oleh Jiutian Jian
Negeri Shu (Sichuan) Sudah Kacau Sementara Bawah Langit (Tiongkok) Masih Tenang, Negeri Shu Belum Damai Sementara Bawah Langit Sudah Tenteram
Kutipan terkenal di atas berasal dari seorang Jinshi (sarjana kekaisaran) bernama Ouyang Zhi di akhir Dinasti Ming, dalam bukunya “Pemberontakan di Negeri Shu (kini wilayah Sichuan),” yang selama berabad-abad telah menunjukkan kebenarannya, yaitu banyak peristiwa yang terjadi di Sichuan memiliki dampak yang besar terhadap situasi “di bawah langit” (Tiongkok), bahkan sampai memengaruhi pergantian dinasti / rezim.
Sejarah mencatat bahwa sejak Dinasti Qin menyatukan Tiongkok, Cekungan Sichuan, yang dikenal sebagai “Tanah Kelimpahan,” pernah sampai 14 kali dikuasai oleh rezim separatis, ratusan kali pemberontakan yang dilakukan oleh pejabat sipil kerajaan, panglima perang. Tokoh-tokoh tersebut antara lain Gongsun Shu pada akhir Dinasti Han Barat, Liu Bei pada akhir Dinasti Han Timur, Li Te pada akhir Dinasti Jin Barat, Meng Zhixiang pada akhir Dinasti Tang, Ming Yuzhen pada akhir Dinasti Yuan, dan Zhang Xianzhong yang kejam pada akhir Dinasti Ming.
“Gerakan Perlindungan Kereta Api” yang terjadi pada tahun 1911, masa akhir Dinasti Qing, secara langsung memicu Revolusi Xinhai. Pemerintah Qing tidak menyangka bahwa menekan pemberontakan justru memicu pemberontakan, yang pada akhirnya menyebabkan jatuhnya Dinasti Qing dan lahirnya Republik Tiongkok.
Pada 4 Agustus, sebuah insiden perundungan di Kota Jiangyou, Mianyang, Sichuan, menarik perhatian luas di dunia maya, menjadi contoh terbaru dari perlawanan rakyat yang dipicu oleh kebijakan sesat PKT yang menghukum kebaikan dan mendukung kejahatan.
Gadis berusia 14 tahun bernama Lai Jinghan dibujuk untuk masuk ke sebuah gedung terbengkalai oleh teman-teman sekolahnya Liu Xiyang (15 tahun), Peng Yongning (14 tahun), dan Liu Shiyu (13 tahun). Di sana ia dipukuli secara brutal selama 4 jam. Sebuah video yang diunggah oleh seorang wanita kaki tangan, George Yue, yang terekam di tempat kejadian perkara menunjukkan para gadis tersebut bergantian menampar wajah Lai Jinghan, memaksanya berlutut, menarik rambutnya, menendang kepala, wajah, dada, perut, dan punggungnya, memukulinya dengan tongkat, bahkan memaksa Lai menanggalkan pakaian dan mempermalukannya. Kabarnya bahwa uang sebesar 4.000 yuan lebih dari dana subsidi kemiskinan sebesar 7.000 yuan milik Lai telah dirampas bersama sebuah ponselnya …
Para preman remaja yang melakukan perundungan tidak peduli dengan bukti yang ditinggalkan. Ketika Lai mengatakan ia akan menelepon polisi, mereka malah dengan nada menantang menyebutkan bahwa mereka tidak takut dilaporkan ke polisi, karena sudah “sering masuk kantor polisi” dan paling-paling 20 menit setiap kali ditahan. Ungkapan mereka menyiratkan bahwa tidak ada gunanya Lai melapor ke polisi karena mereka sudah menjadi pelanggan polisi.
Tidak disangka bahwa fakta terjadi sebagaimana yang para perundung remaja itu katakan.
Lai Jinghan dan keluarganya melaporkan kejadian perampokan tersebut ke kantor polisi pada 22 Juli, tetapi diabaikan.
Ayah Lai yang difabel juga ibu yang tuna rungu, dan pamannya baru menerima pemberitahuan dari polisi pada 4 Agustus pagi, yang isinya selain tidak menyinggung masalah “perampokan” dan penyerangan berat yang dialami korban pelapor, malahan mengklasifikasikan kejadian tersebut sebagai kasus provokatif yang dapat mengganggu ketertiban umum, dengan dalih hasil penyelidikan pihak berwenang.
Dengan kata lain, uang 4.000 yuan lebih beserta ponsel yang dirampas itu bukanlah kasus perampokan, dan penyerangan serta cedera yang dialami korban juga bukan kasus cedera atas perbuatan orang lain.
Yang lebih membuat marah adalah seseorang memfilmkan pelaku perundungan sedang bermain biliar di ruang biliar usai kejadian, tampak menikmati uang hasil merampas dari Lai.
Yang memicu kemarahan luas di dunia maya adalah “Polisi Rakyat Jiangyou”: mereka hanya menjatuhkan hukuman administratif, bukan pidana atas pelanggaran keamanan publik terhadap 2 orang pelaku perundungan yang sudah berusia di atas 14 tahun. Tindakan yang melanggar hukum dan jelas bias ini langsung membuat marah masyarakat Tiongkok dan bergema di seluruh dunia. Peristiwa ini diliput secara luas oleh media-media besar luar negeri dan platform daring, yang langsung memberikan tekanan besar kepada para petinggi PKT yang sedang asyik menikmati liburan laut di Beidaihe.
Dalam siaran langsung, pada 4 Agustus pukul 12.00 siang, Lai Jinghan pergi ke Pemerintah Kota Jiangyou untuk memohon keadilan, dan menerima dukungan luar biasa dari para mahasiswa dan warga. Pukul 14.30, semua orang geram ketika menyaksikan orang tua Lai Jinghan berlutut di hadapan Fu Shoujun, Wakil Sekretaris Komisi Urusan Politik dan Hukum Jiangyou.
Ribuan orang berkumpul di persimpangan jalan utama di Kota Jiangyou. Polisi dan pasukan khusus didatangkan, blokade jalan mulai dipasang, tetapi para pengunjuk rasa tetap menerobos blokade, bahkan terdengar sebagian besar dari mereka menyanyikan lagu kebangsaan “Mars Para Sukarelawan” yang liriknya: Bangkit! Wahai kalian yang tak sudi diperbudak! Dengan darah dan daging kita, bangun Tembok Besar kita yang baru! Bangsa Tionghoa telah sampai pada masa tergentingnya……. Sementara yang lain meneriakkan slogan-slogan seperti “Kembalikan demokrasi kami,” “Kembalikan kebenaran kepada anak-anak kami,” dan “Hukum berat para penjahat.” Warga juga berkumpul di pintu masuk kompleks perumahan tempat para perundung tinggal, meletakkan karangan bunga sebagai bentuk protes.
Sejumlah otoritas PKT langsung panik. Liang Xiaohui, kepala Biro Keamanan Publik Mianyang dengan cepat mengerahkan sejumlah besar pasukan khusus dari Kota Mianyang untuk membantu polisi Jiangyou membubarkan para pengunjuk rasa dengan kekerasan. Setelah melihat bahwa situasi belum kondusif, masyarakat Sichuan belum puas dengan tindakan yang diambil kepolisian, pada 5 Agustus, wakil kepala Biro Keamanan Publik Jiangyou, Chen Zhen memerintahkan polisi untuk menembakkan gas air mata dan granat kejut, menyerbu kerumunan dengan tongkat, dan menggunakan semprotan merica untuk membubarkan kerumunan dan melakukan penangkapan tanpa pandang bulu. Diduga ada polisi yang menggunakan peluru tajam di tempat kejadian, sehingga laporan daring menunjukkan bahwa 11 orang tewas.
Para pengunjuk rasa yang berani mengubah slogan, mereka meneriakkan: “Partai Komunis, mundur!” dan “Xi Jinping, mundur!”
Adegan yang “awalnya merupakan insiden perundungan terhadap anak di bawah umur, kemudian berubah menjadi perundungan terhadap orang dewasa” ini terasa tidak berbeda dengan adegan “jutaan warga Hongkong turun ke jalan untuk memprotes RUU Ekstradisi tahun 2019, menyampaikan tuntutan mereka secara damai, tetapi kemudian ditindas oleh gabungan polisi Hongkong, anggota Partai Komunis, dan triad.”
Tetapi adegan di Kota Jiangyou tidak jauh berbeda, meski Hongkong kini sudah berhasil dikuasai PKT.
Secara teori, banyak masalah dapat diselesaikan secara damai untuk menghindari situasi berubah menjadi buruk. Bukan berarti para penguasa tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal ini. Namun, ketergantungan mereka terhadap senjata api telah menghalangi mereka mengembangkan pola pikir yang teoritis dan kebiasaan enggan mengalah terhadap rakyat.
Tidakkah mereka memahami prinsip “Di antara dua pilihan yang tidak menguntungkan, pilihlah yang paling tidak merugikan”? Namun, pemikiran inersia mereka membuat mereka bereaksi dengan “penindasan dulu bicara kemudian.” Soal konsekuensinya, apa yang perlu ditakutkan dari sistem satu partai? Hal ini tidak berbeda dengan apa yang dipikirkan oleh para gangster kecil yang melakukan perundungan terhadap gadis Lai.
Para pejabat lokal semakin panik karena “Chengdu 2025 World Games” yang dibuka pada 7 Agustus sudah semakin dekat. Menghadapi acara besar ini, mereka harus dengan keras menekan massa yang tak terkendali.
Sesungguhnya kasus perundungan yang dihadapi anak gadis tanpa koneksi ini tidak sulit jika ditangani secara bijak agar tidak memburuk menjadi kasus yang malah lebih sulit diatasi oleh pihak berwenang.
Namun, apakah karena “otak ada di dengkul”, sehingga kesombongan dapat mengungguli panasnya kobaran api kemarahan rakyat, entahlah.
Sebuah kejadian kecil di tingkat kabupaten yang semestinya tidak sulit untuk diatasi sendiri oleh keamanan Jiangyou, malahan digagalkan, dibuat semakin rumit oleh Partai Komunis Tingkat Mianyang.
Poin utamanya adalah warga Jiangyou yang geram mengeluarkan deklarasi yang secara langsung menuduh polisi secara sistematis melindungi para perundung.
Deklarasi tersebut menyatakan bahwa perundungan di Jiangyou jauh lebih dari sekadar satu insiden, dan kali ini, masyarakat tidak akan menoleransinya! Orang tua gadis itu tidak berdaya, tetapi mereka memiliki dukungan dari warga Jiangyou. Ini adalah konfrontasi antara penguasa negara dan pelayan-pelayan mereka yang berkhianat.
Ketika polisi melihat bahwa publik akan meningkatkan konfrontasi mereka dengan sistem, mereka segera menenangkan situasi, mengumumkan bahwa gadis perundung dan orang tua mereka telah meminta maaf kepada korban.
Pertanyaannya, di mana video permintaan maafnya? Mengapa mereka tidak berani merilisnya? Di mana ketulusan? Rakyat Tiongkok tidak lagi mau tertipu oleh omong kosong penguasa.
Yang jelas bahwa gadis-gadis pelaku perudungan itu kurang mendapat pendidikan keluarga, tega dengan perbuatan yang melukai sesama murud sekolah, tetapi sedikit pun tidak ada perasaan sesal dan minta maaf.
Meskipun warga Tiongkok asal Sichuan doyan makan masakan pedas, yang mungkin lebih emosional, tetapi tetap bijaksana, bukan?
Jika para pelaku meminta maaf secara terbuka dan bersedia memberikan kompensasi kepada korban, rasanya tidak ada alasan sampai puluhan ribu orang turun ke jalan untuk berunjuk rasa. Kekacauan yang muncul ini semua adalah akibat dari kesalahan polisi Jiangyou dalam menangani masalah.
Beredar rumor di internet bahwa salah satu gadis pelaku perundungan yang bernama Jiang Xiaojuan adalah putri kedua dari wakil direktur Biro Keamanan Publik Jiangyou. Sementara ada netizen yang mengklaim bahwa gadis perundung lainnya adalah putri seorang pejabat dari Komisi Urusan Politik dan Hukum Provinsi Sichuan. Jadi jika hal itu benar maka tidak heran mereka mendapat perlindungan. Meskipun polisi Mianyang membantah rumor tersebut pada 5 Agustus, apakah masyarakat Tiongkok mempercayainya? Jika para pelaku tidak memiliki koneksi, akankah mereka lolos begitu saja dari jeratan hukum?
Jangan-jangan ketiga gadis pelaku perundungan itu sudah dihukum berat jika saja Lai Jinghan adalah putri dari wakil direktur Biro Keamanan Publik Jiangyou.
Laporan polisi yang menyatakan bahwa luka Lai Jinghan ringan merupakan penghinaan terhadap kecerdasan rakyat Tiongkok. “Jika putri Anda yang dipukuli selama 4 jam, apakah Anda masih berkata demikian?”
Mari kita tinjau konsekuensi dari kasus perundungan terhadap mahasiswa asal Tiongkok di AS yang sering terlupakan ini.
Pada 17 Februari 2016, 3 orang mahasiswa asal Tiongkok yang belajar di California dijatuhi hukuman penjara oleh pengadilan AS antara 6 hingga 13 tahun. Pengadilan menjatuhkan hukuman kepada para pelaku, Zhai Yunyao, Zhang Xinlei, dan Yang Yuhan, masing-masing 13, 6, dan 10 tahun penjara, atas tindakan penculikan, penganiayaan fisik berat, dan penyerangan. Salain itu, mereka akan dideportasi ke Tiongkok usai menjalani hukuman.
Para pelaku masing-masing melakukan penyiksaan terhadap 2 orang mahasiswi asal Tiongkok, berusia 16 dan 18 tahun, dengan cara memaksa mereka telanjang, membakar puting mereka dengan puntung rokok, menampar mereka, dan mencukur rambut mereka. Korban berusia 18 tahun itu diculik ke sebuah taman dan disiksa selama 5 jam.
Dakwaan penyiksaan lainnya, dakwaan terberat dalam dakwaan tersebut, memiliki hukuman maksimal penjara seumur hidup berdasarkan hukum Negara Bagian California. Akhirnya, karena para terdakwa meminta maaf di pengadilan, mengakui kesalahan mereka, dan menolak banding, jaksa penuntut setuju untuk membatalkan dakwaan penyiksaan.
Kedua kasus perundungan ini sangat mirip. Namun, arogansi kekuasaan yang terus-menerus mengundang perlawanan rakyat terhadap Partai Komunis Tiongkok.
Sebelum Olimpiade tahun 2008, Li Shufen, seorang siswi SMP Weng’an No.3 di Guizhou yang berusia 16 tahun diperkosa, dibunuh, dan dibuang ke sungai oleh gerombolan preman yang merupakan generasi kedua pejabat PKT. Hal ini memicu protes oleh 6.000 orang warga di Weng’an, termasuk pembakaran gedung pemerintah daerah.
Pada Januari 2022, seorang perempuan yang dirantai di Kabupaten Fengxian, Provinsi Jiangsu, yang diculik, diperkosa, dan melahirkan 8 orang anak selama satu dekade, diidentifikasi secara daring sebagai Li Ying, seorang gadis remaja berusia 12 tahun yang diculik di Nanchong, Sichuan pada tahun 1996. Kejahatan keji yang dilakukan oleh pejabat Partai Komunis Tiongkok dan para gangster yang berkolusi untuk memperdagangkan orang dan melecehkan gadis-gadis di bawah umur telah menuai kecaman keras dari rakyat Tiongkok dan dunia.
Saat ini, Tiongkok di bawah kekuasaan PKT diselimuti oleh tiga energi negatif: permusuhan, pembunuhan, dan kejahatan, terutama di kalangan anak-anak.
Situs web Tiongkok daratan dibanjiri dengan gambar-gambar mengerikan: siswa sekolah dasar yang membawa bom dalam ransel di punggungnya, siap binasa bersama musuh-musuh imajiner mereka.
Banyak siswa sekolah dasar dan menengah, setelah dipaksa menonton film “Studio Foto Nanjing,” dari mata mereka terpancar kilatan mengerikan dan mematikan.
Juni tahun lalu, preman Anhui menyerang sebuah bus sekolah Jepang di Suzhou, yang mengakibatkan kematian seorang karyawan Tiongkok bernama Hu Youping.
Pada Juli tahun ini, juga terjadi di Suzhou, seorang ibu dan anak Jepang diserang dan dilukai oleh para preman di stasiun kereta bawah tanah.
Maret tahun lalu, tiga siswa SMP berusia 13 tahun di Handan merundung dan mengubur hidup-hidup teman sekelas mereka, Xiaoguang yang juga berusia 13 tahun!
Pada 4 Agustus pukul 22.00, seorang gadis asal Tiongkok berusia 14 tahun ditikam beberapa kali di dada dengan pisau dapur oleh teman sekamarnya, seorang gadis juga asal Tiongkok berusia 13 tahun yang sama-sama tinggal di Newcastle, New South Wales, Australia. Keduanya adalah siswa pertukaran pelajar dan belum pernah bertemu sebelumnya. Lagi-lagi menjadi pembunuh di usia 13 tahun! Dan sama juga seorang gadis! Sedalam apa sih dendam mereka, sampai-sampai kehilangan toleransi?!
Saya bertanya-tanya, apakah jiwa-jiwa muda ini, yang diselimuti aura membunuh ini masih terperangkap dalam daging yang membawa peradaban bangsa Tionghoa yang berusia 5.000 tahun?
Yang mengerikan adalah, mereka memang benar adalah anak-anak yang dilahirkan di Tiongkok. sepertinya tidak perlu diragukan lagi bahwa Partai Komunis Tiongkok memang ingin menghancurkan keturunan rakyat Tiongkok. (***)


