS memiliki sistem THAAD dan Patriot yang lebih canggih, dan Angkatan Laut AS juga memiliki rudal pertahanan udara Standard Missile-3, yang masing-masing berharga lebih dari puluhan juta dolar. Senjata-senjata ini telah terbukti efektif digunakan di medan perang Israel-Timur Tengah dan Ukraina selama beberapa tahun terakhir. Misalnya, rudal Patriot menembak jatuh rudal hipersonik Rusia “Zircon” dan “Dagger” di Kyiv.
Selama setahun terakhir, Rusia telah meninggalkan penggunaan rudal hipersonik yang mahal ini untuk menyerang Ukraina, dan beralih ke serangan saturasi di kota-kota Ukraina dengan menggunakan ratusan drone murah. Hal ini karena Rusia menyadari bahwa meskipun beberapa rudal hipersonik tidak dapat menembus intersepsi Patriot, tetapi dengan 300 buah drone yang terbang sekaligus untuk melakukan penyerangan jangan-jangan masih berpotensi menunjukkan kinerjanya.
Di Timur Tengah, dua rudal AS Sistem Patriot yang dikerahkan di Qatar baru saja mencegat lebih dari selusin rudal balistik Iran yang diluncurkan ke pangkalan AS. Video langka ini menunjukkan hampir 20 buah rudal Patriot diluncurkan hanya dalam beberapa detik. Sistem Patriot terlihat jelas berhasil mencegat rudal balistik Iran di ketinggian langit malam. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pertahanan udara AS memiliki tingkat keberhasilan intersepsi yang sangat baik terhadap senjata Iran dan Rusia.
Tak seorang pun di dunia ini menghendaki perang nuklir terjadi, karena tidak ada yang akan menjadi pemenang. Namun, negara mana pun yang menantang perang nuklir dengan Amerika Serikat pada saat ini, dipastikan akan menjadi pecundang. Itu dikarenakan Amerika Serikat memiliki kekuatan serang nuklir terkuat di dunia. Satu kapal selam nuklir kelas Ohio saja dapat melenyapkan seluruh negara. Amerika Serikat juga memiliki sistem intersepsi rudal terkuat di dunia. Meskipun tidak dapat mencegat setiap hulu ledak nuklir, namun sistem ini cukup mampu menjamin keamanan sebagian besar wilayahnya.
Sebelumnya, Rusia telah berulang kali mengancam akan menggunakan senjata nuklir, tetapi mulai diam setelah Trump mengumumkan pengerahan kapal selam nuklirnya. Tentu saja Rusia menyadari bahwa itu kan hanya gertakan sambal. Kalau perang nuklir benar-benar pecah, Rusia juga akan kehilangan segalanya. (***)


