EtIndonesia. Data ekonomi terbaru Tiongkok menunjukkan bahwa pada Juli sejumlah indikator utama semakin melambat. Tekanan tarif serta dampak dari penindakan Beijing terhadap praktik “perang harga” yang tidak sehat semakin memperburuk keadaan.
Biro Statistik Nasional Partai Komunis Tiongkok (PKT) pada 15 Agustus merilis data: nilai tambah industri pada Juli tumbuh 5,7% dibanding tahun sebelumnya, menjadi yang terendah sejak November lalu; penjualan ritel hanya naik 3,7%, terendah tahun ini dan turun cukup jauh dari 4,8% pada Juni. Investasi aset tetap selama tujuh bulan pertama tahun ini hanya naik 1,6% (year-on-year), dengan laju pertumbuhan yang terus melambat. Sementara itu, pasar properti tetap lesu dengan harga rumah turun dan aktivitas konstruksi menyusut.
Tingkat pengangguran perkotaan naik menjadi 5,2% pada Juli, dari 5,0% pada Juni, lebih tinggi dari perkiraan. Analisis menunjukkan jutaan lulusan baru memasuki pasar tenaga kerja yang sedang melemah, sehingga menambah tekanan ketenagakerjaan.
Menurut Bloomberg, Homin Lee, Senior Macro Strategist di Lombard Odier (Singapura), mengatakan bahwa penurunan yang terkait tarif sudah mulai terlihat. Permintaan dan pasokan sama-sama melemah, dan hal ini bisa mendorong adanya penyesuaian kebijakan di pertengahan tahun.
Setelah data dirilis, nilai tukar yuan luar negeri relatif stabil, imbal hasil obligasi pemerintah Tiongkok bertenor 10 tahun sedikit menurun. Indeks Hang Seng China Enterprises sempat turun 1,5%, sementara indeks CSI 300 naik tipis 0,5%.
Jacqueline Rong, Kepala Ekonom BNP Paribas untuk Tiongkok, mengatakan investasi di sektor manufaktur, properti, dan infrastruktur semuanya turun pada Juli—sebuah fenomena yang “sangat jarang terjadi.” Jika data Agustus tetap lemah, pembuat kebijakan kemungkinan akan mengeluarkan langkah dukungan tambahan pada akhir September atau awal Oktober, namun skalanya mungkin lebih kecil dibanding tahun lalu.
Ding Shuang, analis Standard Chartered Bank, menilai para pejabat bisa memperluas program “penggantian barang lama dengan baru,” meliputi lebih banyak produk bahkan jasa, guna meredam perlambatan ekonomi.
Menurutnya, pemerintah akan menyiapkan langkah darurat untuk mencegah penurunan lebih lanjut.
“Data ini seharusnya menjadi alarm bagi para pembuat kebijakan, tetapi mereka kemungkinan tidak akan mengubah arah hanya karena data satu bulan. Investasi tetap menjadi faktor penghambat utama,” ujarnya.
Sejak awal tahun, Beijing tetap berhati-hati dalam kebijakan fiskal, tidak meluncurkan stimulus besar-besaran, melainkan hanya memberikan subsidi pinjaman konsumsi, subsidi pengasuhan anak, serta pengurangan biaya pendidikan prasekolah.
Rapat Politbiro pada Juli berjanji melaksanakan kebijakan yang sudah ada, termasuk program “penggantian barang lama dengan baru” dan dukungan finansial untuk sektor jasa.
Di bidang perdagangan, meskipun AS dan Tiongkok sepakat memperpanjang gencatan dagang selama 90 hari, tarif rata-rata AS terhadap barang impor asal Tiongkok tetap tinggi di angka 43,5%. Bahkan, AS berencana mengenakan tarif tambahan atas produk Tiongkok yang dialihkan melalui negara ketiga.
Xiaojia Zhi, Kepala Ekonom Tiongkok Crédit Agricole CIB (Hong Kong), memperingatkan bahwa dalam beberapa bulan mendatang perlambatan ekonomi mungkin akan semakin cepat. (Hui/asr)
Sumber : NTDTV.com


